Agar Tidak Bingung dengan ‘New Normal’
Oleh: Delita Sartika
Rahmania, sudah dua bulan lebih kita mengikuti himbauan pemerintah untuk tetap di rumah, tentunya, untuk menekan angka penyebaran Covid-19 ini, yang bahkan di beberapa daerah sudah diterapkan PSBB.
Ya, kita sama-sama berusaha dan saling jaga. Lalu, kemarin siang, saat aku pergi untuk berbelanja kebutuhan dapur bulanan. Niat hati pergi pagi-pagi sekali, agar tidak bertemu orang terlalu ramai. Tepat di jam buka supermarket, saya sampai di supermarket tersebut.
Lalu, apa yang dilihat? Nampak manusia berbondong-bondong. Ramai sekali.
Akhirnya saya belanja cepet-cepet. Setelah mengambil beberapa kebutuhan, eh di kasir sudah antri lagi.
Mungkin, Rahmania sekalian juga menemukan fakta yang sama.
Entah… harus merasa gimana soal PSBB dan social distancing yang kayak gaya pakaian ukuran all-size ini. Mau ketat bisa, mau longgar molor tinggal dilepas karetnya. Suka-suka. Pemerintah kayak orang bingung. Rakyat lebih bingung. Petugas bingung. Rumah sakit bingung. Semua bingung.
Yang nggak bingung cuma bakul sayur langgananku. Aku WA, nanya jualan apa nggak, dia balesnya galak, tanpa bingung-bingung: “Nggak usah nanya-nanya lagi, kami jualan terus.”
“Baiklah,” helaku.
Padahal aku nanyain, karena di berita ada belasan pedagang di pasar induk yang hasil tesnya positif. Siapa tau dia takut ke pasar, kayak aku.
Tapi ya Rahmania, di sisi lain, lockdown berkepanjangan memang opsi yang nggak masuk akal. Ada yang sampe nulis gini: “lama-lama orang bukan meninggal karena Covid-19, tapi karena stress himpitan ekonomi.”
Mungkin benar, kita harus memikirkan cara hidup dalam new normal ini. Banyak yang memprediksi pembatasan sosial akan terjadi on-off selama dua tahun ke depan. Semacam strategi “buying time“. Sambil nunggu vaksin jadi, kita diminta belajar disiplin mematuhi protokol kesehatan di lingkungan publik, dan bersama menjaga agar rumah sakit tidak kewalahan karena lonjakan pasien.
Sejujurnya, setiap kali harus mendatangi tempat ramai sekarang, aku sendiri nggak ‘se-parno’ di awal Work From Home dulu. Hanya terasa ribetnya saja: Pakai masker, hand sanitiser, tissue, memilih tempat yang menyediakan cuci tangan, ngurangin transaksi pakai uang tunai, nggak bawa dompet dan printilan lain, dan saat sampai di rumah, langsung mandi.
Kadang, ‘kagok’nya kalau-kalau bertemu orang yang nggak seribet itu mikirin virus. Masih ngulurin tangan buat salaman. Ada juga yang nggak ngerti gesture, kita berusaha jaga jarak jika bicara. Aku menjauh, dia justru geser mendekat.
Tapi secara umum, ada beberapa kebutuhan jangka pendek yang sangat membantu kita beradaptasi new normal life, misalnya akses cuci tangan dan keharusan masif menggunakan masker di ruang publik. Lalu alternatif mengatasi padatnya transportasi publik.
Di semua belahan bumi, negara-negara melakukan berbagai eksperimen di segala lini, mulai dari penemuan vaksin, manajemen rumah sakit, hingga rekayasa sosial dalam menerapkan social distancing.
Di Perancis, orang dianjurkan bersepeda kemana-mana. Biaya perbaikan sepeda bahkan masuk anggaran negara. Belanda mencoba berbagai prosedur menjalankan restoran dengan konsep social distancing.
Beberapa negara mencoba caranya membuka kembali sekolah dengan model paling minim resiko. Di Indonesia sendiri juga sudah mulai kelihatan adaptasi bisnis. Seperti bisnis online shopping yang makin subur.
Konsultasi dokter juga sudah bisa di lakukan tanpa tatap muka. Tukang cukur mencoba model bisnis dari rumah ke rumah. Artis dan seniman bereksperimen dengan cara menghibur tanpa melibatkan massa. Setidaknya itu yang terlihat olehku.
Pun, program-program bantuan sosial berbasis masyarakat juga makin ramai dan bervariasi caranya.
Oh iya, juga jangan lupa peringatan para ahli: harsh financial crisis is looming in. Cara kita mengatur uang juga harus berubah dengan radikal. Sekarang bukan yang waktu tepat untuk melanjutkan gaya hidup konsumtif, tapi justru saat paling baik untuk “menghamburkan” uang dengan cara donasi.
Alasannya sederhana, rumusnya: No one is safe until everyone is safe. Tidak akan ada yang aman dan selamat sampai semua orang aman dan selamat. Egoisme adalah strategi paling ngawur saat ini, karena keselamatan kita, secara fisik, emosi, dan sosial ekonomi tergantung pada keselamatan bersama.
Mungkin krisis Covid-19 ini seperti saringan halus yang memisah, mana inti kehidupan yang esensial dan mana aksesorisnya saja. Dalam lockdown kita bisa memilih mana buang waktu dan buang uang yang esensial, yang bermanfaat dan tidak, mana kerjaan yang urgent dan tidak, mana kehidupan sosial yang penting untuk wellbeing dan mana yang basa-basi garing. Mana aspek pendidikan yang benar-benar bermakna dan mana yang hanya sekedar melepas kewajiban saja dalam kurikulum.
Maybe the new normal is already here. Kita cuma harus cepet berhenti bingung. Jangan bilang lagi “Nanti kalo…”
*) Delita Sartika, Dosen pada Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP – Universitas Jambi
