Pemuda Pewaris Tampuk Pimpinan Umat
Oleh : Aldi Bintang*
Indonesia pada 2030-2040 mendatang diprediksi akan mengalami bonus demografi. Yaitu jumlah usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih banyak dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Menurut kementrian PPN/BAPPENAS pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa. Tentu, agar Indonesia dapat memetik manfaat dan kebaikan secara maksimal dari bonus demografi, selain diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan harus diimbangi juga dengan tanggung jawab sosial sebagai modal sosial dalam hubungan antarpribadi, antarkelompok, dan antar masyarakat sesama warga bangsa. Mengingat kehidupan saat ini yang dialami banyak pemuda lebih cenderung menuju ke arah hedonis, konsumtif dan materialis. Hal-hal semacam inilah yang semestinya harus diantisipasi dan didakwahkan kepada generasi millenial supaya rasa tanggung jawab sosial tidak terkikis rapuh dan keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara dapat terjalin dengan baik.
Problematika Pemuda
Melihat dinamika kehidupan di era revolusi industri 4.0, di satu sisi memang menampakan kemajuan dan memberikan akses kenyamanan dan kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, di sisi lain banyak juga memberikan dampak negatif dan membuai masyarakat hingga lupa daratan khusunya kalangan pemuda. Gejala semacam itu dapat kita jumpai di tempat-tempat seperti di mall, di caffe, di bioskop, bermain game dll. Gejala semacam itu bukanlah sepenuhnya gejala yang negatif. Namun, apabila tidak diimbangi dengan tanggung jawab dan kepekaan sosial akan terbuai dan menjerumuskan kearah hidup hedonis, konsumtif dan materialis.
Seorang filsuf berkebangsaan Jerman Erich Fromm melukiskan pandangannya terhadap orang-orang konsumtif sangat menarik. Erich Fromm menyebutnya sebagai homo consumen,”orang yang mengonsumsi penuh yang tujuannya hanyalah untuk memiliki sebanyak-banyaknya dan menggunakan lebih banyak lagi.”. Pandangan Erich Fomm tersebut jelas menggambarkan seseorang yang konsumtif, serakah, individualis, dan tidak mau berbagi. Hal semacam ini tentu sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip tanggung jawab sosial.
Problematika lain yang dialami pemuda saat ini adalah tentang paham keagamaan. Tak lain hal ini disebabkan oleh cepatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi salah satunya internet. Paham-paham keagamaan yang sifatnya transnasional seperti paham tentang khilafah dan golongan tafkiri (orang yang suka mengkafir-kafirkan) dengan mudah dapat diakses melalui internet dan banyak diminati pemuda. Problematika ini timbul karena pemuda lebih menyukai paham keagamaan yang sifatnya praktis. Akibatnya pemahaman keislamannya menjadi monolitik dan gemar menyalahkan pihak lain. Tanpa mau mendatangi guru, ulama, atau seorang yang kompeten dibidangnya dan tanpa melalui proses pembelajaran yang sistematis, hanya dengan satu kali “klik” dari internet langsung seperti mempunyai otoritas keagamaan untuk menuding ini sesat dan itu kafir.
Gambaran seperti ini telah diulas dengan tajam oleh Kuntowijoyo dalam bukunya Muslim Tanpa Masjid . “Mereka adalah generasi baru yang kini bermekaran dalam satuan-satuan lain, seperti negara, bangsa, daerah, partai, ormas, kelas usaha, dan sebagainya pengetahuan mereka bukan dari lembaga konvensional, seperti masjid, pesantren, atau madrasah, melainkan sumber anonim, seperti kursus, seminar, buku, majalah, kaset, televisi, banyak yang tercengang melihat fenomena ini. Seperti halnya banyak agamawan yang tidak sanggup melihat gejala-gejala modern sehingga gagal memahami makna kesenjangan struktural, atau para pelaku KKN (Korupsi, kolusi, dan nepotisme) berjubah kesalihan”. Tentu, hal semacam ini harus dihindari bersama supaya konflik-konflik keagamaan tidak menimbulkan pertikaian di kalangan umat. Apabila ini terjadi maka tatanan kehidupan sosial dalam berbangsa dan bernegara akan rusak. Keharmonisan tidak terjalin dan prinsip dari tanggung jawab sosial seperti jauh panggang dari api.
