Surat Terbuka untuk Ibu
Ibu…
Di puncak kepekatan malam selalu kudengar namaku kau sebut dengan lirih.
Seolah ingin agar aku tidak mendengarnya, sengaja kau kau lirihkan suaramu..
Entah apa yang kau minta, entah sampai kapan kau lakukan itu hingga aku lupa.
Ada yang masih kuingat saat tengah malam itu.
Tubuh mungilku kau selimuti dengan selembar jarikmu.
Agar aku lebih nyenyak dan nyaman dalam tidurku.
Diam-diam kau ambil air wudlu dari sebuah kendi yang telah kau isi sebelum lelapmu.
Kau bersujud dan melangitkan ribuan doa dengan sejuta harapan.
Doa yang menggetarkan seisi kolong langit.
Sesekali kau selingi dengan sedu sedanmu yang mengharu biru.
Sedu sedan yang mampu menggoncangkan seluruh isi bumi.
Ibu…
Kuyakin atas ketulusanmu yang berharap aku hidup bahagia.
Meski derita demi derita menghampirimu tanpa jeda, membingkai di setiap jengkal Impianmu, kau tetap tegar, tegak berjalan pantang menyerah.
Tidak ada harta benda berlebih. Kau tempa kami, anak-anakmu, dengan segudang kesederhanaan.
Kau ajari kami watak ksatria dan indahnya tenggang rasa.
Kau tuntut kami untuk memiliki hati nurani dan selalu mawas diri, keluhuran budi pekerti dan menjauhi sikap arogansi.
Kau wajibkan kami untuk selalu bertutursapa santun kepada siapapun.
Semua petuah saktimu menembus kedalam palung sanubariku hingga membentuk sebongkah candu
Ibu…
Bak balita, mimik mukamu berseri.
Saat kutemani dirimu mandi.
Geli di hati memandangmu tanpa deretan gigi, membuat hangat dan berair kedua netraku.
Sungguh kau menjadi bayiku nan lucu.
Fisikmu makin hari makin melemah.
Wajah senjamu kian memucat. Wajah perawan tanpa pernah tersentuh oleh pemutih ataupun pencerah, apalagi serum anti penuaan.
Hanya bedak dingin yang dulu menjadi andalan kecantikanmu sebagai pelembab sekaligus perona.
Keriput kulitmu melukiskan puluhan ribu pengorbanan untuk anak-anakmu.
Putih rambutmu menggambarkan, betapa selalu hangat kepalamu dengan segudang kenakalan-kenakalan kami.
Kumenyesal pernah meninggikan suara kepadamu.
Ketika tiada tanggapanmu atas sapaku.
Betapa tiada elok kusebut rusak pendengaran.
Apalagi kuvonis sadis sebagai tunarungu.
Ibu…
Kini, kau tidak mengenaliku lagi. Tidak mengenal siapa yang memandikanmu tiap pagi dan sore hari.
Tidak mengenal lagi siapa yang menyuapimu tiap hari.
Kaupun tak pernah tahu apakah aku menangis atau tertawa, apakah aku sedih atau bahagia.
Berkali-kali kuseka bulir hangat yang membasahi pipiku.
Kala kutatap rona sepuhmu saat terlelap, meringkuk ciut di pojok sebuah dipan tua.
Pun saat kugendong usai mandi tanpa perlu tenaga ekstra. Tubuhmu yang mengecil tinggal kulit, tulang dan di sana sini hanya ada beberapa inci daging yang terbagi rata
Ibu…
Kau masih sering memanggil-manggil nama ‘pria pujaan hatimu’. Entah untuk sekedar manja, mengadu atau meluapkan segenap rasa rindu.
Begitu dalam cintamu padanya, hingga kadang kau lupa tubuh rentamu sudah tak sanggup lagi, untuk membuatkan secangkir kopi manis seperti dulu.
Bahkan hingga detik ini kaupun tidak tahu pujaan hatimu telah lama pergi.
Kau mungkin lupa karena daya ingatmu yang sudah menipis setipis kulit ari.
Ibu…
Tiada ibarat apapun yang mampu melukiskan bagaimana isi hatiku saat ini.
Ketika kupeluk hangat tubuhmu, tidak hanya kedua pipiku yang basah kuyup karena tangis pilu, tetapi seluruh pori-pori kulitku ikut menangis.
Pintamu tak sebanding pengorbananmu.
Kau hanya minta ditemani sepanjang waktu sebagai pengganti dari sejuta penatmu yang pernah ada.
Sebelum tiba lelapmu, kau minta didongengi meski tak jua memejam mata.
Ibu…
Sampai kapanpun kau tetaplah ibuku yang sudah lupa, sudah pikun dan sudah renta.
Ketulusan kasihmu tak sanggup kuungkap dengan kata-kata maupun kunilai dengan sederet angka.
Kau begitu keramat, agung dan mulia.
Setiap ucapanmu adalah doa
Kesedihanmu membuat semesta ikut berduka.
Segenggam murka amarahmu mampu membuat langit terbelah.
Sebuah jerit tangis luka hatimu mampu membuat angkasa berdarah-darah.
Kau manusia termulia di mataku
Tiada ridloNya tanpa ridlomu.
Ibu…
Maafkan aku yang belum mampu membalas jutaan jasamu.
Belum mampu membuatkanmu istana apalagi mengajakmu keliling dunia.
Hanya ada baris-baris doa untukmu dan selalu ada tangis sesal atas dosa-dosaku padamu.
Ibu…
Tak kan berhenti kuberharap, semoga kau masih mampu membukakan pintu langit untukku, anakmu.
Dan semoga kau satu dari pintuku menuju surgaNya.
Aamiin yaa Robbal’aalamiin.

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.

Bu Guru Wiendy
Ku tak sanggup utk melanjutkan membacanya karena banjir air mata……
Kangen ibu..