f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
rumah tangga

8 Persen Pertumbuhan Ekonomi dan Cita-Cita Rumah Tangga Sejahtera: Jangan Omon- omon!

Katakanlah kamu adalah seorang bapak rumah tangga. Bangun tidur, istri sudah cemberut karena listrik mati dan nasi belum matang. Anak-anak sudah ribut minta uang jajan, dan di luar, tetangga datang menagih arisan. Di tengah kekacauan domestik itu, kamu berdiri di ruang tamu, menatap kalender, lalu bilang: “Mulai bulan depan, pendapatan kita naik delapan persen!”

Begitulah rasanya ketika Presiden Prabowo Subianto dengan gagah menyatakan target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar delapan persen per tahun. Lugas. Penuh keyakinan. Seperti suami yang tiba-tiba yakin bisa jadi jutawan dari bisnis lele dumbo dalam ember. Semangatnya boleh, tapi kita semua tahu hidup tidak sesederhana motivasi YouTube.

Dalam logika rumah tangga, target delapan persen itu kayak bilang penghasilan bulanan dari Rp 5 juta harus naik jadi Rp5,4 juta. Keliatannya sih cuma nambah dikit, tapi di dunia nyata, naik segitu berarti kamu harus cari kerjaan sampingan, mulai dagang cilok, atau jual barang-barang nostalgia kayak CD bajakan dan komik jadul. Atau kalau kamu pejabat, ya tinggal bikin proyek baru, undang investor, atau potong anggaran sebelah, asal jangan potong nasi kotak rakyat.

Pak Prabowo sudah bilang bahwa pemangkasan belanja negara mencapai Rp 306 triliun adalah bagian dari upaya menyuburkan ekonomi. Dalam bahasa emak-emak, ini kayak bilang: “Kita stop beli skincare Korea dulu, uangnya buat renovasi kamar mandi biar nggak licin.” Prioritasnya benar. Tapi siapa yang berani jamin nanti nggak tergoda lagi beli serum glowing saat Shopee diskon?

Lalu, muncullah program ‘Makan Bergizi Gratis’. Niatnya mulia: anak-anak sekolah dan ibu hamil diberi asupan sehat supaya generasi masa depan tidak tumbuh jadi stunting alias fisik pendek, mental penat. Tapi, dari segi rumah tangga, program ini mirip ibu-ibu yang tiba-tiba janji masak empat lauk sehari buat keluarga. Baik banget sih, tapi kalau bahan di pasar naik, gas habis, dan tukang sayur libur, bisa kacau.

Baca Juga  Lidia Poet: Sebuah Makna Perjuangan Pengacara Perempuan Pertama Italia

Program ini memang digadang-gadang jadi pengungkit ekonomi rakyat. Karena siapa tahu, dari makanan gratis bisa muncul perputaran uang: petani jual bahan mentah, ibu-ibu masak, dan anak-anak makan sambil bahagia. Tapi ya, ini Indonesia. Kadang ide cemerlang bisa tenggelam dalam birokrasi tebal. Seperti rencana masak rendang tiap Jumat yang gagal karena dagingnya keburu basi di perjalanan.

Selain makan bergizi, Prabowo juga menggandeng pertanian. Katanya, petani harus dimodernisasi. Ini seperti suami yang baru belajar hydroponik dari TikTok dan langsung beli bibit kangkung seharga Rp 400 ribu. Mimpinya besar: panen melimpah, jual ke pasar, lalu viral di Instagram. Tapi faktanya, petani kita masih berkutat dengan pupuk mahal, panen tergantung cuaca, dan harga gabah yang kadang lebih murah dari ongkos ojek.

Nah, untuk membiayai semua mimpi indah ini, Prabowo mengusung reformasi pajak. Bahasa gampangnya: semua warga yang selama ini ngumpet dari pajak, ayo tobat. Pemerintah ingin pajak naik, tapi tanpa bikin rakyat makin megap-megap. Ibarat kepala keluarga yang bilang ke anak-anak: “Mulai bulan ini, semua uang jajan dicatat dan setor lima persen ke kas keluarga.” Reaksi anak-anak? Meringis, tentu saja.

Belum lagi urusan kabinet. Kabinet Prabowo tercatat sebagai yang paling gemuk dalam sejarah reformasi. Total 109 kursi. Ini kalau di rumah tangga, jumlah anggota keluarga segede RT. Bayangkan kamu tinggal di rumah yang isinya tiga nenek, lima ipar, sepuluh keponakan, dan satu guru les. Banyak kepala, banyak suara, banyak drama. Kalau bisa rukun sih syukur, kalau nggak, siap-siap rebutan remote TV tiap malam.

Sekarang mari kita lihat realitasnya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama dua dekade terakhir paling pol cuma mentok di angka lima persen. Itu pun dengan syarat global nggak batuk, harga minyak stabil, dan ekspor lancar. Jadi ketika ada yang bilang delapan persen, kita bukan pesimis, hanya realistis. Kayak ibu rumah tangga yang bilang, “Aku bisa kok bikin brownies ala MasterChef,” padahal oven-nya aja masih numpang tetangga.

Baca Juga  Maslahah Mursalah Asy-Syatibi untuk Ekonomi Konvensional

Belum lagi soal hutang negara. Meskipun pemerintah bilang aman, namanya juga rumah tangga: hutang itu tetap hutang. Mau cicilan motor, KPR, sampai utang beli susu di warung, semuanya tetap bikin kepala puyeng kalau penghasilan nggak nambah. Pemerintah memang masih punya ruang fiskal, tapi kalau utang terus ditumpuk, kita cuma akan makin tergantung dan rentan digertak.

Dalam rumah tangga, janji-janji besar bukan sesuatu yang salah. Tapi semuanya harus punya roadmap. Mau liburan ke Bali? Bagus. Tapi tabungannya gimana? Siapa yang jaga anak? Tiketnya beli kapan? Jangan-jangan nanti cuma dapat foto Bali dari kalender dinding.

Prabowo bilang, “Target delapan persen ini bukan halusinasi.” Oke, kita percaya. Tapi rakyat ini sudah terlalu sering dengar janji, dari zaman beras tinggal masak air sampai harga BBM katanya bisa turun. Kita butuh lebih dari sekadar pidato. Kita butuh rencana konkret, transparansi anggaran, dan kejujuran jika memang ada kesalahan di tengah jalan. Karena yang kita bangun bukan sekadar angka, tapi kehidupan.

Delapan persen itu bukan cuma data di layar PowerPoint. Ia berarti dapur yang terus mengepul, anak-anak yang bisa sekolah tanpa minta sumbangan tambahan, dan harga cabai yang nggak bikin emak-emak menjerit. Ekonomi yang sehat itu kayak rumah tangga harmonis: ada kerja sama, ada pengorbanan, dan yang paling penting, ada rasa cukup meskipun sederhana.

Jadi, buat Pak Prabowo dan tim ekonomi: kami rakyat kecil akan tetap dukung, selama janji delapan persen itu bukan mimpi kosong yang dijual di atas panggung. Jangan sampai, kami semua hanya jadi penonton sinetron Pembangunan yang tiap episode-nya makin dramatis, tapi ending-nya tetap menggantung.

Baca Juga  Pasangan Berselingkuh, Cerai atau Bertahan?

Dan seperti ibu rumah tangga yang bijak pernah berkata: “Kalau penghasilan belum naik, jangan dulu nambah pengeluaran. Kalau belum bisa delapan persen, pastikan lima persen itu benar-benar terasa di dapur rakyat.”

Bagikan
Post a Comment