f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Kado untuk Ratmi

Oleh: Sucipto Jumantara*

Hari ulang tahun Ratmi. Baginya tak ada yang istimewa. Bahkan ia sering lupa. Tak pernah memikirkan dan mengingat tanggal kelahirannya.  

Bagi Lasto, suaminya, hari ulang tahun istrinya kali ini benar-benar ia tunggu-tunggu.

Tak seperti hari-hari sebelumnya. Lasto begitu bersemangat menyambut fajar. Lelaki itu menatap matahari pagi dengan senyuman merekah di wajahnya. Ia berdoa pada Tuhan berharap agar bisa membahagiakan istrinya tercinta.     

Dia sungguh ingin memberi kejutan pada Ratmi. Sebagai ungkapan terimakasih karena telah menjadi istri yang sungguh sabar. Tulus menerimanya dalam kesahajaan. Sanggup menjadi pendamping hidupnya yang seorang tukang becak. Ia rasakan cinta dari istri untuk dirinya dan juga untuk anak-anaknya.

Hari itu Lasto berniat narik becak lebih pagi. Dia ingin dapatkan uang lebih untuk beli sesuatu sebagai kado ulang tahun Ratmi.

Becaknya tak bermesin, seperti layaknya kebanyakan becak yang ada di kota Yogya sekarang. Tentu menjadi kendala tersendiri meski banyak orang yang sebenarnya lebih suka model becak kayuh yang tidak berpolusi. Namun warga masyarakat tak hanya ingin kenyamanan tapi juga kecepatan. Apalagi kini dengan hadirnya ojek online, pasti mengurangi juga pendapatannya. Hidupnya serba pas-pasan untuk kebutuhan hari-harinya, istri dan dua anaknya. Bahkan kurang.

Pagi itu di depan sebuah pasar dia parkirkan becaknya. Ia berjalan-jalan sebentar menengok pintu keluar dari pasar. Berharap ada penumpang. Setelah beberapa saat belum nampak ada orang yang menjadi sasaran. Dia kembali ke becak. Duduk di kursi bagian depan. Menunggu penumpang.

Terlintas wajah Ratmi yang teduh dan ceria. Yang selalu membuatnya rindu untuk pulang ke rumah. Istri yang berusaha untuk tetap sanggup hidup dalam keadaan sederhana, menekan perasaan untuk tidak mudah meluapkan kecewa dan marah di depan suami yang tak mampu memberinya banyak uang.

Baca Juga  Hati yang Berkurban

Lasto sadar ada yang lebih penting dari sekadar kado ulang tahun. Tapi dia seakan punya hutang yang lama belum terbayar. Dan dari tahun ke tahun dia merasa dihantui hutang itu.

“Tahun ini akan aku lunasi.” batinnya.  “Kado apa yang pas buat Ratmi? Baju, cincin, jam tangan, atau……?” Lasto tersenyum, bertanya-tanya dalam hati saja. 

“Becak Pak! Pak! Pak!” seorang Ibu dengan membawa belanjaan dari pasar mendekatinya.

“Iya Bu, becak Bu. Mau ke mana Bu?” ujar Lasto gugup.

“Tenang dulu Pak. Nggak usah gugup. Bapak ini kok pagi-pagi sudah melamun?” kata seorang Ibu tua berkerudung warna cokelat muda yang menghampirinya.

“Ha…ha…ha… Iya ini Bu. Melamun itu nikmat buat orang seperti saya.” Timpal Lasto. “Mau langsung pulang Bu?” tanyanya kemudian.

Usai mengantar Ibu itu pulang dari pasar, dia menuju alun-alun. Hari itu hingga waktu ashar tiba, hanya dapat dua penumpang. Jelas tak cukup untuk membeli kado untuk istrinya.

“Gor, aku mau bicara sebentar.” Tanya Lasto pada temannya yang juga seorang tukang becak.

“Ana apa ta Kang Lasto?” Tanya Bagor.

“Tahu nggak, hari ini hari ulang tahun Ratmi. Istriku. Aku ingin membelikan baju buat kado ultahnya. Tapi uangnya nggak cukup.”

“Huh… sampean ini, sudah nggak punya duit, nganeh-nganehi. Kalau nggak punya duit ya bilang saja nggak punya. Lagian istri sampean paham kok kalau penghasilan dari narik becak itu tak banyak.”

“Justru itu Gor, Ratmi itu nrimo banget orangnya. Aku niat belikan dia sesuatu untuk kejutan. Hari ini aku ingin belikan baju dan kerudung baru  untuknya. Aku sudah lama sekali meniatkan. Namun selalu habis uangku untuk kebutuhan yang lain.

