Pembacaan Emansipatoris Kisah Perempuan dalam Al-Quran (VII): Maryam
Dari semua tokoh perempuan yang kisahnya termaktub dalam al-Quran, Maryam, ibu dari Nabi Isa as., merupakan perempuan yang paling terkenal. Pribadinya dihormati dan dimuliakan tidak hanya oleh umat Islam, tetapi juga oleh banyak manusia sejak masa ia dilahirkan.
Maryam lahir ketika wilayah spiritual sangat didominasi oleh laki-laki. Tidak heran jika istri Imran –yang dalam tradisi Kristiani dikenal dengan nama Hanna– menginginkan agar lahir seorang bayi laki-laki dari rahimnya. Kepada Tuhan Semesta Alam, Hanna melantunkan doa, “rabbi innī nażartu laka mā fī baṭnī muḥarraran fa taqabbal minnī”.
Meskipun yang lahir adalah bayi perempuan, kelahiran Maryam tidak membuat Hanna bersedih hati. Ia tetap menunaikan nazarnya untuk mendidik Maryam menjadi hamba yang salehah dan mengabdikan seluruh hidupnya kepada Allah di Baitul Maqdis.
Tulisan ini akan lebih jauh mengulas Maryam, sosok yang menurut Asma Lamrabet kelahirannya menjadi awal mula sebuah zaman baru bagi umat manusia. Bagaimana tidak, melalui Maryam, Allah Swt. mengoreksi tradisi seksis pada masa itu, dan menunjukkan kepada umat manusia bahwa kebajikan dan ketakwaan sama sekali tidak berkaitan dengan gender.
Perempuan Pilihan
Maryam tumbuh di lingkungan yang penuh kesalehan, spiritualitas, dan pengabdian. Adalah Nabi Zakariyah yang memberikan bimbingan spiritual dan bertanggung jawab atas kehidupan Maryam selama berdiam diri di dalam mihrab di Baitul Maqdis.
Ajaibnya, tiap kali Nabi Zakariyah mendatangi mihrab, ia mendapati bahwa sudah ada “rizq” di sisi Maryam. Mayoritas ulama menafsirkan kata “rizq” dalam Q.s. Ali Imran [3]: 37 dengan makna makanan fisik, seperti buah, daging, dan sebagainya. Akan tetapi dalam konteks ini Asma Lamrabet condong kepada makna yang disampaikan oleh Rasyid Ridha, yang menafsirkan kata “rizq” sebagai makanan rohani (spiritual nourishment).
Dengan demikian, ketika Nabi Zakariyah mendatangi Maryam, putri Imran itu sudah mendapatkan pengetahuan dan pemahaman langsung dari sisi Allah. Pengetahuan Ilahiah yang diperoleh Maryam inilah yang membuat Nabi Zakariyah, yang merupakan pembimbingnya, menjadi kaget.
Hari demi hari Maryam terus memperkuat iman dan pengabdiannya kepada Allah Swt., hingga sampai pada masa ketika Allah memilih, mensucikan, dan melebihkan putri Imran itu di atas perempuan lain. Menurut Lamrabet, semua persiapan spiritual ini merupakan cara Allah untuk menyiapkan sebuah peristiwa besar, yakni kelahiran seorang putra bernama Isa al-Masih.
Kabar yang disampaikan oleh malaikat Jibril itu tentu membuat Maryam bertanya-tanya; bagaimana mungkin ia akan melahirkan seorang putra jika tidak ada seorang pun yang pernah menyentuhnya (lam yamsasnī basyar), tidak pula ia seorang pezina (lam aku bagiyyā). Lalu untuk menenangkan Maryam, Jibril menyampaikan bahwa semua itu merupakan ketetapan Allah, Zat yang mampu menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Perjuangan dan Penderitaan
Selama masa mengandung, Maryam memutuskan pergi ke tempat yang jauh. Dalam kesendiriannya ia merasakan sakit, putus asa, dan tidak berdaya. Q.s. Maryam [19]: 22-23 mengungkapkan betapa berat situasi yang dialami Maryam, sehingga ia berandai-andai sekiranya lebih baik baginya untuk mati dan dilupakan.
Penderitaan yang dialami Maryam sejatinya bukan hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga emosional. Betapa pun kuat iman Maryam kepada Tuhan Semesta Alam, perasaan takut akan tuduhan dari orang lain mengenai dirinya terus menghantui pikirannya; bagaimana caranya agar masyarakat percaya bahwa ia bukan seorang pezina?; bagaimana pula meyakinkan mereka bahwa ia mengandung bayi tanpa melalui perantara ayah?
Dalam situasi penuh keputusasaan inilah Allah hadir. Sebuah suara muncul tidak jauh dari pohon kurma tempat Maryam bersandar; meminta agar perempuan mulia itu tidak bersedih hati. Suara itu pula yang memberi tahu Maryam tentang sumber makanan dan minuman yang bisa ia nikmati. Kata suara itu lebih lanjut, “makan, minum, dan bersenang hatilah kamu” (fa kulī wasyrabī wa qarrī ‘ainā).
Sembari meminta Maryam untuk bersenang hati, Allah juga menyarankannya untuk puasa berbicara; sikap hening tanpa kata-kata. Keheningan ini, menurut Lamrabet, merupakan sikap terbaik yang dapat dilakukan Maryam untuk menghadapi segala tuduhan, fitnah, dan kecaman yang disematkan oleh masyarakatnya, sebab tidak mungkin ada pembenaran yang dapat meyakinkan mereka mengenai kejadian tersebut. Kelahiran Isa tanpa keterlibatan ayah benar-benar mengubah sikap masyarakat terhadap sosok yang dulu mereka kagumi dan hormati.
Dengan tetap berpuasa kata-kata, di tengah permusuhan dan kebencian yang dialamatkan kepadanya, Maryam menunjuk bayi yang ada dalam gendongannya. Pada momen itulah Isa bin Maryam berkata, “sesungguhnya aku ini hamba Allah” (Q.s. Maryam [19]: 30). Betapapun ajaibnya proses kelahiran Isa, al-Quran berulang kali menegaskan bahwa beliau hanyalah seorang nabi; manusia pilihan yang lahir dari rahim perempuan pilihan.
Kisah Maryam (dan Isa) tak pelak merupakan salah satu bukti kekuasaan Tuhan. Lebih dari itu, Lamrabet menegaskan bahwa “Maryam, chosen by God, His favourite … she will remain for eternity, as decreed by the Qur’an, the undeniable testimony to beautiful feminine spirituality, brilliantly emanating light and truth but also so human” (hlm. 89).
