f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pisah

Terlalu Sayang Anak

“Dasar anak tidak berguna! Mengganti lampu bohlam mati saja tidak bisa.” Hardik ibu Usman saat mengetahui anaknya tidak bisa memenuhi perintahnya.

“Sudahlah buk, kan masih ada aku yang bisa mengganti lampu bohlamnya. Kasihan Amir kalo dia kesetrum bagaimana? Masa kamu tega  mengorbankannya” Usman membela ketidakberdayaan anaknya Amir dalam melakukan pekerjaaan. Ia terlampau sayang terhadap anaknya. Tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Bapak dan anak sama saja, jangan dibela terus pak. Aku marah begini justru aku sayang sama Amir” balas ibu Usman tidak mau kalah. Ia terus memojokan keduanya. Tangannya berkacak pinggang dengan raut muka merah padam.

Usman hanya tertunduk diam. Lidahnya mendadak kelu membisu. Ada benarnya juga perkataan istrinya itu.

***

“Nak setelah pulang sekolah, langsung pulang ya… Ayah khawatir kamu dijahili lagi oleh teman-temanmu. Cukup kemarin saja kamu pulang dengan muka sembab akibat ditipu” begitu nasihat Usman kepada anaknya  ketika  hendak berangkat  sekolah.

Amir melamun sejenak, mengingat kejadian kemarin.

Disaat dirinya  sedang bermain petak umpet dengan beberapa teman selepas selesai pelajaran. Doni, Andre, dan Bagas adalah ketiga temannya yang ikut bermain bersama. Mereka bertiga adalah teman satu kelasnya yang dikenal nakal dan sering berbuat onar. Entah mengapa Amir menerima ajakan ketiga temannya tersebut.

Sebelum melakukan hompimpah untuk menentukan siapa yang menjadi penjaga, ketiganya sempat berbisik-bisik dulu seperti merencenakan sesuatu. Amir hanya memandangi mereka kosong tanpa tau tujuan ketiganya.

Hompimpah alaihum gambreng…

Gam suit…

“Yey aku menang. Gajah melawan manusia sudah pasti menang”, seru Doni setelah berduel sengit dengan Amir.

Amir tertunduk lesu setelah kalah suit, ia mulai menghitung mundur sambil menyandarkan kepalanya menghadap tembok. “Satu… dua… tiga…”

Satu per satu teman-temannya mulai pergi melenggang. Bersembunyi di tempat yang telah ditentukan. Keadaan sekitar mulai sepi hanya menyisakan suara Amir seorang yang masih terus berhitung sampai sepuluh.

Baca Juga  Catatan Sang Penyintas Stroke
*

Sepuluh menit waktu berjalan dengan cepat, selama itu pula Amir mencari ketiga temannya ke segala penjuru sekolah. Dimulai dari taman dekat kantor hingga gudang di ujung bangunan. Ia tidak menemukan ketiga temannya walau seorang pun. “Sepertinya aku sedang dikerjai”, gumamnya dalam hati.

Tebersit dalam pikiranya, bahwa ketiganya telah pulang ke rumah masing-masing. Namun ia tepis jauh-jauh bayangan tersebut, sebelum menemukan jawabannya langsung.

“Doni… Andre… Bagas…. di manakah kalian bersembunyi? ”. Amir meneriaki nama ketiganya. Separuh putus asa ia mencari. Rasa curiganya semakin menjadi. Dan ketika ia berpapasan dengan Santi.

“Mir, apa yang sedang kamu cari?” tanya Santi yang sedari tadi  heran melihat tingkahnya

“Aku sedang mencari Doni, Andre dan Bagas San. Kami berempat sedang bermain petak umpet. Kebetulan aku bagian jaga dan aku men….” belum tuntas Amir berbicara,  Santi langsung memotong ucapannya.

“Mereka bertiga pulang ke rumah masing-masing”.

Rasa kesal dan marahnya masih membekas, ia kepalkan tangan sekuat tenaga, mendadak sentuhan hangat tangan ayahnya membuyarkan lamunannya. Menyuruhnya untuk segera berdiri.

“Mir, kamu kok malah melamun? Ayo cepat segera berangkat ke sekolah. Nanti kamu bisa telat masuk kelas”.

***

Kasih  Usman  sangat tercurahkan kepada Amir selaku anak semata wayangnya. Ia seringkali melindungi dari ulah jahil teman-teman yang suka menjahilinya.

Seperti tempo hari ketika melihat anaknya pulang sekolah dengan muka sembab. Ia langsung mendatangi rumah ketiga temannya dan memarahinya langsung di depan orang tua masing-masing. Ia tak segan mengancam jikalau melihat anaknya kembali bermuka sembab selepas pulang sekolah lagi.