Baca Juga  Sari

“Weleh..weleh… sempat-sempatnya Kang Lasto ini romantis-romantisan dalam keadaan krisis.”

“Aku tak ingin hari ini terlewatkan begitu saja. Aku sungguh ingin memberikan kado sebagai ungkapan terimakasih kepada Ratmi.

“Ini, aku tadi narik tiga kali. Baru dapat ini silahkan kalau mau pakai!”

“Lah, terus kamu gimana?

“Tenang saja Kang, aku kan tak punya tanggungan selain diriku sendiri. Pakai saja uang itu buat tambahan. Biar sampean bisa beli kado.”

“Kapan aku harus membayar kembali?”

“Sudahlah, aku juga senang bisa membantu. Buktikan bahwa tukang becak mampu membahagiakan istri. Jangan lupa doakan aku agar ada gadis yang mau aku nikahi yang Kang.”

“Aamiin. Aku doakan semoga segaera terkabul. Terimakasih Gor, terimakasih banget.”

***

Di perjalanan menuju toko baju. Seseorang memanggilnya. Lasto berhenti.

“Lasto, aku tadi sengaja nyari kamu.” Kata Yanto, seorang tukang becak yang juga sering mangkal di sekitar alun-alun.

“Kok bisa? Memang ada masalah apa?” tanya Lasto.

“Begini, baru saja aku dapat kabar. Istriku melahirkan. Aku harus pulang kampung dulu.”

“Alhamdulillah. Selamat ya. Semoga anak istrimu sehat semuanya. Aku melu seneng.” Kata Lasto sambil menjabat erat tangan Yanto.

“Maturnuwun ya Las. Ini saya mau ngomong.”

“Ada apa Yan?”

“Ini Las. Aku kan harus pulang. Aku butuh uang untuk bekal pulang kampung.” Ucap Yanto pelan.

Lasto terdiam. Menatap temannya yang membutuhkan bantuannya. Terbesit wajah istrinya. Ia mengajak Yanto berjalan. Hingga berhenti di pojokan kios baju. 

Ia berpikir. Uang yang ada di kantongnya, yang akan dia gunakan untuk membeli kado ultah istrinya akan dipinjam temannya yang sedang membutuhkan. Duit hasil narik becak seharian dan tambahan dari Bagor.

Baca Juga  Tiga Kisah Tentang Handphone

Lasto garuk-garuk kepala. Lasto dengan berat hati pada akhirnya memberikan duit di kantongnya untuk temannya itu.

Kado pun tak terbeli. Tahun ini ultah Ratmi akan terlewati seperti tahun-tahun sebelumnya. Saat itu juga dia kembali narik becak. Satu penumpang dia dapatkan.

Hari sudah gelap, Lasto pulang menuju rumah. Dia mampir membeli empat kue donat. Dia bawa pulang. Satu untuk dirinya, satu untuk istrinya dan dua untuk dua anaknya.

Sembari menikmati kue donat bersama istri dan anaknya. Lasto menceritakan kejadian seharian tadi, juga niatannya untuk membeli kado yang tak jadi kenyataan.

“Ceritamu sudah lebih dari cukup sebagai kado ultahku.” Kata Ratmi tersenyum sambil memegang tangan suaminya.

“Sebagai gantinya aku mohon sesuatu.”

“Apa?” tanya Lasto penasaran.

“Esok hari aku ingin kau bawa aku dan anak-anak keliling kota naik becak.” Pinta Ratmi sambil mesam mesem. Lasto tertawa. Ia memeluk istrinya, mengecup keningnya disaksikan kedua anaknya yang turut tersenyum bahagia.

*Penulis kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah ini adalah Dosen Universitas Ahmad Dahlan. Kini tinggal di Kasihan, Bantul, DIY. Karya sastra dalam bentuk cerpen dan puisi dimuat di beberapa media cetak dan online. 

Bagikan
Comments
  • B. Suseno

    Sae, Pak Cip, cerkakipun. Maos cerkak panjenengan, manah kula trenyuh.

    Juni 27, 2020
  • Sucipto J.

    Matursuwun Bapak Suseno awit komenipun. 😊

    Juni 27, 2020
  • triwahyu

    bagussss banget pak Cipto…bikin trenyuh dan sangat menginspirasi

    Juni 27, 2020
  • Jefree

    Mantap kang. Ternyuh

    Juni 27, 2020
Post a Comment