Mengais Sisa Kenangan di Reruntuhan
Sisa-sisa tangis belum juga kering
wajah beringas dan sikap arogan aparat
masih tergambar jelas di ingatan
suara langkah sepatu dan pukulan-pukulan belum juga reda di kepala
haruskan program pembangunan di pinggir kota menelantarkan rakyatnya?
Masih tergambar jelas saat terjadi penggusuran itu
tiga ratusan polisi dan tentara mengepung perkampungan warga
tak pelak, kekerasan dan
perlakuan keji tidak manusawi
terpampang di depan mata anak-anak
ini berbahaya
ini kesewenangan
Kerugian materi mungkin bisa diganti
meski sampai saat ini, hak itu tak kunjung juga diberi
jejak-jejak ekskavator pun akan segera berganti jadi fondasi
puing rumah runtuh, mengubur semua kenang
Namun, bagaimana peristiwa yang terekam
di dalam kepala anak-anak?
kekerasan, pemaksaan, intimidasi
anak kecil diseret, orang sakit ditarik dan hampir tertimpa
ini berbahaya
ini kesewenangan
Bukan cuma itu, mereka ditelantarkan
difasilitasi makan pun hanya pemanis kata
hak-hak yang semestinya diberi
tak kunjung juga tunai
Dengan kata lain, hak rakyat dirampas
wajar bila mereka melawan
wajar bila mereka menagih janji
wajar bila mereka penuh curiga
wajar bila mereka tak lagi percaya
Negara memang harus kuat
tapi bukan berarti rakyat harus dilemahkan
negara harus kuat bersama-sama rakyat
negara mesti hadir memberi kepastian dan keadilan
jangan menindas atas dalih pembangunan
apalagi meneruskan kesewenangan
Dan mereka, anak-anak kecil itu masih punya masa depan
kenangan kelam ini akan terpatri
sepanjang hayat mereka
di reruntuhan itulah mereka mengais sisa-sisa kenang
yang dirampas paksa oleh negara.
Kampung Baru, Benda, September 2020
Ahmad Soleh. Menulis cerpen, puisi, dan esai di berbagai media. Pendiri Penerbit Irfani, penerbit buku indie di Kota Depok. Mahasiswa S2 Uhamka ini juga merupakan awardee beasiswa MPK-SDI PP Muhammadiyah tahun 2024. Selain aktif sebagai sekretaris MPI PDM Kota Depok, ia juga aktif sebagai anggota APEBSKID Komisariat Jakarta. Aktif di Instagram ahm_soleh
