f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mangkunegara

Media Baru dan Suburnya Budaya Latah

Belakangan, masyarakat digegerkan oleh viralnya video Tik Tok tiga ibu setengah baya dengan style kekinian yang merekam aktivitas mereka di tengah-tengah jembatan Suramadu. Bukannya memperoleh pujian kekaguman, aksi tiga ibu yang cukup berani tersebut berbuntut panjang.

Pasalnya setelah video Tik Tok sekelompok ibu ini diunggah ke media sosial, mereka langsung digelandang ke Mapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya oleh sejumlah polisi lalu lintas sekitar Suramadu. Sungguh jauh panggang dari api, haluan video tersebut berubah dari keriangan menuju jerat hukum.

Bukan tanpa alasan, sejak jembatan yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut diresmikan pada tahun 2009, merupakan larangan keras bagi siapapun untuk berhenti di kawasan jembatan Suramadu kecuali jika ada kepentingan darurat.

Hal ini dikarenakan tindakan tersebut dapat mengakibatkan kemacetan dan bukan tidak mungkin diterpa embusan angin laut suramadu yang kencang. Maka tak ayal apabila video Tik Tok para emak ini kemudian harus berhadapan dengan hukum. 

Studi Konformitas di Era Digital

Era baru yang ditandai dengan adanya beragam aplikasi media sosial menandai perubahan masyarakat dunia termasuk di dalamnya Indonesia. Perkembangan fitur-fitur ponsel pintar juga memudahkan penggunanya untuk mengakses beragam aplikasi yang sedang in seperti Tik Tok.

Akses terhadap beraneka aplikasi yang tidak jarang sekedar bertujuan unjuk eksistensi ini dipicu oleh beberapa hal. Terutama, keinginan untuk tercitra sama dengan kondisi mayoritas. B. Douglas Bernheim melalui artikelnya, A Theory of Conformity (1994) mengungkapkan bahwa sebuah tren seringkali meluas. Dengan dipicu oleh beberapa faktor meliputi; harga diri, popularitas atau bahkan hanya ingin terlihat berada dalam satu arus dengan orang lain. 

Mengacu pada studi yang diungkapkan oleh Bernheim, barangkali perilaku seperti menjamurnya video Tik Tok dengan aneka rupa macamnya kemudian dapat dipahami. Ihwal ini turut pula menjawab mengapa tampilan video Tik Tok cenderung seragam mengikuti selera yang sedang diminati netizen.

Baca Juga  Ketidakpatuhan pada Pasangan Tidak Selalu Buruk

Sebagaimana titel utama tulisan Bernheim, teori konformitas berbicara tentang keserupaan preferensi sikap seseorang yang tidak jarang populer dan mengundang banyak pihak untuk melakukan hal yang sama.

Konformitas Menggenapi Budaya Latah

Selain itu, teori konformitas berupaya menjelaskan mengapa pada tataran tertentu, masyarakat cenderung berperilaku dengan standar tunggal tertentu. Bertindak homogen dan bahkan mengecam semua bentuk tindakan yang dianggap bersebrangan dengan pilihan kebanyakan.

Sayangnya, berdasarkan penelitian secara sosiologis Bernheim mendapati fakta bahwa banyak pihak kurang meninjau pilihan perilaku mereka. Bahkan diketahui acapkali banyak  kalangan yang hanya memikirkan unsur ketenaran maupun status sosial sebagai motif-motif tindakan mereka.

Membahas sisi lain teori konformitas, sikap tiga orang ibu dalam pembuatan Tik Tok di Suramadu seolah mengamini ungkapan Bernheim akan kurangnya pengetahuan seseorang dalam bertindak dan mengadopsi sebuah tren.

“Saya kurang tahu, sebelum saya sudah ada yang melakukannya.” Demikian pengakuan salah seorang ibu yang memutuskan berhenti di tengah-tengah jembatan Suramadu kala ditanya oleh reporter mengenai aturan berhenti di tempat yang naasnya membawa nasib kurang baik bagi dia dan kedua temannya.

Berbekal latah tanpa mengantongi cukup informasi saat ini cukup membudaya dalam segenap tindakan sosial masyarakat. Tidak hanya terbatas pada platform Tik Tok, seseorang akan condong mencontoh aktivitas yang sedang hits tanpa mempertimbangkan sisi positif terlebih aspek negatifnya.

Kondisi ini didukung oleh fakta penelitian Abhijit Banerjee dalam A Simple Model of Herd Behavior (1989) bahwa tidak jarang individu memperoleh sebuah informasi mengenai sebuah tindakan popular hanya berbekal pengamatan terhadap orang lain. Mereka meyakini bahwa setiap hal yang dilakukan oleh banyak orang telah melalui proses penggalian informasi yang lebih baik.

