f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kurma

Sebutir Kurma untuk Laila

Malam sudah larut ketika ibu Laila melipat dan memilih bahan-bahan jahitan yang rencananya akan dipotong esok pagi. Angin malam menerobos daun pintu yang sudah berlubang di sana sini dirasakannya dingin menggigit tulang. Malam yang sulit baginya untuk memejamkan mata meski raganya letih. Hingga sayup-sayup terdengar suara kentongan dari kampung lain yang ditabuh bertalu-talu menandakan waktu menunjukkan tengah malam.

Peristiwa yang menimpa putrinya pagi tadi membuatnya kepikiran. Laila adalah putri sekaligus harta berharga satu-satunya yang ia miliki. Sebagai ibu, ia tidak akan rela hati jika ada yang menyakiti atau mencelakai putrinya. Apa pun akan ia lakukan demi mengembalikan keceriaan buah hati yang akhir-akhir ini cenderung menghilang. Dia bertekad mendidik dan mengantarkannya menjadi pribadi yang mandiri, kuat, dan memiliki keluhuran budi.

Demi sang buah hati pula ia rela dan tak menyesal berhenti mengajar sebagai guru matematika di sebuah SMP swasta. Semata-mata untuk mendampingi tumbuh kembang Laila yang sangat ia cintai, meski rindu mengajar kadang datang mengusik perasaan. Untuk biaya hidup sehari-hari, selain menerima jahitan, ibu Laila memberi les privat matematika bagi anak-anak di lingkungan sekitar.

Ibu Laila masih muda dan berparas manis. Masyarakat di sekitarnya tidak banyak yang tahu latar belakangnya. Mereka hanya tahu Laila hidup berdua dengan sang ibu yang baru setahun tinggal di kampung itu. Sebagai penjahit baju khusus perempuan, ia terkenal dengan jahitannya yang rapi dan teliti. Banyak pelanggannya yang merasa puas dan cocok dengan hasil kerjanya.

Sejak balita Laila tidak pernah merasakan pelukan hangat sang ayah. Lelaki itu meninggalkan seorang istri dan bayi mungilnya begitu saja, pergi bersama mantan kekasihnya dan tak pernah kembali. Kadang Laila merasa iri dengan teman-temannya yang memiliki orang tua lengkap. Sudah lama dia memendam kerinduan, kasih sayang dan sosok ayah dalam kehidupannya. Meski hal ini membuat dia menjadi anak yang pendiam, tetapi secara akademis dia sangat cerdas.

Baca Juga  Kenali Dirimu, untuk Mengenal Kebahagiaanmu

Siang cukup terik ketika Laila pulang sekolah sembari menutup dadanya dengan tas dan tampak bercak kuning kecokelatan di kedua lengannya. Tidak seperti biasanya, dia kelihatan terburu-buru. Seakan ada yang ibu sembunyikan, yang sejak pagi sudah bercengkerama dengan jahitan-jahitan yang belum kelar.

Usai ganti baju Laila tidak langsung makan, dia membawa baju putihnya ke kamar mandi. Ibu penasaran, ia menghampiri Laila yang tengah mengucek-ucek bajunya dengan sabun detergen.

“Ada apa dengan bajumu, Nak?” Ibu bertanya pelan hampir tak terdengar. Sambil jongkok Laila hanya memandang ibunya tanpa menjawab. Dia takut ibunya marah karena baju putihnya kotor, sedangkan besok pagi akan ia pakai lagi.

“Apa Beni mengganggumu lagi?” Ibu kembali bertanya dengan lebih lembut dari pertanyaan yang pertama.

“Dia merebut bekalku, Buk! Dia marah, tadi minta buku PR Laila dan tidak aku kasih,” jawab Laila menunduk sambil menyembunyikan kedua mata polosnya yang mengembun.

Sudah tiga hari Laila tidak membawa bekal nasi. Dia cukup membawa tiga butir kurma pemberian temannya, Shofia, yang ayah bundanya baru pulang dari ibadah haji.

“Kata Shofia, makan kurma dianjurkan berjumlah ganjil, Buk. Satu, tiga, lima, dan seterusnya,” terang Laila yang hari itu tampak girang mendapatkan oleh-oleh dari Shofia. Kurmanya berukuran cukup besar yang belum pernah ia jumpai sebelumnya.

Sesuai pesan Shofia, Laila diberi kurma berjumlah ganjil, sembilan. Dia membawa kurma ke sekolah sebagai pengganti bekal agar hemat dan tak perlu jajan di kantin. Selama dua hari ia membawa masing-masing tiga butir. Tiga butir lainnya diberikan kepada ibu, tetapi saat itu ia minta sebutir karena tak tahan ingin mencicipi. Laila tahu, mereka jarang makan kurma kecuali ada tetangga yang berbaik hati memberi.

Baca Juga  Hitam Putih Hati

Laila masih tampak sedih karena kemarin lusa Beni mengolok-olok bahwa Laila tak punya ayah. Besoknya, mengancam Laila agar selalu menyetor jawaban setiap ada PR. Ancaman Beni cukup membuat Laila ketakutan, karena dia terkenal paling bengal di kelas itu.

Tidak hanya terhadap Laila, tetapi juga terhadap teman laki-laki lain yang dianggap lemah. Tak segan-segan ia tega menyakiti ketika kemauannya tak dihiraukan. Bahkan kadang merebut bekal temannya saat jam istirahat sambil tertawa-tawa.

Ancaman Beni ternyata tidak main-main. Pada hari kedua ketika jam istirahat, Laila kembali membuka bekalnya 3 butir kurma seperti kemarin. Satu ia pegang dan siap masuk mulut. Tiba-tiba ada yang menarik kasar kerudungnya dari belakang dan kurma pun terlepas jatuh di lantai.

Dalam hitungan detik Beni sudah berada di dekatnya dan merebut kurma yang ia pungut dari lantai. Dengan kasar Beni juga mengambil dua butir lainnya lalu digosok-gosokkan ke baju Laila seolah menulis di papan tulis. Kedua mata Laila berkaca-kaca menahan marah dan tangis. Beni terlihat puas dan berlalu. Hampir tiap hari dia melakukan perundungan terhadap teman-temannya yang tak mau menuruti keinginannya.

Suara kentongan di kampung sebelah lambat laun makin menghilang membuat suasana malam makin sunyi. Hanya suara jangkrik yang bersahutan bak paduan suara kanon. Ibu Laila masih duduk terpaku di pinggir kasur tempat Laila berbaring. Dipandanginya Laila yang tengah terlelap dengan rasa penuh kasih. Diciuminya kening sang putri seraya membisikkan doa, memohon tak ada lagi perundungan di hari esok dan seterusnya.

Malam makin sepi, tapi rasa kantuk ibu Laila lenyap entah ke mana. Ada secuil sesal dalam dadanya mengingat kemarin sempat mencicipi sebutir kurma. Mangkok plastik kecil bekas wadah puding itu masih di tangannya. Dia yakin Laila besok pagi sudah bisa tersenyum kembali. Masih ada kurma yang akan ia bawa sebagai bekal, meski hanya sebutir.

Bagikan
Post a Comment