f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bapak

30 Menit Berharga

Di ruang tunggu UGD sebuah rumah sakit, kutatap banyak orang berlalu-lalang. Mulai dari perawat yang mendorong kursi roda seorang wanita tua, sampai lewat pula seorang bapak dengan langkah terburu-terburu sambil menggendong anaknya yang masih kecil. Di seberang posisiku terlihat juga lelaki paruh baya sedang sibuk berbicara via telepon, dari wajahnya ia terlihat lelah dan matanya pun sembap. Beberapa orang mengantre menunggu gilirannya dipanggil. Sedangkan sebagian lain, menahan kantuk di kursi tunggu.

Sebenarnya aku sendiri tidak suka segala hal yang berkaitan dengan rumah sakit. Lorong dan dindingnya serba putih. Bau obat menyeruak ke berbagai sisi ruangan. Sampai-sampai bau orang sakit pun dapatlah kucium. Mungkin memang hidungku sensitif terhadap bau-bauan semacam itu. Satu lagi yang menyakitkan, ada saja kudengar tangisan pecah akibat kematian.

Namun, di sinilah aku sekarang. Tempat di mana ayahku menjadi pejuang atas penyakit yang dinyatakan dokter setahun silam. Dokter menyatakan ayahku mengidap karsinoma paru bertipe SCLC (Small Cell Lung Cancer). Teringat jelas kata-kata dokter hari itu, ” SCLC adalah salah satu jenis kanker paru agresif. Tidak seperti kanker paru-paru jenis lain yang lebih umum, SCLC tumbuh dan menyebar dengan cepat. Sel kanker ini berkembang seperti sekumpulan kecil butiran padat, tetapi sel-sel tersebut memiliki kemampuan berpindah dengan sangat cepat ke organ lain, seperti otak, hati, tulang, dan kelenjar adrenal. Karena itulah, banyak pasien yang terdiagnosis sudah berada pada stadium lanjut,” ucap dokter tenang dan penuh empati.

Aku tidak tahu banyak tentang kanker sebelumnya, kecuali bahwa itu sesuatu yang menakutkan. Setelah dokter menyebutkan ayah mengidap SCLC, aku pun terpaksa belajar lebih banyak mengenai penyakit ini. Hal pertama yang membuatku terkejut akan eratnya hubungan kanker ini dan kebiasaan merokok. Benci mengakui kalau ayah memanglah seorang perokok aktif. Asap rokok selalu menjadi bagian dari kesehariannya. Kini, kenyataan pahit terasa nyata. Sudah jalan setahun diriku sibuk menata hati, berusaha berdamai dengan keadaan. Tak tahu harus berbuat apa.

Baca Juga  Budak di Zaman Modern

Ibu selalu meyakinkanku tentang keajaiban akan datang bagi siapa saja yang tak berputus asa dari rahmat-Nya tetapi kupi kir keajaiban itu tidak berlaku bagi ayah. Kata-kata ibu tidak pernah mengubah fakta jika tubuh ayah semakin ringkih, kulitnya semakin pucat dan sering menahan sakit. Batuk-batuk tidak berkesudahan menjadi pengingat betapa ganasnya penyakit ini. Kemoterapi yang ayah jalani tidak lagi terasa seperti pengobatan, justru seperti serangan baru pada tubuhnya—seolah-olah ia harus bertarung melawan dua musuh sekaligus: kanker itu sendiri dan efek samping dari pengobatannya.

Puncaknya terjadi pada malam dua hari lalu ketika ayah mengerang kesakitan di bagian dada. Ibu, dalam keadaan panik luar biasa, membangunkanku dari tidur lelap. Beruntungnya, aku mahir dalam menyetir mobil jadi tak perlulah repot menunggu ambulans. Sesampainya di rumah sakit, ayah segera dibawa ke ruang UGD. Serangkaian pemeriksaan dilakukan untuknya. Aku tetap berdiri di luar ruangan UGD, merasakan beratnya waktu berlalu. Di dalam kesibukan yang mengisi ruang tunggu, pikiranku penuh dengan kekhawatiran—terutama untuk ibu.

Aku tidak menangis kala itu, melainkan terus menenangkan ibu. Kekhawatiranku lebih besar terhadap kondisi ibu dibandingkan keadaan ayah. Mungkin terdengar aneh, tetapi begitulah adanya. Sejujurnya, aku telah kehilangan sosok ayah sejak di bangku sekolah dasar. Kehilangan di sini bukan dalam arti wafat melainkan lebih kepada figur seorang ayah—figur di mana seharusnya menjadi pemandu, pelindung, dan sosok yang selalu ada. Aku tumbuh lebih banyak mengandalkan ibu. Kehadiran ayah di rumah terasa seperti kenangan pudar, seolah ia hadir hanya dalam wujud fisik tanpa benar-benar berfungsi sebagai seorang ayah.

