f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sayur

Tukang Sayur

Setiap pagi, saat keluar dari pasar. Beliau berarti bersiap melewati genangan air dan jalanan yang sepi bak kuburan. Tak jarang aroma ikan laut dan trasi menyeruak ke dalam hidung. Ya, dialah ibuku. Dengan motor butut dan gerobak sayurnya, ibuku menjajakan sayur dari desa ke desa.

Setelah bekerja dari petang sampai terik, menjajakan sayur, hal yang dia inginkan hanyalah terlelap dengan nyaman. Tak peduli tubuh yang mulai renta, semakin hari semangatnya terus bertambah demi kebutuhan sehari-hari. Karena selama sepuluh tahun kami hidup dari hasil jualan sayur.

Namun malam itu ibuku tetap terjaga, entah apa yang memenuhi pikiranya. Esoknya, di sepanjang perjalanan ibuku terdiam, sesekali matanya melirik jalanan yang sepi lengkap dengan udara dingin khas waktu subuh. Samar-samar dari kejauhan nampak orang mayang disusul dengan tukang sayur lain yang hendak mengais rezeki. Lelah dan kantuk rasanya sudah menjadi musuh setia yang menjengkelkan.

Lelah yang menggerogoti seluruh tubuhnya tak sebanding dengan apa yang memenuhi pikirannya belakangan ini. Keinginan untuk melihat anak-anaknya sukses, berhasil meloloskan air matanya. Bayangan suami pengangguran dan pemalas membuat dadanya sesak sekaligus semangat untuk bisa menghidupi anak-anaknya.

Sejak anak pertama mulai besar dan mempunyai adik, ibuku seperti tak lagi merasakan bedanya siang dan malam. Kecuali ketika tubuh tak kuat menopang dan jatuh sakit. Pukul 12.00 ibuku baru sampai di rumah. Di ruang keluarga, nampak bapak bersiap ke masjid.

*

“Dapat nilai berapa ulangan hari ini?” tanya ibuku sambil melepas seragam sekolahku.

“100, jawabku penuh semangat.” Wajah lelahnya seketika berubah menjadi bahagia.

“Bu, sudah ada belum uang SPP ku?  besok terakhir bayar SPP”

Baca Juga  Lagu Tidur 2

“Sudah minta bapak?”

“ Sudah bu, tapi belum dikasih”

“Tahu kalau besok terakhir?”

“Hmmm” jawabku dengan malas.

“Tidurlah. Nanti jam tiga ibu bangunkan.”

Di dalam kamar, aku mendengar keributan bapak dan ibuku. Bukan sekali dua kali ini aku mendengar, bahkan terkadang aku menyaksikan langsung ketika adu mulut. Lagi-lagi masalah ekonomi yang menjadi masalah. Apalah dayaku yang hanya anak SD, cukup tahu masalahnya tanpa bisa membantu meringankan.

Ba’da maghrib ketika kami makan malam, ibuku bilang ke bapak.

“Besok terakhir bayaran syahriah anakmu” tegas ibuku.

“Belum ada uang lo dek” ujar bapak sambil melirikku.

“ La terus gimana pak?” jawabku dengan pasrah.

“Nanti bapak usahakan dulu ya”

Seketika suasana ruang makan menjadi hening dan mencekam, ibuku yang semula mau makan menjadi marah-marah, sesekali membanting perabot sampai terdengar nyaring di telinga. Aku yang semula nafsu menjadi nggak selera makan. Tanpa menjawab aku bergegas ke kamar, mengambil sejumlah uang tabunganku yang tak seberapa. Setelah itu kuserahkan pada ibuku.

“Bu, ini ada tabungan sedikit. Nanti kalau masih kurang ibu tambahin ya!!”

Saat itu juga, air mata ibuku banjir sambil memelukku erat-erat. Tatapannya nanar seolah mengatakan “maafkan ibu nak!! Ibu belum bisa mencukupi kebutuhanmu, hanya kasih sayang yang bisa ibu berikan.”

