Menjadi Suami Kualitas Ori di Kala Pandemi
Bukan hanya ekonomi nasional yang was-was menuju resesi, urusan domestik rumah tangga pun telah mengalami pergeseran makna. Hal itu imbas dari realita pandemi Covid-19 yang tak kunjung menemukan titik henti. Kegiatan di rumah saja, work from home dan berbagai aktifitas isolasi diri lainnya telah memberikan warna tersendiri bagi dinamika berkeluarga. Bagaimana menjadi suami, istri, ataupun anak yang baik saat semua di rumah setiap hari.
Walaupun mungkin di Indonesia didapati warganya menjalani ritual rebahan yang tak berkesudahan. Studi di China mencatat, bahwa 50,4 persen warganya mengalami gejala depresi, 44.6 persen merasakan kecemasan, dan 34 persen mengalami insomnia. Sehari-hari di rumah dengan Intensitas perjumpaan suami istri dan keluarga nyatanya dapat memperkokoh hubungan keluarga yang semakin intim. Namun juga dapat memberikan kejutan dengan berbagai peristiwa dan konflik yang tak terhindarkan.
Angka kehamilan melonjak tinggi. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional mencatat ada lebih dari 400.000 kehamilan yang tidak direncakan. Penelitian psikososial yang dilakukan, Dr. Justin Lehmiller mendapati rasa takut dipadukan dengan berkurangnya sosialisasi membuat otak manusia memikirkan sesuatu yang menyenangkan.
Ketika kondisi manusia di titik klimaks stres, akan mengakibatkan jantung, napas, dan aliran darah terpacu lebih kencang. Peneliti menemukan bahwa kondisi tersebut menimbulkan dorongan seksual yang disebut excitation transfer atau dorongan kebahagiaan. Ini jugalah alasan, mengapa banyak pasangan merasakan gairah yang lebih tinggi usai mereka bertengkar.
Meningkatnya Angka Kehamilan
Nyatanya, bukan hanya lonjakan kehamilan yang dapat meningkatkan statistik 4,8 juta kelahiran baru setiap tahun di Indonesia. Kejadian tersebut bisa jadi doorprize dampak pandemi di lokal domestik keluarga. Angka perceraian pun ikut melejit.
Semisal di Cianjur, jumlah pendaftar gugatan cerai dalam satu hari mencapai 50 orang dan hingga juni 2020 gugatan cerai mencapai 2.029 kasus. Gugatan cerai ini ditengarai lantaran persoalan ekonomi dan perselingkuhan.
Belum cukup sampai di situ, pandemi juga berimbas pada peningatan kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga ). Kementerian Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemenppa) mencatat selama sebulan per 2 Maret – 25 April 2020 saja, terdapat 275 kasus kekerasan yang dialami perempuan dengan total korban 277. Para pengaju gugata cerai dan korban KDRT bukan hanya berasal dari keluarga ekonomi lemah, tapi juga cukup variatif. Ada yang berasal dari keluarga aparatur sipil negara, wiraswasta, dan lain-lain.
Peran Gender dalam Keluarga
Dari catatan problematik di atas, sumber utamanya adalah bukan hanya pada persoalan ekonomi. Ini tentang bagaimana keluarga memaknai peran gender di keluarga.
Penelitian yang dilakukan di Universitas Northwestern, UC San Diego dan Universitas Mannheim menghasilkan dua hal besar tentang kesetaraan gender dalam masa pandemi Covid-19. Pertama, Ibu-ibu yang aktif bekerja akan mendapati dirinya berurusan dengan segudang beban yang lebih besar dari biasanya dalam pola pengasuhan anak. Kedua, para ayah pekerja akan memilki intensitas lebih dalam pengasuhan anak selama WFH masih diberlakukan.
Kala suami dan istri berada di rumah, maka norma gender menjadi hal yang harus diperhatikan. Bila norma gender itu masih kaku dan berpijak dinilai patriarki, yang klaimnya perempuan harus mengerjakan segala urusan rumah dan pengasuhan anak sendiri. Maka pastinya akan berdampak pada kesehatan fisik dan mental istri. Sedangkan suami haya mengurung diri di kamar, mengerjakan deadline kantor, dan laiinnya.
Suami Kualitas Ori
Menjadi suami kualitas ori adalah kunci dalam menahkodai rumah tangga yang sedang diterjang ombak pandemi. Percayalah, banyak hal yang telah dilakukan istri dirumah bahkan sebelum pandemi hadir. Para suami belum saja tahu bagaimana sensasi memandikan anak dan mengganti pampers bayi yang membutuhkan effort Luar biasa dan ikhtiar maksimal hingga meneteskan kucuran keringat. Belum lagi rasa was-wasan ibu saat mendapati buah hatinya bermain.
