Ada apa dengan Indonesia? (1)
Oleh : Fathan Faris Saputro
Ada banyak kata, ada banyak cerita, dan ada lebih dari jutaan harapan bagi negeri ini, Indonesia. Yang kata Oppenheimer adalah mantan induk perdaban termaju, Atlantis namanya. Apakah benar Indonesia adalah atlantis? Ah, bukan tugas kita menjabarkannya. Tugas kita adalah berkarya, untuk ‘Izzah Muslimin yang menjejakkan kaki di atas kepulauan raksasa ini.
Bagi kawan yang belum benar-benar mengenal negeri kita sendiri, mari kita mengenalnya lebih dalam. Indonesia, negeri zamrud ini disebut warga dunia sebagai Negara kepulauan terbesar dan lautan terluas di dunia. Jumlah pulaunya tak tanggung-tanggung, ada 17.504 pulau, itu sudah termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau tak berpenghuni.
Ada lebih dari 740 suku bangsa yang menganyam harapan hidup di negeri besar yang pertama kali merdeka setelah perang dunia II ini. Sekali lagi, terbanyak di dunia. Wajar saja para negarawan dunia begeleng kepala menyaksikan rakyat negeri ini begitu tumpah ruah berbeda, tetapi nuraninya bicara persatuan.
Kekayaan Indonesia
Sudah cukup? Agar kita dapat menerka lebih dalam lagi, mari kita eksplorasi kekayaanya. Hari ini, negeri ini adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. Jenis terumbu karang di Indonesia adalah 18% dari total seluruh tumbuh karang yang ada di dunia. Jika Arab Saudi punya minyak saja dan mereka meraja: jika Turki punya wisata yang banyak dan mereka kaya Indonesia punya lebih dari itu. Indonesia punya semua elemen-elemen kekayaan, dan sebenarnya negeri ini beserta rakyatnya adalah yang paling kaya.
“Apakah kelemahan kita?” begitu Bung Karno berorasi saat Hari Ulang Tahun RI tahun 1966, “Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri sebagai bangsa sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri. Kita kurang memercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah rakyat gotong royong.”
Ada Tanda Tanya Besar (?)
Ada tanda Tanya besar yang belum dipecahkan hingga kini. Ketika India bangkit dan hari ini membuat kapal selam juga mengorbitkan pesawat ruang angksanya. Indonesia masih berjibaku dengan serangkaian kasus korupsi dan krisis moril, padahal keduanya memulai dari waktu yang sama. Bahkan, ketika dulu India sedang sakit, Indonesialah yang mengekspor berton-ton beras untuknya.
Ada tanda Tanya besar. Ketika hari ini Malaysia bangkit dan menyuarakan pembaharuan, juga memulai modernisasi pendidikan yang futuristik, Indonesia masih disibukkan dengan serumpun onak berduri untuk menuju pendidikan layak bagi setiap warga Negara.
Ada tanda Tanya besar. Hari ini Korea Selatan begitu gencar meriset teknologi perang dan terus memperbarui kualitas angkatan bersenjatanya. Di saat yang sama, Indonesia makin kehilangan giginya di kancah militer kawasan pasifik dan Oseania. Lagi-lagi kita memakai kata “padahal”. Ya, padahal dulu negeri ini begitu disegani dengan gelar macan Asia yang sukses melempar mundur pemenang perang Dunia II dari Medan Surabaya. Asia bergetar!
Indonesia Menatap Masa Depan
Di utara, Tiongkok sedang mempersiapkan agenda besar mengalahkan Amerika sebagai raja ekonomi dunia, tinggal beberapa langkah menuju gelar raksasa ekonomi 2020. Di dekat Aceh, Singapura terus menambah luas daratannya, membeli pasir dari Batam dan menyulap lautan menjadi tempat berpijak. Kesiagaan mereka berbuah aneka penghargaan. Changi Airport begitu melegenda, Singapura City begitu padat dengan gedung-gedung futuristiknya.
Di sebelah selatan, Australia terus menghimpit dan bermain-main di perairan Indonesia. Dengan semaunya melakukan penyadapan, meremehkan kekuatan militer Indonesia. Di baratnya, negeri-negeri Timur Tengah hanya dengan satu sumber daya minyak, berhasil menggeser dominasi ekonomi Uni Eropa. Mereka membeli klub-klub liga primier, membangun Burj Dubai yang berates meter tingginya, dan menyulap air laut menjadi minuman pelepas dahaga.
Pada saat yang sama, ketika pemuda-pemudi Tiongkok sibuk merakit handphone dan laptop sebagi industry rumahan: ketika remaja Zionis Israel berkopetisi menjadi doctor di usia yang semuda mungkin: dan ketika anak-anak jepang membuat robot-robot untuk melengkapi tugas sekolah mereka sebelum libur dengan sinetron khayal yang bercerita tentang pendekar menaiki naga yang menyemburkan api. Lalu dilanjutkan dengan berbagi kontes dari jam tujuh sampai larut malam.
Ada apa dengan Indonesia?
Belum lama ini, sebuah riset menggambarkan secara gamblang keadaan rohani Indonesia kita. Dari sekian ratus juta warga Muslimin yang hidup di Negara tertua ke-70 sedunia ini, yang bisa membaca Al-Qur’an dengan baik hanya ada 35 persen dari total keseluruahan. Angka yang pilu, hanya segelintir di antara ratusan juta Muslimin yang hidup di bumi Indonesia.
Angka kesimpulan yang satu ini juga sudah merebak. Indonesia yang besar ini hanya memiliki sumber daya entrepreneur sebesar 1,65 persen, kalah berkali lipat dengan Amerika Serikat yang sampai 13 persen. Kesadaran membaca anak-anak juga masyarakat masih lebih lemah disbanding negeri tetangga. Jumlah penghafal Al-Qur’an di Indonesia ada sekitar 40.000, masih jauh disbanding dengan 185 juta rakyat Muslim lainnya.
Bersambung
*) Penulis adalah pegiat literasi dan juga mahasiswa Program Studi Ilmu pendidikan Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Paciran, Lamongan
Pegiat literasi dan juga Koordinator Bidang Komunikasi dan Teknologi Informasi Kwarda Hizbul Wathan Lamongan.
