Rumah sebagai Tempat Pedagogi Primer Anak
Dalam suatu forum yang dikatalisasi oleh Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat pada tanggal 25 Juli 2020 silam, Moderator membuka public discourse tersebut dengan membeberkan sejumlah keresahan dengan dua narasi pokoknya adalah tentang bagaimana upaya konstruktif bagi para orang tua dalam membangun karakter anak di tengah-tengah anasir teknologi yang kian kompleks. Dan bagaimana upaya antisipatif para orang tua dalam memperkuat sensor parenting-nya terhadap anaknya supaya terhindar dari obesitas teknologi yang berujung pada hal-hal negatif.
Dyah Lyesmaya, Ketua Prodi PGSD Universitas Muhammadiyah Sukabumi selaku narasumber dalam forum tersebut membuka materi dengan potret eksplanatif Al-Quran sembari menjelaskan bahwa basis parenting orangtua kepada anak bisa dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Islam. Misalnya dengan pertama kali menancapkan doktrin: Wa iż qāla luqmānu libnihī wa huwa ya’iẓuhụ yā bunayya lā tusyrik billāh, innasy-syirka laẓulmun ‘aẓīm (Qs. Al-Luqman: [31]: 13). Bahwa orientasi dari pendidikan orang tua kepada anak dengan basis mutlak untuk sepenuhnya tidak menyembah selain Allah berharap menjadi alat bagi seorang anak dalam menjalani aktivitas eksplorasinya. Selain itu juga perlunya membangun karakter anak dengan muatan rasa syukur. Sehingga, output rasa syukur tadi potensial bisa berguna secara aplikatif ketika anak telah terjun dalam lingkungan sosial yang serba beragam di mana orang tua tidak selalu mampu mengawasi.
Pentingnya pendidikan dalam konteks membangun karakter anak adalah upaya untuk mengantisipasi perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Apalagi mengetahui bahwa kini tidak jarang peristiwa kejahatan yang melibatkan anak sebagai korban, juga seorang anak sebagai pelaku kejahatan bagi teman sejawatnya. Seperti peristiwa perundungan, kekerasan, dan sebagainya.
“Bahwa penting untuk saya utarakan kalau dasar-dasar parenting tersebut tidak hanya implementatif dan hanya berlaku di lingkungan rumah saja, melainkan lingkungan sosial lain. Seperti di sekolah,” tutur Dyah Lyesmaya.
Menciptakan Rumah sebagai Tempat Pedagogi Primer
Dyah Lyesmaya menguraikan sejumlah data kejahatan sosial yang melibatkan anak, seperti perundungan, kekerasan seksual, kekerasan verbal, dan lain sebagainya dengan obyektivitas yang terukur. Ini menjadi suatu validitas bahwa peristiwa amoral tidak hanya berlaku atau seyogyanya tidak menjadi perhatian antar orang dewasa dengan orang dewasa saja. Melainkan juga terjadi kepada anak-anak.
Hal tersebut menjadi suatu pemicu bagi para orang tua untuk memiliki konsep pada pendidikan anak. Pendidikan tidak serta merta menjadi pekerjaan para guru di sekolah—kendati waktu terbanyak yang seorang anak habiskan relatif lebih banyak di sekolah daripada di rumah. Tapi harus dipandang sebaliknya. Sekolah adalah tempat praktik anak-anak dalam mengaplikasikan nilai-nilai moral yang mereka dapatkan dari rumah.
Sejumlah data kekerasan atau kejahatan sosial yang melibatkan anak sebagai pelaku dan korban terpampang dan menjadi acuan di forum tersebut. Konteksnya di sini adalah data yang numerik itu sifatnya hanya para orang tua yang memahami. Anak-anak masih belum mengerti angka-angka tersebut. Mereka (anak-anak) adalah para pelaku sosial di sekolah dan di lingkungan bermainnya. Anak-anak adalah aplikator dari nilai-nilai pergaulan yang mereka dapatkan melalui interaksi dengan orang lain, termasuk orang tuanya.
Hal ini menjadi penting bagi para orang tua untuk menciptakan sensor kepekaan terhadap anak-anak tentang mendidik karakter dalam bergaul, tentang bagaimana orang tua mendidik agar anak memiliki keteguhan pada perbuatan-perbuatan baik.
Dalam fenomena konkret seperti perundungan. Menurut Dyah, peristiwa perundungan atau bullying yang melibatkan anak itu kebanyakan terjadi berdasar atas sikap atau karakter superioritas. Seorang anak merasa superior daripada anak lain sehingga anak tersebut secara tidak langsung merasa punya kemampuan untuk merendahkan anak lain. Hal tersebut menjadi potret yang harus dicapture oleh orang tua untuk mendidik anak-anak tentang betapa pentingnya menghargai orang lain.
Fragmen-fragmen di atas mengindikasikan bahwa pendidikan orang tua di rumah itu harus menjadi tempat pedagogi primer bagi seorang anak. Kendati seorang anak memiliki tempat akademis sekunder di lembaga pendidikan manapun, tetap seorang anak harus memiliki dasar-dasar moral yang baik yang berasal dari pendidikan orang tuanya di rumah.
Menciptakan Proyeksi yang Sesuai Kapasitas Anak
Lebih lanjut menurut Dyah, membangun karakter anak juga simplifikasi dari membangun proyeksi akan masa depan yang ingin seorang anak dapatkan.
“Kebanyakan anak-anak yang tawuran, anak-anak yang memiliki perilaku yang menyimpang itu karena energinya tidak tersalurkan dengan baik. Mereka tidak mampu menguasai pelajaran di sekolah, akhirnya menjadi stress, dan menyebabkan perilaku yang tidak baik,” tutur Dyah.
Nah, hal tersebut mengindikasikan bahwa proyeksi masa depan seorang anak, ketertarikan, minat-bakat, potensi, berbanding lurus dengan teknis pergaulan seorang anak. Semakin energi anak-anak tidak tersalurkan secara presisi pada hal-hal baik, maka potensi perilaku menyimpang itu sangat besar. Oleh karena itu, orang tua perlu menggaet anak-anak dengan penuh kasih sayang, kalau perlu menggiring secara maksimal terkait potensi anak-anak.
Apa untungnya? Anak lebih bisa presisi dengan apa yang diinginkannya. Sehingga, tabiat-tabiat kesehariannya secara tidak langsung dijadikan alat oleh seorang anak untuk mencapai proyeksi masa depan tersebut. Misalnya, seorang anak tertarik untuk menjadi binaragawan. Otomatis jejak langkahnya diupayakan—tetap dengan istikamah dukungan orang tua—untuk menjangkau keinginannya menjadi binaragawan. Misalnya dengan menjauhi hal-hal yang potensial merusak tubuhnya.
Jadi, pada akhirnya, kebanyakan seorang anak mengalami kekerasan. Parenting yang tidak tepat itu juga termasuk dalam nuansa kekerasan. Misalnya dengan terlalu memanjakan seorang anak, itu juga termasuk kekerasan. Karena orang tua harus tahu bahwa lingkungan sosial itu beragam. Tidak selalu tepat dengan keinginan atau karakter manja seorang anak seperti yang terus mereka alami di rumah. Maka, anak-anak itu harus dipersiapkan dengan karakter yang lengkap, paling tidak seimbang.
Reporter : Roy Widya
