Tuhan, Ampuni Hamba
Andaikan atmaku melandai
menggema mencapai
sanubari di aksa
sejauh nun di angkasa
Berpinta agar laman
yang dicipta dalam lamun
memuat sebaris diksi isim
kuhafalkan semua kulafalkan penuh
kemegahan alam kemehawan semesta
acap membikin kepandiran menipu batin
Mensyukuri berjuta nikmat di balik
takdir dikejar diburu dicurangi
detik saban detik dilepas kendali
oleh insan kalap hakikat Tuhan
Tersisa sudah keangkuhan diri
membatilkan Khalik membenarkan Keakuan
seolah raja hutan kendati ada singa
memangsa siapapun sepanjang mata
memandang kerapuhan zahir
Dimiliki yang tergusur atas nama
populasi memenangkan yang berkuasa
mengorupsi sistem pemerintahan negara
mawas diri tunggu di sel di altar
berharap pengampunan malah dibalas ludah
sebab air manis habis ditelan dalam
tegukan kerongkongan kepongahan.
Ampuni Daku ya Rabb.
Ampuni Bapak Ibu ya Rabb.
Ampuni sanak famili ya Rabb.
Ampuni kami semua ya Rabb.
Ridhoi umat-Mu, ihdinas sihrotol mustaqim ya Rabb.
Bertemu Tuhan saat Dua per Tiga Malam
Menari di atas rembulan
bukan khayal bahkan siluet
bayangan bersatu dengan jisim
menguat pula bersama nur itu kepaduan
Menyinari agape menyucikan lahir batin
ditemani selimut putih mengafani sekujur tubuh
bersiap berkelana di lintasan “ihdinas shirotol mustaqim”
menyapa Tuhan dalam saban doa
agar isim abadi menari di kalbu.
Dua per tiga malam puncak
insan menjadi makhluk paripurna
dalam sepi ditinggalkan syahwat
dalam sepi ditanggalkan syubhat
dalam sepi ditunggalkan Tuhan.
Mahasiswa teknik Fisika UGM berasal dari Tangerang Selatan. Saat ini, penulis tengah aktif di media massa Gebrak Gorontalo dan Banten Perspektif. Selain itu, penulis aktif menulis opini di sejumlah media massa, membuat puisi, dan artikel ringan.