Takut kepelesatlah, takut makan mainan yang berbentuk kecil, ketakutan lainnya yang terkadang membuat sebagian Ibu pusing. Belum lagi seorang ibu yang bahkan setelah prosesi persalinan mempertaruhkan nyawa itu, masih harus tak henti-hentinya berusaha memberikan ASI untuk bayi, memastikan anak tumbuh gigi, dan kewajiban lain yang dipikul istri dimana terkadang suami hanya tau soal masakin nasi, siapin kopi, dan menjadikan istri sekadar kalkulasi biologis.
Ihwal menjadi suami kualitas ori di tengah pandemi, paling tidak ada beberapa ijtihad (usaha sungguh-sunguh) yang dapat dilakukan suami dalam perannya. Suami harus menyadari bahwa amanahnya itu kekal sampai akhirat. Sebagaimana Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”(Surah At- Tahrim ayat 6).
Lima Hal Penting yang Perlu Dicatat !
Pertama, percayalah bahwa pandemi Covid-19 ini adalah salah satu cara Tuhan mendidik hambanya untuk lebih mengerti apa itu harta yang paling berharga. Jadikanlah keluarga sebagai prioritas utama. Tentu setelah prioritas ketaatan kita terhadap sang maha kuasa. Dengan tetap bersykur terhadap apa yang terjadi dan Mereposisi tujuan bersama keluarga menjadi awal pijakan baru berbagai target yang akan dituju bersama. Tentu bukan target yang penuh ambisi dan tak terukur.
Kedua, cobalah untuk menanyakan kembali apa yang membuat istri bahagia. Tak semua istri bahagia lantaran harta dan transferan ke rekening yang berlimpah. Kebahagiaan istri juga akan memberikan kepuasan tersediri bagi suami. Kebahagiaan itu dapat dimulai dengan keterbukan dan keintiman diantara kedua belah pihak.
Semisal, mulailah terbuka dengan penghasilan yang didapat, diprioritaskan untuk apa dan dengan cara seperti apa. Kebahagian istri sangatlah berpengaruh pada kebahagian rumah tangga yang memengaruhi kualitas hubungan, kesehatan, dan psikis keluarga.
Ketiga, tidak ada yang salah dengan suami yang mencuci piring, membuang sampah, dan mengangkat jemuran. Yang salah itu jika tiba-tiba anda temukan suami anda sedang menyusui anak anda. Loh ngerih kali !
Survei dari Stellar Reviews menyebutkan, kala pandemic, laki-laiki mengambil lebih banyak pkerjaan rutin seperti mencucui piring, membuang sampah, dan mencucui baju. Kegiatan ini tentu dapat dilakukan di kala suami rehat dari deadline kerjanya. Aktifitas ini pun tidak kemudian menurunkan derajat suami di mata istri.
Keempat, bersama- sama memberikan pengasuhan maksimal kepada si buah hati. Hal ini dapat dilakukan dengan, kurangi ngomel, jangan banyak ngomong, banyakin ngemong. Selamat menikmati sensasi mengasuh anak yang bukan hanya lagi sekadar megajarkan dan mewajibkan anak mencium tangan ayahnya sebelum ayah berangkat kerja. Tetapi juga turut memberikan kontribusi bagi tumbuh kembang anak dalam fisik maupun pskisnya. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan menyenangkan dan seru. Seperti berjemur bersama, olahraga, menyusun puzzle, yang kesemua family time ini menjadi momentum untuk menumbuhkan bonding anak kepada ayahnya.
Kelima, sekalipun pandemi covid-19 memang benar-benar berdampak pada penghasilan suami yang menurun bahkan menghilang, percayalan Innama’al usrii yusro (bersama kesulitan ada kemudahan). Tuhan telah menggaransi bahwa “bersama” bukan “sesuadah” kesulitan baru datang kemudahan.
Mengerjakan Sungguh-Sungguh Semua Urusan
“Faidza faraghta fanshab wa ila rabbika farghab”. Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Maka kepada Rabb-mu, hendaklah engkau merasa senang.
Kutipan ayat diatas telah mengilhami suami kualitas ori untuk tetap produktif. Caranya dengan berfikir kreatif untuk tetap dapat meberikan yang terbaik bagi keluarga yang kelak insyaalah akan dipertemukan kembali di surga-Nya Allah SWT. Aamiin.

Pendamping Program Keluarga Harapan Kemensos RI

Ciri chandra
Mantul pak.
Evie
Mantappppp semangat pak Ega 👍👍