Aku terdiam menerima pelukan hangat dari ibuku. Seraya berkata “do’akan adek sukses ya bu! Adek janji akan belajar lebih rajin, biar besok kalau sudah besar bisa mengangkat derajat keluarga kita.”

“Dijawab anggukan oleh ibuku, sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya.”

*         

Disudut meja makan bapakku melihat pemandangan haru ini tanpa berkata apapun. Tidak merasa bersalah dan malu, bahkan pura-pura buta dan tuli dengan keadaan sekitarnya.

Baca Juga  Bara Semangat dalam Gulita

Setelah lulus pondok, aku melanjutkan studiku ke salah satu perguruan tinggi. Tidak mudah untuk mendapat pencapaian ini, belum lagi masalah yang harus aku hadapi setelahhnya. Aku masuk jurusan Bahasa Arab, setelah lulus. Karena itu keinginan kedua orangtuaku. Posisiku sebagai mahasiswi tidak seperti anak-anak lain, yang bisa huru-hara sama teman tanpa harus mutar otak untuk makan. Meski terdengar sangat keren, menjadi mahasiswi tak ubah dituntut untuk menjadi pribadi kuat dan bisa tanggung jawab atas dirinya sendiri.

Di universitas ini, aku mulai mengerti susahnya mencari kehidupan. Selain menuntut ilmu, aku harus memutar otak untuk mendapat penghasilan sendiri. Aku mulai membuang ego dan gengsiku dengan menjajakan tahu bakso setiap pagi, tak jarang aku menaruh beberapa box di balkon gedung. Dan itu kulakoni selama setahun. Tahun kedua sampai sekarang kuamalkan ilmuku sebisa mungkin dengan ngajar privat dari rumah kerumah.

“Ayo kita ngopi bareng” ujar temanku.

“Maaf, malam ini jadwalku ngajar” kutatap matanya penuh harap.

“Kau tidak ingin ikut kita?” sahut temanku lainya.

“Lain kali saja”

Kiriman dari orang tuaku tidak cukup untuk kebutuhanku, belum lagi bayar kosku. Tidak masuk akal kalau aku ikut kalian.

“Ha-ha-ha, memang benar ya di dunia ini tidak ada yang benar-benar gratis.” Sahut teman-temanku.

Aku tertawa geli, rasa sakit pelan-pelan menyusup hati. Lalu lalang mahasiswa seolah hanya penari latar atas segala kesakitan yang menikam. Keluarga di rumah selalu menekankan “jangan sia-siakan masa mudamu dengan bermalas-malasan!! Penyesalan datangnya selalu di akhir, pendaftaran namanya kalau di awal”.

*

Jam di kamar menunjuk pukul 20.00. Dering ponsel mulai membuyarkan lamunanku. Suara ibuku samar terdengar dari seberang.

Baca Juga  Mitos Tentang Tinggal di Luar Negeri

“Halo, assalamu’alaikum, gimana kabarnya kak?”

“Alhamdulillah baik bu, gimana kabar keluarga di rumah?”

“Alhamdulillah baik semua, kamu belajar yang rajin ya!! Uang kirimannya digunakan sebaik mungkin, jajakan sayur di sini masih seret kak, biaya adekmu juga banyak.”

“Iya bu, doakan kakak sukses dan rezeki lancar, biar meringankan beban ibu bapak!!.”

“Semoga yang kamu cita-citakan tercapai kak, do’a ibu selalu menyertai kakak dan adek.” Suara serak khas orang terisak meracau fikiranku.

Hari demi hari sudah kulalui, pagi kuliah sore dan malam ngajar privat sudah menjadi rutinitas. Tak jarang angin malam menusuk sampai ke tulang. Aku tidak tahu harus berhenti atau lanjut. Mengingat suara ibu yang parau di telfon tadi, rasanya tak tega membebani dia. Seketika kubuang pikiran ingin huru-hara dan bermalas-malasan.

Sampai akhirnya rupiah demi rupiah mulai terkumpul hasil dari keringatku sendiri. Bahagia dan bangga, terima kasih aku, sudah menjadi kuat demi berdamai dengan masalah ekonomi.

Bagikan
Post a Comment