f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
zaman

Insecure atau Bersyukur?

“Duh, pakai baju apa yang pantas ya? Aku tidak punya baju bagus seperti teman-temanku”.

“Mereka tinggi-tinggi ya, sementara aku?”

“Wajahnya bersih, glowing, mulus, cantik. Tidak seperti aku yang mirip kentang ini.”

“Bahagia banget ya hidupnya? Disenangi banyak orang.”

Itulah beberapa pikiran-pikiran yang melintasi otakku ini. Bagaimana dengan kalian sendiri? Apakah sama sepertiku?

Sebelum membahas hal ini, saya akan membagikan sedikit kisah saya. Dimulai dari masuk SMA, mengenal teman-teman baru rasanya senang sekali. Belum ada kadar keminderan yang hinggap dalam batin saya. Semua terasa sempurna, hingga lambat laun kadar kesempurnaan itu mulai terkikis dengan pikiran negatif dan timbulnya rasa kurang percaya diri.

Mulai terbesit tanya, kenapa saya tidak bisa seperti mereka? Kenapa hidup orang lain begitu sempurna, sedangkan diri saya hanya seperti remahan biskuit.

Hingga saya sadar.

Tentunya, setiap manusia yang hidup di muka bumi ini mempunyai keminderan atas dirinya. Merasa bahwa orang lain lebih beruntung, lebih bahagia dari diri sendiri. Seperti kata orang, rumput tetangga selalu lebih hijau. Tetapi jika kita logika, biarpun rumput tetangga lebih hijau masih ada rumput tetangga lain yang lebih tidak hijau daripada kita.

Ingat, di atas langit masih ada langit.

Memahami Insecure

Jika kita berbicara tentang insecure, sebenarnya insecure itu berasal dari bahasa inggris yang dalam KBBI artinya rasa tidak aman. Tidak aman karena tekanan dari diri sendiri maupun orang lain.

Sebagai makhluk sosial, tentu kehidupan tidak akan berjalan mulus sesuai keinginan. Roda akan selalu berputar, ada kalanya kita berada di bawah dan ada kalanya berada di atas. Setiap orang pasti punya waktu dan jalannya sendiri, ada orang di umur 20 tahun sudah menjadi pengusaha sukses, ada juga yang di umur 50 tahun baru sukses.

Baca Juga  Transformasi Peran Wanita di Masa Depan: Inspirasi dari Kartini

Insecure bisa datang kapanpun, dari mana saja, dan dari siapa saja. Seperti tamu tidak diundang yang langsung menyelinap masuk dalam hati dan otak. Penyebabnya bisa berupa faktor internal maupun eksternal. Faktor internal seperti tidak percaya dengan diri sendiri, kesepian, kecemasan, takut untuk bersosialisasi, dan tingkat perfeksionis yang tinggi.

Faktor eksternal seperti mendapatkan perlakuan buruk dari orang tua, trauma dengan masa lalu, tekanan dari lingkungan sekitar, perkataan mengejek dari orang terdekat, body shaming, dan perilaku dibanding-bandingkan dengan orang lain, tidak luput juga dikarenakan standar sosial.

Sebenarnya kita selama ini merasa Insecure karena diri kita, atau memang karena standar sosial yang ada di masyarakat?

Kepercayaan diri kita selama ini, dibentuk oleh diri kita sendiri, atau jangan-jangan dibentuk orang lain?

Maka, STOP Insecure !

Berhenti mengikuti arus dari tema insecuritas ini adalah jalan terbaik, mulai dari sekarang coba merfeleksi diri sendiri, merenungi apa yang diri kita inginkan dan pikirkan, serta mengambil sisi positif dari insecure.

Insecure itu Bagus, Mengapa?

Orang yang insecure berarti orang itu telah mengenal dirinya sendiri, mengetahui kelemahan dan kelebihan dari tubuh dan jiwa yang mereka miliki. Berusaha untuk menerima, berusaha untuk memperbaiki apa yang mereka risaukan.

Menurut saya, mengetahui titik insecuritas kita merupakan langkah awal yang sangat bagus. seseorang yang telah mengetahui apa yang di insecure-kan, biasanya bisa menyemangati diri mereka untuk mengucapkan “welcome” kepada insecurenya. Namun, memaksakan diri terlalu keras juga tidak baik. Sabar adalah kunci dari masalah ini.

Saya mempunyai teman yang memiliki tingkat insecure tinggi, sebut saja namanya Boy. Ia berasal dari keluarga berada, Ayahnya seorang pilot dan Ibunya seorang pengusaha. Ia bertanya-tanya mengapa dia tidak sepandai teman-temannya. Dia selalu rangking satu dari bawah. Bahkan, dia pernah tidak naik kelas.

Baca Juga  Memaknai Kekurangan Diri Sebagai Kelebihan

Boy malu, orang tuanya pandai tetapi dia jauh dari kata itu. Namun akhirnya dia sadar, dia lebih beruntung dari orang-orang di luar sana yang tidak menempuh Pendidikan karena kurangnya ekonomi, lebih beruntung dari mereka yang putus sekolah untuk mencari pundi-pundi rupiah demi bertahan hidup. Akhirnya dia belajar dengan giat, bertanya kepada teman jika dia tidak mengerti, dan berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik. Hingga sekarang dia menjadi seorang pilot seperti ayahnya.

Orang insecure harus belajar untuk bersyukur dengan apa yang didapat dan dimiliki. Masih banyak orang-orang yang lebih susah di luar sana. Yakinkan pada diri sendiri, orang lain bisa pasti kita juga bisa.

Orang yang bersyukur pasti lebih tentram hatinya, selalu positive thinking terhadap apa yang menimpa. Coba dari sekarang untuk lebih memprioritaskan apa yang kita bisa dan kita kuasai. Berusaha tidak mendengar orang-orang yang men-judge kita. Kita tidak bisa menutup mulut ribuan orang, tetapi kita bisa menutup telinga dengan kedua tangan. Bukan karena tidak mau mendengarkan perkataan orang lain, tetapi kita juga harus mensortir saran yang membangun atau menjatuhkan dari orang lain.

***

Mulai dari sekarang, Cintai diri sendiri. Yuk bersyukur!

Bagikan
Post a Comment