f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kunasehati istriku

Kunasehati Istriku yang Berjilbab

Beberapa kali menggunakan moda transportasi kereta rel listrik (KRL), aku terkadang iseng mengamati tingkah polah penumpang. Suatu tempo, anak muda yang semula duduk langsung berdiri menawarkan tempat duduknya kepada orang tua yang baru saja naik.

Di tempo yang lain, aku melihat sepasang remaja duduk di kursi prioritas (kursi khusus untuk ibu hamil, orang berkebutuhan khusus, dan orang lanjut usia). Di gerbong yang sama ada orang yang tampak sudah lanjut usia berdiri. Sepasang remaja itu cuek, lanjut asik mengobrol. Harus kusampaikan di sini bahwa remaja perempuan itu berjilbab.

Pada kesempatan yang lain, aku naik KRL bersama istri dan si bungsu yang sudah remaja. Di gerbong yang kami naiki, tempat duduk sudah penuh. Kami berdiri. Tak lama, ada penumpang perempuan yang agak jauh dari tempat kami berdiri, memberi aba-aba kepada kami untuk duduk di kursi dekatnya yang kosong.

Sementara penumpang yang duduk persis di depan kami berdiri, tak bereaksi melihat kami berdiri. Padahal kursi di sebelahnya ditempati anaknya yang masih balita. “Seharusnya anaknya dipangku saja,” harapku dalam hati. O iya, penumpang yang berada di depan kami itu, perempuan berjilbab. Sedangkan perempuan yang menawari kami duduk, tidak.

Tingkah-polah hampir serupa juga terjadi di ruang tunggu di rumah sakit ataupun klinik. Beberapa kali melakukan pemeriksaan di sebuah klinik mata, banyak kejadian yang membuatku lagi-lagi iseng mengamati karakter orang.

Banyaknya pasien dan pengantar yang datang melebihi jumlah kursi yang tersedia di ruang tunggu, membuat sebagian dari mereka terpaksa harus berdiri. Terkadang ada anak muda yang berhati mulia dengan memberikan tempat duduknya kepada orang lain yang lebih tua. Lain waktu, tak ada. Termasuk hari itu.

Baca Juga  Melahirkan Kamu, Ternyata Menyembuhkanku

Hari itu, aku dan istriku terpaksa berdiri lebih dari dua jam di ruang tunggu saat kontrol pascaoperasi mata. Pada saat jadwal mataku harus ditetes obat, aku melakukannya sembari berdiri. Aku pikir bakalan ada yang menawariku untuk duduk.

Meskipun biasanya, kalaupun ada orang yang berbaik hati seperti itu, aku akan menolak dengan halus sembari berucap terima kasih, seraya merasa bersyukur di dunia ini masih banyak orang yang berempati pada sesama. Namun kali itu, aku merasa dunia di sekelilingku sedang sepi dari orang yang punya empati.

Yang lebih membuatku mengelus dada, di hadapanku berdiri, ada seorang perempuan paruh baya duduk, kursi di sebelahnya ia pakai untuk menaruh tasnya. Sedangkan di sekelilingnya banyak sekali orang yang berdiri, yang di antaranya adalah orang tua, sepertiku. Dan sayangnya, perempuan pemilik tas itu, berjilbab.

Ingin rasanya aku menegurnya. Namun kami (aku dan istri) tak punya keberanian. Yang begini, di samping butuh kepedulian, pun perlu keberanian. “Nanti kalau ada orang yang baru datang dan sudah renta, kita tegur saja ke ibu itu, sekalian menyadarkannya,” usul istriku.

Benar, ketika ada seorang kakek datang, aku segera menghampiri si ibu dan meminta dengan sopan agar kursi tempat menaruh tasnya itu diberikan ke si kakek. Dan alhamdulillah ia bersedia. Berarti memang agar tumbuh rasa empati, seseorang juga perlu disadarkan.

Apa yang aku ceritakan di atas, sekali lagi harus kusampaikan bahwa pelakuknya perempuan beljibab. Aku tak bermaksud mengatakan bahwa semua perempuan berjilbab bertabiat seperti itu. Mungkin hanya kebetulan saja.

Aku sendiri mempunyai beberapa teman perempuan berjilbab yang memiliki empati dan kepedulian kepada sesamanya sangat tinggi. Ada yang membuka rumah makan gratis setiap Jumat untuk orang tak mampu, bahu-membahu dengan ibunya dan ketiga anak perempuannya, yang semuanya berjilbab.

Baca Juga  Temanmu adalah Cerminan Dirimu

Ia juga yang selalu berusaha untuk memarkirkan kendaraannya manakala di jalan melihat ada orang yang perlu bantuan, lalu menghampiri orang itu guna sekadar berbagi. Misalnya dengan memberi barang dagangannya kalau kebetulan yang ditemuinya kakek atau nenek-nenek tengah kesulitan berdagang.

Pun ada emak-emak sosialita yang sampai sekarang masih secara rutin memberikan donasinya kepada beberapa panti yang pernah aku publikasikan lewat medsos. Padahal dengannya kami tak saling kenal secara langsung. Kenal hanya di medsos saja. Ia pun berjilbab.

Dan masih banyak lagi contoh temanku yang berjilbab yang hatinya penuh rasa peduli kepada sesamanya.

Maka, kepada istriku, aku berpesan. Bahwa jilbab yang ia kenakan, tak semata-mata sebagai perintah Tuhan, yang kalau ditinggalkan mendapat dosa dan kalau dilaksanakan mendapat pahala. Pada tataran ini, dikhawatirkan ia akan merasa sudah lebih baik dari orang lain yang tak memakainya. Sehingga tak perlu berempati kepada orang lain, sudah cukup baginya.

Ada yang tak kalah penting dari halal-haramnya jilbab itu. Adalah bahwa jilbab itu simbol. Pertanda dari agama yang dianutnya. Sebagai sebuah simbol, maka bagi para pemakainya ada kewajiban untuk membawa misi agamanya.

Agamanya memerintahkan untuk peduli kepada sesama, maka orang yang berjilbab harus menunjukkan kepeduliannya. Karena sebenarnya, perintah Tuhan tentang kepedulian ini jauh lebih banyak daripada perintah untuk berjilbab itu sendiri.

“Jangan seperti orang-orang berjilbab yang Papa ceritakan di bagian awal itu,” aku memungkasi wejangan kepada istriku.

Bagikan
Post a Comment