Baca Juga  Perempuan Paling Mahir Mengatur Keuangan (?)
Persoalan Literasi Masa Kini

Kurangnya informasi mengenai beberapa hal seperti aturan mengenai larangan berhenti di tengah jembatan Suramadu bukan disebabkan tidak adanya akses menuju maklumat regulasi tersebut. Aturan tersebut juga tidak serta merta lahir tanpa pengkajian terlebih dahulu.

Pada tahun 2009, saat pertama kali jembatan Suramadu diresmikan. Banyak pengendara yang berhenti demi melakukan beragam aktivitas seperti berfoto atau bahkan sekedar menikmati angin laut. Mengacu pada kondisi yang diklaim membahayakan keselamatan pengguna jembatan, pihak PT Jasa Marga (Persero) Tbk Cabang Surabaya-Gempol-Jembatan Suramadu lantas mengeluarkan larangan berhenti di area jembatan.

Apabila pengguna jejaring media internet berkenan mencari dan membaca informasi ini. Dalam beberapa kali usap layar smartphone, akan diketahui bahwa sebenarnya ada hal-hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan jembatan Suramadu.

Tidak tahu bukan berarti tidak ada. Ungkapan ini bisa jadi benar mengacu pada pilihan sikap ketiga ibu yang terkena kasus hukum sehubungan dengan video Tik Tok. Mereka memegang gawai yang sejatinya memuat beragam informasi namun tidak terakses sempurna.

Kondisi ini bisa dikaitkan dengan minat literasi Indonesia yang terbilang rendah sebagaimana dinyatakan oleh beberapa lembaga penelitian. Pada tahun 2016, data hasil penelitian Central Connectitut State University menempatkan Indonesia pada peringkat 60 dari 61 negara dalam bidang kemampuan literasi internasional.

Kendati banyak pegiat literasi mencoba menghapus stigma buruknya budaya baca bangsa Indonesia dengan mencanangkan beragam program peningkatan kemampuan baca tulis. Akan tetapi, banyaknya kasus seperti kasus Tik Tok ibu-ibu jembatan Suramadu menjadi bukti belum meratanya kompetensi sadar aksara negeri ini.

Tsunami Informasi bagi User Media

Kembali lagi, seolah memufakati teori konformitas, sebagian pihak menganggap realitas rendahnya melek informasi dipicu oleh dominannya budaya dengar dan lisan. Apa yang dilihat dan didengar dari orang lain menjadi pijakan utama seseorang dalam merespon lingkungan sekitar.

Baca Juga  Bu Tejo Ada di Diri Kita

Anggapan di atas tidak sepenuhnya keliru. Sebagaimana halnya para ibu tiktokers yang mengklaim sudah ada tiktokers lain yang pernah mengunggah video serupa dengan berlatar tempat jembatan Suramadu, kurang lebih begitu umumnya pengakuan masyarakat terhadap budaya tangkap suara maupun lisan.

Selain permasalahan literasi, karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel bertajuk The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and The Public Should Expect dapat menjawab mengapa informasi terkadang tidak diakses meskipun terlampau mudah diperoleh.

Melalui buku tersebut Kovach dan Rosenstiel mendedahkan beberapa poin termasuk di dalamnya memuat kegelisahan mereka.  Keresahan ini tidak lain berkutat seputar merebaknya beragam informasi yang kemudian diistilahkan sebagai ‘tsunami informasi’.

Tsunami informasi ditandai dengan terkepungnya manusia oleh beragam informasi mengenai isu tertentu yang terkadang tidak diketahui kebenarannya. Sayangnya, semakin banyak informasi, orang-orang menjadi tidak begitu tertarik untuk mengaksesnya. Hal ini selaras dengan ungkapan ‘hal mudah tidak lagi bermakna mewah.’

Berangkat dari kasus video Tik Tok tiga ibu di jembatan Suramadu beserta beragam teori yang menyertainya. Cukup mengungkapkan serangkaian tugas bangsa yang belum usai sehubungan dengan penggunaan media baru.

Dorongan terhadap pemakaian media di tengah kepungan banyak pihak dengan beraneka kepentingan tentu tidak sesederhana penggunaannya. Dibutuhkan keutuhan informasi dan peningkatan terhadap akses pengetahuan mengenai sebuah tindakan oleh para user media.

Hal ini diperlukan agar selaras dengan himbauan Yodhia Antariksa, seorang pegiat bisnis dan konsultan manajemen terkenal dalam sebuah tulisannya “be a smarter smartphone user.”

Bagikan
Post a Comment