f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
nyawa perempuan

Semurah Itukah Nyawa Perempuan?

Penghilangan nyawa perempuan kembali marak akhir-akhir ini. Saking seringnya mendengar dan membaca berita tentang pembunuhan sadis terhadap perempuan, membuat mata dan telinga kita seolah tidak terkejut lagi. Namun, di hati tetap merasakan kepedihan. Sungguh fenomena yang sangat memprihatinkan.

Serasa tanah kuburan mereka_para korban_masih basah, tetapi sudah berjatuhan lagi korban lainnya. Dengan motif yang beragam mereka meregang nyawa di tangan orang terdekat, orang yang sudah dikenal, bahkan orang yang sangat dihormati sekaligus disayangi korban.

Perempuan dan selalu perempuan yang seakan tak pernah absen dari berita di media sosial. Begitu mudahnya bagi pelaku untuk memperdaya, merayu, mengajak berbuat asusila, bahkan melenyapkan nyawa mereka. Entah dengan cara yang disengaja, direncana, atau dengan cara terpaksa demi terpenuhinya nafsu sesaat angkara pelaku.

Para korban yang nyaris didominasi perempuan itu tak pandang usia. Dari kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga lansia. Sebegitu lemah kah para perempuan sehingga mudah bagi para pelaku untuk mengincar, mengintai, dan menjadikan mereka sasaran kekerasan dan pembunuhan?

Masih segar dalam ingatan betapa hancur dan remuk redam hati seorang ibu mendapati putri kecilnya tewas secara tragis sebagai korban kekerasan seksual. Jasad sang putri_kelas satu SD_ditemukan tidak jauh dari rumahnya. Dia pergi untuk selamanya oleh tangan manusia biadab yang gelap mata dan tak punya peri kemanusiaan lagi.

Tak hanya sampai di situ. Tidak segan-segan para pelaku melancarkan aksinya dengan sangat keji, di luar nalar, dan seolah lenyap hati nuraninya. Kadang saking biadabnya hingga tak layak lagi disebut sebagai manusia. Komentar bernada buruk dan sumpah serapah netizen berhamburan di media sosial atas perbuatan pelaku yang dinilai amat sadis.

Baca Juga  Ilusi Kesempurnaan

Di luar apakah si pelaku menyandang kelainan jiwa atau tidak, kekerasan seksual yang berujung pembunuhan tetap tidak dibenarkan dalam agama, undang-undang negara dan kehidupan bermasyarakat. Kemanusiaan yang adil dan beradab tak ditemukan di sini. Adab sudah terkikis habis oleh berbagai realita kehidupan sehari-hari yang membuat nilai kemanusiaan ikut menipis.

Dari hal-hal yang terkecil ternyata mampu menyulut emosi seseorang yang berbuntut penghilangan nyawa orang lain. Hanya karena ucapan yang membuat merah telinga, dalam waktu singkat manusia mampu berbuat fatal terhadap manusia lain. Juga karena tak mampu menahan hasrat birahi, dengan cepat pula manusia tega membantai manusia lain demi kesenangan sesaat.

Itu hanya sebagian kecil penyebab yang melatarbelakangi timbulnya berbagai kekerasan yang berakhir kematian. Sebagian besar korbannya adalah para perempuan. Perempuan yang dianugerahi Tuhan kelebihan dan kemuliaan yang tidak dimiliki oleh kaum laki-laki. Salah satu kelebihannya mampu mengandung lalu melahirkan generasi penerus. Saking mulianya hingga diabadikan dalam salah satu surah dalam kitab suci Al-Qur’an yakni surah An-nisa’.

Sebagai makhluk sosial, perempuan berkedudukan sama dengan kaum laki-laki. Pun sebagai insan ciptaan Tuhan, perempuan memiliki derajat yang sama dalam pengabdiannya kepada Sang Pencipta. Meski berkedudukan sama, fisik perempuan tak sekuat fisik laki-laki. Secara kodrati perempuan berperangai lebih lembut dan gampang rapuh, karena itu dia lebih berhak untuk dilindungi

Ketika tiba-tiba orang yang seharusnya mengayomi dan melindungi itu berbuat durjana hingga melampaui batas, masih layakkah disebut sebagai manusia? Di manakah nuraninya saat melakukan pelecehan pada perempuan-perempuan kecil di bawah umur? Apakah kadar iman di dada sudah hangus tergerus oleh berbagai persoalan hidup sehingga memicu tindak kejahatan?

Baca Juga  Darurat Reproduksi di Tengah Bencana

Mari menoleh sejenak ke belakang. Pembunuh atau pelaku sudah pasti memiliki ibu, yaitu perempuan. Dia tak mungkin lahir tanpa seorang ibu. Boleh jadi pelaku juga memiliki saudara bahkan anak perempuan. Tidakkah terbayang walau sedikit ketika hendak membantai andai yang ia habisi itu ibu atau saudara perempuannya, atau anaknya?

Jika ditanyakan apakah pelaku sudah kehilangan akal, jawabnya bisa ya bisa tidak. Kehilangan akal karena dia hanya memikirkan kenikmatan diri yang hanya sesaat. Menuruti suara hati atas bisikan setan sehingga dengan mudah berbuat sesuatu di luar akal sehat.

Tidak kehilangan akal karena setiap usai berbuat kejahatan masih ada kesadaran diri untuk mencari selamat, minimal menghindar dari aparat hukum. Apa pun ia lakukan demi keselamatan diri. Nah, ketika mencari selamat inilah, sebenarnya ia sadar telah melakukan kejahatan baru.

Kejahatan, kekerasan dan pembunuhan yang terjadi setiap hari sudah tak terhitung lagi. Rasa aman dan nyaman bagi para perempuan serasa makin mengkhawatirkan. Bahkan di lingkungan yang seharusnya mampu memberi perlindungan justru kejahatan itu terjadi dengan sangat rapi dan halus.

Hingga kini selalu ada rasa nyeri di dada setiap kali membaca berita tentang kekerasan seksual dan berakhir dengan pembunuhan yang terus berulang. Semudah itu menghilangkan nyawa seseorang dan semurah itu harga nyawa para korban.

Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Harkat dan martabatnya sudah seharusnya dijunjung tinggi. Saling menghormati, nasihat menasihati, dan saling melindungi antar sesama. Hal ini hanyalah sebagian kecil upaya dalam menghargai hak hidup manusia lain.

Bagikan
Post a Comment