Simfoni Pandemi
Berpagi,
berduyun para ibu dengan gelang di tangan menuju suatu tempat
dengan bergerombol
Berduyun,
riuh rendah cengkerama mereka memenuhi jalan setapak desa
merasa gembira
Tak lepas,
wajah mereka tampak lebih cantik dari biasanya
rupanya bedak yang terpoles di pipi pun menjadi aktor euforia bersama
Tak lupa,
olesan tipis gincu di bibir pun menyerta
berayun mengikuti pola gerak saat para empunya lincah berbicara tanpa jeda
Konon kabar,
balai desa kini penuh sesak padahal pemerintah menganjurkan untuk menghindari kerumunan
tampak wajah sumringah
Sedemikan banyak orang ternetra
Kerumunan pun beralih ke pasar
Riuh rendah tawar menawar terdengar
Diiringi candaan bahwa semua berkat corona
Ada yang mengangkut lemari bercorak ragam gambar kartun
Tampaknya untuk tempat menata baju anak-anak
Keranjang, kotak, ember, semua dari bahan plastik
Banyak terangkut dari sebuah kios peralatan rumah tangga
Hilir mudik becak melewati depan rumah
Berisi ibu-ibu muda atau paruh baya dengan barang bawaan
Ramai jalanan dengan lalu lalang becak dan delman
Bagaikan esok hari akan datang lebaran
O,
Ada dana yang dibagikan di balai desa sedari pagi
Pantas saja beberapa tetangga sempat menyapa dengan wajah berseri
Walau tak harus memperlihatkan deretan gigi
Sudah bisa ditebak mereka sedang senang hati
Semakin meninggi matahari
Hiruk pikuk pun tampak ikut berhenti
Hanya ada satu dua saja yang masih hilir mudik
Terkesima dengan pemandangan tadi pagi
melupakan seorang yang ada di perigi
sedari subuh tampak sibuk gosok-gosok bersih-bersih
saat dihampiri dan ditanya dengan hati-hati,
“Mengapa kau tak ikut pergi,
seperti orang-orang tadi?”
Jawabannya cukup mengiris hati
“tak pernah ada untukku walaupun sekali,
dipanggil ke balai desa untuk hanya sekedar antri,
padahal foto kopi KTP dan KK selalu dimintai,
namun hal yang seperti itu belum pernah menjadi rezeki”
Tak punya luang untuk mendengarkan kata-katanya lagi
karena ingatan telah cepat berpaling
pada gelang emas yang terlihat mengiringi para langkah kaki
pada bedak yang terpapar lembut di kedua pipi
pada gincu merah penyerta tawa yang menampakkan geligi
Jika rezeki merupakan karunia Tuhan,
mengapa kartu identitas menjadi sebuah taruhan
bagi papa yang tertimpa ketidakmerataan
apakah hak membagi adalah kehendak kuasa seseorang?
Saat uang rakyat memang menjadi bahan rebutan
A_Kar
Tasikmalaya, 041120

Penulis lahir di Singaparna Tasikmalaya adalah seorang pendidik di madrasah aliyah swasta di kota tersebut. Aktivis Nasyiatul Aisyiyah ini meniti pengalaman organisasinya mulai dari PRNA Singaparna sampai menjadi salah satu pimpinan harian di PWNA Jawa Barat. Kecintaannya terhadap dunia literasi melahirkan beberapa tulisan yang terbit di surat Kabar Priangan, Siap Belajar, dan Tribun Jabar. Salah satu puisinya terdapat pada antologi berjudul Nyanyian Tahun yang Tak Kulagukan Rindu dan 1 Januari Biru yang diterbitkan oleh FAM Publishing, Sawidak yang diterbitkan oleh Majelis Pustaka dan Informasi PW Muhammadiyah Jawa Barat. Karya penanya dapat ditemui di akarmenulis.blogspot.com.