Akibat ulah ayahnya ini, Amir sempat dijauhi oleh beberapa temannya. Karena mereka tidak ingin berurusan dengan ayahnya kelak ketika Amir menangis saat  bermain.

Baca Juga  MengenalNya Lalu Merelakanmu

Sebenarnya Amir sendiri memilik watak yang cengeng. Ia kerap kali menangis akibat kalah bermain dan pasti mengadukan kepada ayahnya seolah teman-temannya yang menjahilinya.

*

Selain mendapatkan perlindungan ekstra, Amir pun selalu diperlakukan  istimewa di rumah. Jarang sekali ia melakukan pekerjaan rumah, seperti bersih-bersih maupun membantu ibunya memasak. Karena larangan ayahnya yang demikian keras. Ia hanya diperbolehkan belajar tanpa harus repot bekerja membantu ini itu.

Alhasil ibunya sering kali marah-marah ketika pekerjaannya tidak dibantu. Ia memarahi seisi rumah, terutama suaminya yang kian hari selalu berlaku istimewa terhadap Amir anaknya.

“Kapan ada yang membantuku mengurusi pekerjaan rumah, mempunyai seorang anak bukannya membuat pekerjaan semakin ringan justru semakin menjadi beban. Cucian piring kotor bertambah apalagi baju kotor. Lama-lama aku bisa mati berdiri karena harus mengerjakan semuanya sendiri”. Gerutu ibunya setiap kali pekerjaannya tidak pernah tuntas dalam kesehariannya.

“Sabar buk, kan masih ada aku yang selalu membantumu. Ini sedang aku cucikan piringnya. Setelah ini baru ku cuci baju sekalian menjermurnya” kata suaminya.

“Bukan begitu pak, sekali-kali kau suruhlah anakmu itu untuk membantuku mengerjakan semua ini. Jangan hanya memandangi buku kemudian sedikit-dikit mencuri pandang kepadaku”.

“Jangan begitu buk, anak kita Amir sedang belajar. Jangan ganggu dia dengan pekerjaan. Biarlah dia fokus dengan pelajarannya”.

“Tapi pak, apakah harus setiap hari begini? Aku manusia pak, aku juga capek. Tingkahmu itu terlalu sayang terhadap anakmu”.

Istrinya pergi melenggang ke belakang. Setelah banyak berbincang dengan suaminya. bukannya mengindahkan keinginannya, justru tetap membela anaknya.

*

Waktu sore perlahan mulai menghampiri, sinar surya mulai meredup terbenam di ufuk barat. Menyisakan keadaan sekitar yang gelap. Di saat yang sama, Ibu Usman hendak menyalakan lampu teras, sinar bohlamnya mendadak kerlap-kerlip. Kadang menyala kadang mati. Ia mematikan kembali saklarnya dan mulai memanggil anaknya Amir. 

Baca Juga  Penghardikan

“Lampu teras mati, tolong ganti dengan lampu yang baru !!!”. Perintah ibunya.

Amir hanya menggeleng pelan. Ia merasa tidak sanggup untuk memenuhi perintah ibunya. Terlebih pekerjaan ini baru pertama kali ia lakukan. ia takut dan merasa gugup.

“Dasar anak tidak berguna! mengganti lampu bohlam mati saja tidak bisa” hardik ibu Usman sesaat  setelah melihat  anaknya menggeleng pelan.

Tangannya menuding tajam ke arah Amir, matanya melotot seperti hendak keluar. Mukanya merah padam. Ia tak lagi mampu membendung emosi yang sudah lama terpendam. Suaranya keras dan lantang sehingga terdengar oleh suaminya. Dan  tiba-tiba langsung datang menghampiri.

“Ada apa toh buk? sore-sore kok malah marah-marah tidak jelas? ” tanya Usman menyelidik.

“Lihat anak kebanggaanmu pak, masa mengganti lampu bohlam mati saja tidak bisa”.

“Kalau begitu biarkan aku saja yang memasangnya. Lagian pekerjaan ini cukup berbahaya aku takut terjadi apa-apa dengannya”. Balasnya ringan

“Kamu terlalu sayang terhadap anakmu pak”.

Usman tersentak dengan jawaban istrinya. Ia mematung sejenak seolah ada duri tajam yang menghujam dadanya. Terasa  sakit dan perih.

Perlahan ibu Usman mendekat kepada anaknya. Kemarahannya mendadak meredup dan menjelma dengan senyuman ramah. Ia mulai memberikan nasihat kepadanya.

“Kamu itu anak laki-laki Mir, harus bisa segalanya. Kalau seperti ini terus, mau sampai kapan? Kamu adalah calon bapak yang kelak nanti punya keturunan. Apa tidak malu begini?”.

Amir hanya tertunduk pilu. Sambil menyesapi nasihat ibunya yang menusuk.

(Editor: Ananul)

Bagikan
Post a Comment