f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
rasa insecure

Akumulasi Saja Rasa Insecure Itu, Jangan Dibuang !

Dunia media sosial kini membawa keseharian kita pada rutinitas mempertontonkan dan atau dipertontonkan. Aktivitas sehari-hari antara kita dan orang lain termediasi oleh media sosial. Media sosial mengarahkan cara pandang, cara memilih dan cara kita berinteraksi. Kondisi psikis kita seolah dikontrol dengan apa yang sehari-hari muncul di beranda media sosial. Lalu, diri kita hanyut sebab terlalu banyak mengintip dunia orang lain. Bisa jadi aktivitas ini akan berdampak pada munculnya rasa insecure pada individu.

Menyoal aktivitas mempertontonkan-dipertontonkan, penjelasan sederhananya adalah apapun aktivitas yang kita upload ke media sosial merupakan aktivitas ‘mempertontonkan’ entah itu kehidupan pribadi, skill, pekerjaan, keilmuan dan segala hal yang menjadi concern dan interest kita. Sedangkan aktivitas orang lain yang bisa kita akses merupakan aktivitas yang dipertontonkan pada kita. Dua aktivitas ini merupakan ciri khas dari masyarakat digital.

Boomerang Mempertontonkan-Dipertontonkan

Perihal mempertontonkan-dipertontonkan, agaknya masyarakat resmi menjadi masyarakat global dengan kemudahan mendapatkan akses informasi lintas daerah hingga negara. Kedua aktivitas ini tidak pernah terlepas memberikan pengaruhnya baik pengaruh dalam lingkup individu, komunitas, kecamatan bahkan negara. Keuntungan di satu sisi, masyarakat semakin dicerdaskan dengan kemudahan akses pengetahuan dan berpeluang menciptakan kanal kreatifitasnya masing-masing.

Di sisi lain, tantangan yang menarik adalah ketika kita kontekstualisasikan pada ruang lingkup individu, media sosial dengan aktivitas mempertontonkan-dipertontonkan seringkali menjadi boomerang bagi individu itu sendiri. Apa yang dipertontonkan orang lain pada kita menciptakan rasa ketidakamanan atau insecure. Dan tidak menutup kemungkinan apa yang diri kita pertontonkan ke orang lain juga menciptakan rasa insecure. Dan konsekuensi dari aktivitas mempertontonkan dan dipertontonkan itu akan terus menerus berkelindan seiring berkembangnya media sosial.

Baca Juga  Media Sosial dan Dua Mata Pisau

Rasa insecure ini tidak bias kelas, semua orang bisa mengalaminya. Seseorang yang biasa disibukkan dengan beragam kegiatanpun memiliki risiko terserang rasa itu. Suatu ketika iseng-iseng membuka notifikasi akun LinkedIn di mana kita paham bawa LinkedIn berfungsi sebagai media bertemunya orang yang memiliki pekerjaan tertentu dan ingin memperluas jejaringnya.

Secara tiba-tiba, rasa insecure hadir dan mengubah parameter keberhasilan dengan melihat orang lain dengan pencapaian tertentu kita ‘anggap’ berhasil. Sikap permisif yang tidak kunjung dikelola ini yang menciptakan perilaku membandingan diri dengan orang lain, sehingga berpeluang untuk merasa gelisah tentang masa depan.

Mengapa Merasa Insecure?

Bagaimana rasa tidak aman (insecure) itu bekerja dalam bawah sadar kita? Kegelisahan terhadap masa depan hadir ketika kita dipertontonkan oleh kehidupan orang lain, secara otomatis kita mengkaitkannya dengan diri kita. Padahal ketika dipikir ulang, sama sekali kehidupan kita tidak bisa dibandingkan dengan orang lain, anak kembar sekalipun.

Mari kita cari hal apa saja yang membuat kita merasa insecure? Hemat saya, akarnya hanya satu, yaitu perilaku membadingkan. Media sosial telah membawa kita pada saling mempertontonkan-dipertontonkan yang memiliki konsekuensi ‘membandingkan’ diri dengan pencapaian orang lain. Perilaku ‘membandingkan’ ini memiliki implikasi yang beragam; sibuk dengan pencapaian orang lain dan tidak menyadari bahwa kita punya peran yang berbeda, setelah itu kita terikat oleh perasaan rendah diri dan cenderung stagnan dalam berpikir.

Selain itu, perilaku membandingkan ini seringkali ditengarai berdasarkan kesamaan umur. Kesamaan umur yang dimaksud adalah teman kita yang setara umurnya telah ada pada level pencapaian tertentu, lalu kita semena-mena membandingkan pencapaian kita berdasarkan kesetaraan umur. “Umurnya sama, tapi dia udah bisa ini itu. Lah aku? gini-gini aja.” Padahal meskipun setara secara umur, parameter masing-masing memiliki perbedaan.

Baca Juga  Sinergi Mencegah Bunuh Diri Anak di Masa Pandemi

Hal umum yang seringkali memicu perilaku membandingkan diantaranya adalah status sosial, pekerjaan, prestasi atau sangat dimungkinkan kita insecure dalam konteks pernikahan. Bagi yang berada di umur duapuluhan, pernikahan menjadi momentum hangat yang tersebar di beranda media sosial baik itu kerabat kampus, sekolah, organisasi  dan lainnya.

Rasa insecure pada konteks pernikahan ini tidak berada pada level individual sebagai penyebabnya, melainkan ditengarai oleh kultur masyarakat sekitar. Di mana masyarakat menjadi pemicu rasa insecure  itu tumbuh. Momentum Idul Fitri misalnya yang lekat dengan pertanyaan perihal pernikahan yang bisa jadi pertanyaan tersebut terlontar untuk basa-basi saja. Namun, cukup berpengaruh memicu rasa insecure dalam diri seseorang.

Bersahabat Dengan Rasa Insecure

Lalu, bagaimana kita menyikapi rasa insecure yang datang tiba-tiba?

Dalam tataran mindset, rasa insecure yang datang mencerabut diri dari ‘orientasi’ hidup kita. Orientasi menjadi kunci untuk mengembalikan kita pada tujuan yang hendak dicapai. Ketika kita mengembalikan ingatan pada orientasi hidup, kita dapat memahami bahwa apa yang dipertontonkan pada kita di media sosial hanyalah varian dari perjuangan hidup masing-masing individu.

Pada tataran praktis, setelah menyegarkan ingatan terkait orientasi, bisa sedikit mengambil jarak bermedia sosial dengan melakukan pembatasan pemakaian media sosial. Tujuannya agar menggunakan media sosial sesuai kebutuhan dengan tidak melepaskan media sosial dari fungsi awalnya sebagai sumber informasi dan sebagai wadah srawung—berinteraksi dengan teman-teman.

Cukup terbilang mudah untuk memberi jarak dengan media sosial, dengan menikmati rutinitas dengan orang sekitar. Fokus pada peran yang sedang diemban. Sebenarnya, rasa insecure itu nggak seutuhnya negatif. Bergantung pengelolaan diri kita terhadapnya. Tidak menjadi masalah ketika kita terus merasa insecure. Karena dengannya, kita dibuat terus gelisah sehingga terpicu untuk selalu berpikir dan meningkatkan kapasitas. Rasa insecure itu dikumpulkan, direnungkan, dan diolah sehingga rasa itu berubah menjadi hal konstruktif. Dan pada akhirnya kita menyadari bahwa setiap individu memiliki rel perannya masing-masing. (Editor : Laeli)

Bagikan
Post a Comment