f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kritis

Ruang Tengah antara Kritis dan Tersinggung

Keterampilan dalam berwacana kritis 10 tahun ini sedang digalakkan di berbagai disiplin ilmu. Bahkan di dunia akademisi sempat menjadi tren yang cukup menjanjikan jika kajiannya terdapat label “kritis”. Namun pada kenyataan di lapangan, apakah wacana kritis ini mampu diserap atau diterima oleh khalayak umum?

Sebelum merujuk pada keadaan lapang hari ini, mari kita tinjau ulang definisi yang sebenarnya mengenai wacana kritis. Berdasarkan KBBI, kritis” memiliki makna tidak lekas percaya, bersifat selalu berusaha, dan tajam dalam penganalisisan. Dalam budaya Indonesia atau lebih spesifik budaya Sunda (penulis: orang Sunda), mempertanyaan kembali sesuatu yang sudah diutarakan cenderung menimbulkan ketersinggungan, atau melakukan peninauan atas sesuatu akan berdampak pada citra negatif peninjaunya.

Padahal jika dilihat dari kacamata ilmiah semestinya fenomena tersebut haruslah menjadi situasi yang sehat. Bagaimana tidak? Dengan mempertimbangkan Kembali apa yang akan diputuskan atau akan diutarakan memberikan keputusan yang ajeg tanpa terkesan plin plan.

Sebagai contoh sederhana, ketika sedang melakukan perbincangan antara dua orang yang memiliki keterpautan umur (atau kesenjangan sosial) yang berbeda, entah jauh ataupun dekat, ketika penutur yang lebih junior merujuk dirinya dengan istilah “aing”, yang tersinggung adalah seniornya. Atau memanggil lawan tuturnya dengan kata “maneh”, juga sama tersinggungnya. Berangkat dari hal kecil ini, merambah pada, “pengambilan” keputusan yang keluar dari senior akan lebih benar dari junior atau struktur bahasa senior lebih valid daripada junior. Senior boleh bertutur kasar atau santai, tapi junior tidak.

Kasus ini pernah terjadi di sosial media saat salahsatu ex. gubernur mendapatkan komen perujukan personal dengan kata “maneh”. Penutur yang mengutarakan kata tersebut bukanlah jajaran gubernur, melainkan guru sekolah yayasan biasa. Fenomena ini berujung pemecatan. Lain ceritanya jika yang menuturkannya adalah orang yang memiliki status sosial lebih tinggi, bisa sekelas menteri atau direktur sebuah perusahaan besar, fenomena tersebut akan dilabeli sebagai sebuah keakraban.

Baca Juga  Belajar Pendidikan Al-Quran Anak Usia Dini dari Doktor Kamil El-Laboody (1)

Lalu bagaimana dengan wacana kritis yang digembor-gemborkan dapat diimplementasikan kepada khalayak umum sementara ketersinggungan masyarakat masih sangat besar?

Merujuk pada kajian linguistik yang membahas tentang ketersinggungan ini, teori yang dimiliki masih belum cukup kuat untuk menciptakan sebuah formula dalam menghindari adanya ketersinggungan. Kajian linguistik terutama kajian pragmatik, baru sampai pada bukti-bukti linguistik yang mengindikasikan adanya ketersinggungan dalam sebuah dialog. Kembali lagi, ketersinggungan ini bersifat sangat subjektif, sehingga standar ketersinggungan antara satu dengan yang lainnya dipastikan akan berbeda. Konteks yang mengiringinya pun cukup kompleks. Mulai dari mood, hingga norma-norma kehidupan.

Lalu, apakah masih ada ruang tengah antara sikap “kritis” dengan sikap “tersinggung”?

Harusnya ada. Adanya di mana? Tentu ada pada diri masing-masing. Sejauh mana, seluas apa, kita sebagai penutur atau petutur mampu melebarkan pemakluman atas perbedaan yang di luar dari apa-apa yang diyakininya secara kuat. Selain itu, penutur ataupun pertutur dapat mempelajari atau mengisi kognisinya dengan wawasan yang memumpuni mengenai teknik pembacaan, pemaknaan, ataupun penyimpulan sebuah wacana.

Sekilas mengenai teknik pembacaan, berdasarkan teori Barthes dalam kajian semiotika. Bahwa dalam pembacaan sebuah wacana ada istilah denotasi dan konotasi. Denotasi adalah perujukan makna yang didasarkan pada kamus atau bersifat harfiah sedangkan konotasi adalah pengambilan makna yang ditinjau menggunakan makna konteks. Situasi apa yang membersamai teks tersebut, entah dari sudut pandang penutur aslinya, penulis aslinya, atau apa-apa yang membersamainya.

Contoh sederhananya kata “aing” secara leksikal memiliki makna “saya”. Jika dipandang melalui makna leksikal saja, kata “aing” tidak seharusnya dapat menimbulkan ketersinggungan terhadap siapapun, sama seperti halnya kata “abdi”, “urang”, “aku”, dll. lantas kenapa pada konteks tertentu kata “aing” ini menjadi akar ketersinggungan?. Alasan yang membuat hal ini karena konteks yang membersamai kata “aing” tersebut.

Baca Juga  Bagaimana Al-Quran Menanggapi Ungkapan “Jodoh Tidak Akan Tertukar”?

Jika dialog penutur terjadi di daerah sekitar Jawa Barat terutama daerah yang memiliki bahasa ibu Sunda, akan memiliki kognisi bahwa kata “aing” adalah kata yang memiliki standar kesopanan rendah. Kata ini tidak sepatutnya dituturkan dalam dialog bersama orang yang seharusnya dihormati. Sebaliknya, jika dituturkan kepada petutur yang memiliki kesetaraan sosial entah status, lokasi, atau umur, maka akan menciptakan sebuah keakraban. Lain halnya jika dituturkan bagi penutur yang memiliki status sosialnya lebih rendah, dapat menciptakan sebuah relasi kuasa yang kuat seperti penutur “layak dihormati”.

Contoh kedua kata “maneh”, pada situasi tertentu seperti dalam media sosial yang sudah disebutkan di atas. Kata “maneh” tak lagi bermakna “anjeun”, “didinya”, “anda”, atau “kamu”. Namun, perilaku yang tidak sopan, merendahkan, menyepelekan, nyinyir, dan sejenisnya harus dilaporkan kepada institusi yang bertanggung jawab, dan tindakan yang pantas, seperti “pemecatan,” harus diambil. Dalam konteks pertemanan, kata “maneh” seharusnya tidak pernah diartikan sebagai tindakan “memecat” seseorang dari lingkaran pertemanan. Sebaliknya, itu menciptakan keakraban dan kedekatan.

Terkadang, sebuah justifikasi makna hadir tergantung pada konteks atau situasi yang terjadi pada penutur atau penulis. Begitupun dengan interpretasinya, sangat bergantung pada keadaan petutur atau pembaca. Pilihan untuk tersinggung atau tidak, adalah sebuah kebijaksanaan dari penutur ataupun petutur.

Bagikan
Comments
  • Reni Deniyati

    Sebagai akademisi, kenapa di lingkungan perkuliahan justru orang-orang yg kritis malah ditakuti?

    Oktober 25, 2023
Post a Comment