Ketika Takdir Terus Menguji
Wahai diri yang lelah akan sebuah suratan
Dirimu berhak menengadahkan tangan kepada nya
Meski kau terus berlari dan terseok pula gagal
Jangan berhenti demi senyum orang terkasih membuncahkan hati
Iringi segala langkah juangmu dengan segenap dzikir dan kasih di hati
Mungkin kini kau tak faham, mengapa kah saya diuji begini?
Tapi tahukah engkau, kelak dirimu yang akan bertanya
mengapakah saya tak bersyukur sejak dini
Dalam bait puisiku ini mengiringi secercah mimpi mimpi
Enggan mendewakan egoism diri, apalagi iri
Meski jiwa jiwa kufurku meronta ronta
Mana keadilan nya? Di mana kasih sayang nya?
Cukup cukup wahai diri, kau lebih baik diam
Jangan lagi banyak bertanya tanya
Rasakanlah dan liatlah penderitaan di bawah sana
Dirimu terlalu sibuk mendongak hingga kau lupa posisimu di atas
Terlalu sibuk meracau kekurangan, menghujat kegagalan, dan membenci kesengsaraan
Ayo kembali wahai jiwa putih, hapus warna warna keserakahan itu, hapus cinta duniawi
Ambil sajadah lantas bentangkan, doakan diri yang mengais rahmat nya
Mencari kebahagiaan tiada habisnya, apalagi menerima takdir nya
Kau akan mengerti semua setelah kau mau menerima semua
Karena penerimaan adalah sebuah kunci, tanpanya kau dilanda kegelapan
Lantas warnai dengan lampu kesabaran dan kesyukuran
Niscaya pertanyaan pertanyaan itu tiada lagi
Terima saja, lakukan saja, jalani saja, dan pasrahkan saja, dia sungguh tidak buta.
Mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di Sukoarjo
