Ketika Teman Membicarakan Masalah Pribadinya di Medsos
Tidak ada angin dan hujan, tiba-tiba salah seorang teman di medsos menceritakan suaminya yang pergi dari rumah. Lain waktu, ia mencela sang suami dengan menceritakan tentang hubungan ranjang mereka. Teman saya yang satu ini memang berbeda. Saya rasa, tanpa perlu bertanya ‘hai, bagaimana kabarmu?’ saya sudah bisa langsung menemukan jawabannya di medsos beliau.
Awalnya, saya tidak habis pikir dengan orang-orang seperti ini. Apa memang harus seterbuka itu ia “melaporkan” kondisi hidupnya? Saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ia harapkan? Ketika ia menceritakan suaminya pergi dari rumah, apakah ia sedang mencari ruang “pembenaran diri”, bahwa suami yang pergi (sudah pasti) mengindikasikan suaminya bersalah?
Kemudian ketika ia menceritakan hubungan seksnya dengan suaminya, saya juga menduga-duga bahwa mungkin ia sedang “mencari teman” untuk mengolok-olok keperkasaan suaminya? Jujur, saya sebenarnya malu sudah su’udzon seperti ini. Tapi ada sisi manusia saya yang perlu “membela diri” bahwa pikiran itu (jadinya) timbul karena terpancing dengan statusnya.
***
Membaca status-status seperti itu, sering membuat saya bingung bagaimana seharusnya bereaksi. Apalagi kalau beliau adalah teman yang saya kenal baik. Apakah saya harus mengikuti keinginannya, sementara saya sendiri tidak mengerti apa maunya?
Apakah ia ingin saya, sebagai salah satu pembaca statusnya, memberikan informasi dimanakah keberadaan suaminya yang kabur, atau mungkin memberikan link konsultasi dokter Boyke terkait hubungan seks mereka, misalnya? Atau sekadar ikon ‘jempol’ atau ‘lope’ sudah menjadi bentuk support yang beliau inginkan? Lalu, bagaimana kalau hati kecil saya ternyata tidak sepakat dengan pernyataan maupun kelakuannya?
Buat saya, menyebarluaskan hubungan suami istri saja sudah melewati batas-batas aturan bermedsos. Tentu saja, itu menjadi ‘batas aturan’ yang saya buat untuk diri sendiri, sementara masing-masing orang membuat ‘batas aturan’ yang pastinya berbeda-beda.
***
Ternyata, asumsi ini belum bisa membuat saya santuy. Alih-alih membiarkannya dan lanjut scroll ke bawah, saya malah menjadi sangat kepo dengan hubungannya dengan sang suami, sesuatu yang menurut saya harusnya bukan urusan saya. Tapi bagaimana dong, lha wong pelakunya sendiri yang membukanya di ruang publik. Bukankah itu berarti, beliau sudah mempersilahkan publik untuk melakukan intervensi?
Karena kemudian saya menjadi semakin bingung melihat reaksinya terhadap komentar-komentar di statusnya. Ia seperti terlihat begitu rapuh menanggapi komentar-komentar yang mengasihaninya, namun bisa sangat galak untuk menyerang orang-orang yang tidak sepaham dengan statusnya.
Ah, saya benar-benar tidak bisa mengerti jalan pikirannya. Kalau sang penulis sudah siap mengumumkan sesuatu, sejatinya beliau sudah harus siap dengan reaksi-reaksi pembacanya, bukan? Dan yang namanya reaksi kan macam-macam. Ada yang nge-gas, ada juga yang ala-ala people pleasure. Buat saya, jadinya aneh kalau sang penulis maunya pilih-pilih komen saja. Terus, buat apa woro-woro masalah hidupnya di medsos?
Tapi kemudian, berbagai celah kosong yang mengganggu benak saya terkait hal ini tiba-tiba saja tertutup sempurna ketika saya membaca status teman saya lainnya. Mbak Yuni, sebut saja demikian namanya.
***
Dalam pernyataannya, saya menyimpulkan bahwa beberapa orang memang merasa perlu untuk share status-status terkait kehidupan rumah tangganya, karena ia merasa tidak memiliki siapa-siapa di dunia nyatanya yang bisa dijadikan tempatnya bersandar, tempatnya bicara. Jangan salahkan kalau akhirnya ia justru mendapatkan kenyamanan dengan “berbicara” di dunia maya, dunia medsosnya.
“Omongan” beliau begitu mengganggu pikiran saya. Saya seperti merasa tertampar. Ah, iya ya. Ketika ia mendapat masalah, kan saya tidak berada di sana, di tempat beliau berada. Beliau yang mengalaminya, sementara saya melihatnya pun tidak. Apa saya tega mencemooh orang-orang seperti Mbak Yuni ini, yang ingin melepaskan kepenatan batinnya melalui medsos karena mungkin, ia merasa inilah satu-satunya “sarana” yang beliau percaya? Saya tergugu. Saya malu.
Mungkin saja, berkaca dari kehidupannya, Mbak Yuni memang sengaja membangun dinding batas aturan ber-medsos, yang lebih bertoleransi dengan kehidupannya dibandingkan saya. Demikian juga teman saya di awal cerita ini. Bisa jadi, ia merasa bahwa mengekspos kehidupan seks-nya juga masih berada di dalam dinding batas aturan medsos yang dibuatnya.
***
Selama luas dinding yang dibangunnya tidak “bertabrakan” dengan aturan yang diterapkan oleh ‘sang medsos’, apa saya berhak menghakiminya? Sebaliknya, saya jadi merasa bahwa sejatinya saya harus menghormati dinding beliau, menghormati aturan beliau.
Seperti itulah sikap yang akhirnya saya coba lakukan saat ini. Kalau dulu saya bingung dan malah su’udzon, sekarang kalau saya melihat status teman yang curhat masalah keluarganya, saya hanya bisa mendoakan yang baik untuknya. Kalaupun harus bereaksi, saya kirim saja ikon like, love, atau virtual hugs.
Tapi, kalau harus komen, jujur saja saya ngeri! Kalau ternyata sang pembuat status ternyata seperti teman saya yang maunya pilih-pilih komen saja, buat saya justru jadi percuma dikomentarin. Apa benar beliau menulis status tanpa peduli komen orang? Sekedar share?
Sebagai pemilik akun medsos, saya kok merasa apapun yang saya tulis di medsos, sejatinya ya berharap untuk direspon dan dibaca. Tanpa harapan untuk direspon, mungkin sebaiknya curhat saja di diari bergembok seperti zaman dulu. Aman, nggak bikin emosi.
***
Nah, hal ini yang membedakannya dengan Mbak Yuni. Kalau teman saya itu terkesan memilih-milih reaksi yang “disukainya” saja, maka Mbak Yuni berbeda. Beliau justru menanggapi komen-komen “kontra” dengan elegan. Ah, “celah” kebingungan saya pun tertutup lagi. Terima kasih ya Mbak, saya sekarang sudah lebih santuy melihat status curhatan teman-teman.
Dan kalau akhirnya saya merasa tergelitik untuk mengomentari curhatan mereka, saya akan “meraba-raba” terlebih dahulu bagaimana karakter mereka, bagaimana tabiat mereka. Jangan sampai yang awalnya niat mau membantu, eh, malah kena “semprot” karena mereka sedang tidak ingin mendapat bantahan. Duh, malesin banget ya.
Wiraswasta, Mantan kru televisi