Pemuda dan Masa Depan
“Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan” merupakan jargon yang tak henti-henti selalu digaungkan dikalangan generasi muda. Hal ini karena pemuda memiliki dan memikul tanggung jawab di pundaknya yang kelak akan menggantikan estafet kepemimpinan nasional. Pemuda juga merupakan agen of change karena memiliki idealisme yang tinggi yang dapat menentukan paradigma perubahan dalam aspek kehidupan berbangsa. Tak heran apabila pemuda seringkali menjadi tumpuan harapan untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Namun, pemuda hari ini seperti kehilangan role model dalam meraih cita-cita untuk menjadi agen of change. Bagaimana tidak? Pemuda hari ini lebih banyak yang eksis mencari sensasional di dunia maya maupun nyata. Bagaimana idealisme akan tajam apabila kehidupan yang praktis, hedonis, materialis dan konsumtif menjadi basis dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Role model di kalangan elit pun semakin surut, seperti ayam kehilangan induknya. Banyak elit bangsa yang ugal-ugalan dan memberikan kebijakan-kebijakan yang merugikan orang banyak. Kasus korupsi, kolusi dan nepotisme adalah contoh nyata. Kasus ini begitu marak terjadi dan masih menghiasi atmosfer langit perpolitikan Indonesia.
Nabi Muhammad sebagi Role Model Pemuda
Lalu siapa role model yang akan kita ikuti dalam membawa perubahan di masa depan? Tentu role model kita adalah Rasulullah saw, Muhammad adalah prototype anak muda yang cerdas, tangguh dan tidak mau terpenjara mentalnya. Walaupun lahir dalam kondisi miskin dan yatim piatu akan tetapi Muhammad tidak putus asa dan ia dobrak penjara mental tersebut untuk membuktikan kepada dunia bahwa orang yang tidak memiliki modal material bisa menjadikan dirinya sebagai pembawa perubahan di masa depan yang cerah dan memutus rantai jeratan sistem-sistem yang tidak adil dan tidak berperikemanusiaan. Tak heran apabila Michael Hart menempatkan Muhammad di posisi pertama dalam bukunya 100 tokoh paling berpengaruh di dunia.
Perjuangan dalam menegakan keadilan dan mecerahkan zaman tidak serta-merta dilakukan dengan praktis dan singkat. Proses yang panjang dan tantangan yang terjal Muhammad lalui dengan penuh kesungguhan, kesabaran dan keikhlasan. Ini semua karena Muhammad mempunyai landasan pondasi yang kuat dan kokoh. Landasan pondasi tersebut ialah nilai tauhid (monoteisme), karena implikasi dari nilai tauhid menurut Buya Syafi’i yakni tegaknya keadilan, persamaan, persaudaraan dan kedamaian dalam masyarakat universal. Landasan pondasi yang lainya yaitu siddiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan), dan Fathonah (cerdas). Nilai-nilai luhur ini Muhammad pegang teguh dan ia terapkan didalam perjuanganya untuk merubah kondisi sosial zaman yang suram menjadi terang-benderang.
Nilai-nilai luhur tersebut dapat juga dijadikan sebagai modal sosial didalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Apabila nilai tersebut diamalkan dengan baik oleh pemuda dan generasi millenial maka tatanan sosial akan terbentuk dan terealisasikan dengan baik. Pemuda sebagai Agen of Change dapat menjadi tumpuan harapan bangsa untuk membawa perubahan kearah yang lebih baik. Ini merupakan tanggung jawab pemuda dan juga tanggung jawab sosial yang memerlukan kerja keras, kerja cerdas dan penuh tanggung jawab. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 ini pemuda dapat berperan aktif dalam membantu dan memberikan terobosan baru untuk menjawab masalah-masalah kemanusiaan.
*) Aldi Bintang

Helmi
Mencerahkan sekali mas…