Ayah selalu sibuk dengan dunia kerjanya, sampai-sampai lupa menghadirkan waktu bagi putri kecilnya. Selama fase perjalanan hidupku, kebersamaan dengan keluarga hampir sepenuhnya didominasi oleh ibu. Ia selalu hadir menguatkan dan meluangkan waktunya untukku. Rasanya iri melihat teman-teman perempuanku menghabiskan waktu bersama ayahnya, meski hanya mengobrol santai. Aku ingat betapa terlukanya hatiku saat teman-teman berbicara tentang ayah mereka yang memberikan nasihat hidup atau bagaimana mereka berbagi cerita tanpa merasa tertekan. Semua itu terasa seperti mustahil.

Baca Juga  Membuka Kembali Pintu Pemahaman tentang Perempuan

Aku pernah mendengar ungkapan, ”Cinta pertama seorang anak perempuan ialah ayahnya”, namun sepertinya tidak bagiku. Aku tidak merasakan kehadiran sosok ayah sebagai tempat berlindung, sebagai figur yang membimbingku. Sebaliknya, ibulah yang menggantikan peran itu. Aku sering berpikir, jika ada satu hal yang aku pelajari dari kurangnya kehadiran ayah, itu adalah betapa kuat dan tangguhnya ibu. Ia mengajarkanku tentang ketulusan dan pengorbanan tanpa batas.

Sekarang, saat ayah berjuang melawan penyakitnya, aku merasa ada banyak yang perlu aku renungkan tentang hubungan kami. Setidaknya aku ingin berterima kasih atas segala perjuangan ayah untuk sembuh. Entah mengapa juga malam ini terasa syahdu. Setelah aku dan ibu menunggu cukup lama, akhirnya kami diizinkan masuk ke kamar ayah. Aku melihat ayah terbaring lemah, berbagai alat medis terpasang di sekelilingnya—selang infus, monitor detak jantung, dan alat bantu pernapasan. Walau begitu, matanya masih menunjukkan sinar harapan, senyum lemah muncul di bibirnya, memberikan sedikit kelegaan di tengah ketegangan.

Aku menggenggam tangan ayah lembut, merasakan dingin dari kulitnya.”Yah, kami di sini,” suaraku bergetar menahan tangis. Dengan napas berat dan penuh usaha, ia mulai berbicara.”Maafkan ayah karena banyak mengecewakan kalian,” katanya dengan suara hampir tak terdengar, namun cukup jelas bagi kami.

Ibu duduk di sampingku, air matanya mengalir di pipi sembari berusaha tersenyum. ”Ayah tidak perlu minta maaf, kami tahu ayah mencintai kami. Ayah hebat sudah berjuang selama ini,” kataku menguatkan.

Ayah mengangguk perlahan, ia mencoba mengumpulkan kekuatannya. ”Ayah bangga padamu,” suaranya terdengar serak. ”Meskipun ayah jarang bersamamu tapi ayah tahu kau hebat dan penuh kasih.” Ia berhenti sejenak, berusaha menahan rasa sakit. ”Ayah menyesal tidak banyak berada di sampingmu selama ini. Ayah harap kau tahu betapa ayah menyayangimu, meskipun ayah sering kali tidak bisa menunjukkan.” lanjutnya dengan suara lemah.

Baca Juga  Ayah: Sejuta Kerinduan Untuknya

Aku terdiam, merasakan emosi membanjiri dadaku. Kami kemudian saling bercerita tentang kenangan masa lalu, tentang banyak hal yang tak sempat kami katakan sebelumnya. Sekitar 30 menit kami berbincang dengan ayah, mencoba merangkum semua yang tak terungkap selama bertahun-tahun.

“Terima kasih, Ayah,” tangisku pecah. ”Terima kasih atas semuanya, terima kasih karena ayah sudah meluangkan waktu, akhirnya kita banyak bercerita,” sambil terisak. Ayah mengelus kepalaku, ”Kau harus kuat. Hidup tetap berjalan. Hiduplah dengan penuh cinta, Nak. Ibu dan kau, segalanya bagi Ayah.”

Setiap kata terasa seperti hadiah terakhir, sebuah kesempatan menyampaikan rasa sayang dan penyesalan. Aku melihat ke arah wajah ayah, kini matanya mulai kehilangan kilau hidup, seolah mengisyaratkan bahwa waktu kami bersama semakin mendekati akhir. Ayah mencoba mengucapkan dua kalimat syahadat. Aku dan ibu, dengan tangan yang gemetar membantunya melafazkan. Suaranya semakin melemah namun tetap penuh keikhlasan. Akhirnya, Ayah pun menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang. Momen itu bukan hanya menjadi akhir dari perjalanan panjang penuh emosi dan kenangan, tetapi juga awal dari perjalanan baru kami, membawa pelajaran berharga yang telah ditinggalkan oleh ayah.

Bagikan
Post a Comment