f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perlindungan

Rem Kendali Diri

Oleh: Muhammad Fijri Nurfadillah*

Pemberian adalah sesuatu yang diberikan. Bentuknya, berupa harta, ilmu, barang, jasa maupun tenaga. Pemberian juga bisa diartikan sebagai sesuatu yang didapat dari orang lain (karena diberi). Dalam Islam, pemberian disebut Hibah, yang berarti “Memberikan Sesuatu”,

Rahmania, kita ketahui bahwa, keluarnya harta dengan derma (pemberian) bisa berupa hibah, hadiah, dan sedekah. Jika tujuannya untuk mendapat pahala akhirat, maka dinamakan sedekah, bila untuk mempererat hubungan, maka dinamakan hadiah. Lalu, jika tujuannya agar orang yang diberi dapat memanfaatkannya maka dinamakan hibah.

Maka apabila kita mendapat pemberian, kita harus memanfaatkan pemberian itu, agar orang yang memberi pemberian tersebut merasa senang karena pemberian darinya di terima. Jika kita diberi barang, baik baju ataupun yang lainnya, maka pakailah pakaian itu dengan sepenuh hati.

Belajar dari Pemberian Stang Sepeda

Seperti pemberian stang sepeda, pada saat pertama kali belajar sepeda, stang adalah benda yang susah dikendalikan. Geraknya yang lentur, gampang berbelok ke kiri dan ke kanan, membuat sepeda menjadi sesuatu yang sangat liar dan berbahaya. Namun, stanglah yang menjadi “pengarah” akan kemana sepeda melaju, lurus ke depan, ke kanan atau ke kiri. Laju bisa berharga dan bermakna bila di arahkan pada tujuan tertentu, dan pengarahanya adalah stang sepeda itu.

Pada saat menaiki sepeda, kita adalah pengendali yang mengendalikan stang.

Kita akan tersungkruk ke jalur yang salah jika stang mengarah ke arah yang salah, sebaliknya kita dapat menuju ke arah yang benar bila stang mengarah ke yang benar.

Pada stang ini kita mendapatkan filosofi bahwa, tak cukup jalan yang benar untuk sampai pada kebahagiaan, namun dibutuhkan juga “pengarahan” agar laju hidup tetap berada di jalan yang benar itu.

Baca Juga  Pamerkan Cintamu dengan Mengenali Bahasa Cintanya

Pada stang terdapat rem, bel, dan lampu jalan. Pada stang ada kendali untuk melaju kencang dan berhenti pada saat yang tepat (rem): ada juga kendali untuk memberi peringatan bagi yang lain mengenai keberadaan diri kita yang sedang melaju (bel), dan ada kendali untuk menerangi jalanan yang gelap dan tak terlihat.

Kunci Kendali Diri

Rem adalah kendali yang sering dilupakan. Kegagalan, menurut para ahli, disebabkan ketidakmampuan kita menentukan kapan saat melaju, kapan saatnya berhenti. Rem itu ada dalam kendali kita, tergantung kita, kapan saatnya melaju kencang atau berhenti.

Bel sebagai kendali identifikasi diri di hadapan orang lain. Di tengah jalan, kita menemui paling tidak dua jenis orang, yang tahu keberadaan kita, namun tak menyadari (tidak mengakui) kita, bahkan bisa menghalangi laju perjalanan. Dan, yang tidak tahu keberadaan kita.

Kepada keduanya perlu ditegaskan eksistensi kita, bel adalah alatnya. Eksistensi kita bergantung pada kemauan kita, untuk mengendalikan kapan kita mengenalkan diri untuk memberi tahu, kapan kita mengenalkan diri agar orang lain menyingkir dari jalur yang menghambat cita cita. Bel adalah pemberi tahu akan kehadiran kita sekaligus ancaman bagi mereka yang lupa (menghalangi) keberadaan laju cita cita.

Kemudian, lampu jalan digunakan pada malam hari, pada saat gelap membuat arah menjadi tidak buram. Cita-cita adalah tujuan di depan sana, mungkin sebuah titik atau suatu tempat yang kita idamkan, namun semua itu butuh cahaya. Bila cahaya kehidupan (matahari) tidak dapat menerangi cita cita itu, kita membutuhkan cahaya yang kita upayakan sendiri, berasal dari diri kita sendiri.

Lampu jalan adalah cobtih yang tepat untuk cahaya hasil usaha sendiri. Lampu sepeda tidak menggunakan baterai, tidak juga aki. Lampu akan menyala ketika dinamonya diletakkan dengan ban depan sepeda, dinamo berputar mengikuti gerak putar sepeda. Tentu saja ada beban yang semakin memberat, laju ban akan sedikit terhambat demi menghasilkan cahaya penerang jalan. Namun begitulah kehidupan, pada saat menghadapi masalah “ketidakjelasan” arah, kecepatan harus dikurangi agar kita bisa menghasilkan cahaya penerang dan mawas diri.

Baca Juga  Kiat-Kiat Membersamai Anak Belajar Berpuasa

Pada saat lampu jalan, kita belajar mengenai kearifan untuk menerangi kehidupan dari hasil upaya sendiri. Tak ada hak kita untuk menyalahkan kehidupan ketika dia menunjukan ketidakjelasan, tugas kita adalah membuat hidup mendukung tujuan kita dengan upaya sendiri.

Stang sepeda yang sangat luar biasa, banyak makna di dalamnya, banyak pembelajaran dari hal tersebut. Stang sepeda yang kian pelajaran, akan tetapi di dalamnya menuai makna buat kehidupan kita , tetaplah menjadi stang sepeda seutuhnya, dan tetaplah kendalikan sepeda nya untuk mencapai tujuan yang di inginkan Tetap kendalikan diri kita dengan pengendalian diri yang berserah kepada Allah.

Selamat menjalankan Ibadah Bulan Ramadan, Rahmania!

*Penulis adalah  Sekretaris Bidang LSBO PRIPM Panawuan Garut

Bagikan
Comments
  • محمد ازكى

    MaasyaAllah… Tabarokallah semoga jadi inspirasi besar untuk umat

    Mei 19, 2020
Post a Comment