Kebohongan Pertama
Di tengah denyut kepala yang mendidih oleh penatnya revisi jurnal, datanglah distraksi dari si teteh, putri pertamaku yang baru berusia empat tahun. Ia menghampiri mamanya dengan lagak bawel khas yang menggemaskan. Sebenarnya itu tak sepenuhnya distraksi karena sejujurnya sebagian dari diri saya memang menunggu apa saja yang bisa menjadi alasan untuk jeda. Maklumlah, mamak-mamak yang nulis sambil ngasuh anak dua, dengan isi kepala yang masih harus terbagi mikirin menu makan, cucian, beberes rumah, momong bayi besar (baca:suami), dan segala urusan domestik lainnya, tak punya cukup endurance dan nafas panjang untuk urusan per-jurnal-an. Pengecualian untuk drakor, baru tahan maraton sampai tuntas.
Si teteh melaporkan bahwa dedenya melepeh makanan yang mengotori lantai dan membuat ruang bermainnya menjadi tak nyaman. “Mamah, please”. pintanya memohon mamahnya untuk segera membersihkan bekas muntahan adiknya.
Saya kemudian beranjak ke TKP dan terkejutlah begitu melihat bekas muntahan tersebut. Secara kasat mata, yang ada di lantai itu jelas bukan sejenis lepehan makanan dari bekas kunyahan mulut balita, bukan juga minuman. Begitu Saya colek bekas tumpahan itu dan kemudian mengendusnya, saya bisa menduga apa itu. Dari bentuk dan aromanya itu adalah sejenis sabun cair. Dan benar, tak jauh dari situ ada botol shampo mobil dengan ceceran di sekitarnya.
Sontak saja saya diringkus semacam getar perasaan entah apa yang merambat di sekujur tubuh. Bukan marah, tapi entah kaget, tak percaya, entah saya tak mampu mendefinisikannya. Anak saya berbohong? Bagaimana anak sebelia itu bisa berbohong? Apa saya salah mendidik?
Saya tahu di semesta dunia yang dipenuhi manusia dengan segala tingkahnya ini, adalah hil yang mustahal terbebas dari kebohongan. Tiap hari bahkan tiap saat kita disuguhi kebohongan. Kebohongan pedagang pada pembeli, orang tua pada anak, teman pada sahabat, marketing untuk dagangannya, pemimpin pada rakyatnya, buzzer dengan segala hoaksnya. Ya kita hidup di “Dunia Tipu-tipu” kalau kata Yura Yunita.
Kita sebagai orang dewasa biasa menyaksikan, mengalami, atau menjadi korban kebohongan, dan bisa berdamai dengan itu. Dibohongi oleh kerabat, tetangga, kolega kerja, iklan, politisi, bahkan orang tua atau suami. Tapi menyaksikan anak sendiri berbohong untuk pertama kalinya, entah kenapa rasanya saya belum siap menghadapi kenyataan itu.
Memahami Kebohongan
Sejarah kebohongan sama purbanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Dari fabel, mitos, legenda kuno bahkan sejarah, kebohongan bertebaran di mana-mana. Dan hal ini telah memainkan peran penting dalam membentuk masyarakat kita dan pemahaman kita tentang dunia di sekitar kita.
Dalam tradisi agama ibrahimi, kebohongan adalah kejahatan pertama yang dialami manusia. Kehidupan manusia di bumi adalah buah dari kebohongan dalam rupa muslihat yang iblis lakukan. Karena tipu daya Iblis pun Adam dan Hawa melakukan pelanggaran pertama atas perintah Allah yang membuat mereka terusir dari Jannah.
Rendra dengan indah mengingatkan, setiap pangkal kebohongan akan berujung pada kebinasaan. Melalui bait puisinya ia menuliskan, “Kebohongan itu seperti cahaya yang redup, menyinari jalan yang gelap, namun tak jelas; Ia menipu penglihatan, menyesatkan jiwa, dan akhirnya membawa ke dalam kebinasaan.”
Bait gelap puisi Si Burung Merak itu segaris dengan tegas Sabda Rasulullah Saw, “Jauhilah kebohongan, sebab kebohongan menggiring kepada keburukan, dan keburukan akan menggiring kepada neraka.” (HR. Abu Daud Hadits No 4337)
Berbohong adalah produk sampingan dari perkembangan bahasa manusia. Berbohong, dalam pengertian ini adalah konsekuensi dari kemampuan mengkomunikasikan ide-ide abstrak. Ketika nenek moyang kita mulai berkomunikasi satu sama lain menggunakan kata-kata dan simbol, mereka dapat menyampaikan informasi palsu dan memanipulasi orang lain dengan cara yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan. Pada titik inilah teknologi kebohongan lahir.
Berbohong adalah adaptasi evolusioner yang memiliki peran besar dalam membentuk sejarah manusia. Berbohong juga memungkinkan nenek moyang kita menipu orang lain dan mendapatkan keuntungan dalam berburu, mengumpulkan, dan bersaing untuk mendapatkan sumber daya dan posisi. Kemampuan untuk menipu itu diturunkan dari generasi ke generasi.
Kita dapat melakukan kebohongan dengan gestur, dengan penyaruan, bertindak atau tak bertindak, bahkan dengan bungkam sekalipun. Dalam dunia manusia modern, rupa kebohongan berevolusi semakin canggih dalam berbagai ragam bentuk melalui muslihat politik, manipulasi data, rayuan gombal, plagiasi, hoaks, dan lain-lain.
Sebagian teoritikus memaklumkan kebohongan sebagai laku alamiah manusia. “Berbohong seperti bernapas, mengalir alamiah bagi manusia.” Kata Michael P. Lynch dalam True to Life: Why Truth Matters. Kita berbohong untuk menyembunyikan perasaan insecure, untuk membuat orang lain merasa lebih baik, untuk membuat diri kita merasa lebih baik, untuk mengalihkan perhatian dari kita, untuk membuat orang menyukai kita, untuk melindungi anak-anak, untuk menghindari bahaya, untuk menyembunyikan kesalahan kita, dan untuk kesenangan belaka dari semua itu.
Meski berbohong merupakan tindakan manusiawi, filsuf Sissela Bok menegaskan bahwa berbohong adalah salah secara moral. Ia memberikan kita pengingat sederhana bahwa tak ada seorangpun yang suka dibohongi, bahkan seorang penipu sekalipun.
Bok memandang kebohongan merupakan fenomena sehari-hari yang terkait dengan pilihan-pilihan etis atau pun moral praktis. Dalam bukunya yang menjadi rujukan penting tema kebohongan, Lying: Moral Choice in Private and Public Life, filsuf dan ahli etika Amerika kelahiran Swedia tersebut mendefinisikan kebohongan sebagai “an intentionally deceptive message in the form of a statement” (“pernyataan yang secara sengaja menipu”).
Bok mengklasifikasikan kebohongan dalam 2 kategori, yaitu kebohongan spontan dan intensional. Kebohongan intensional adalah kebohongan yang dilakukan dengan sengaja melalui pesan-pesan menyesatkan orang lain dan membuat orang lain yakin atau percaya padahal kita sendiri tak meyakininya. Kebohongan jenis inilah yang lebih dekat pada kecenderungan motif kejahatan.
Namun demikian, Bok memaklumkan beberapa kondisi di mana kebohongan bisa ditolerir. Pertama, adanya kondisi krisis yang mengancam dan hanya bisa dihindari dengan muslihat; kedua, sesuatu yang menyakitkan yang sedemikiat complicated; yang ketiga kondisi di mana ada tuntutan atau kewajiban untuk menjaga rahasia.
Dalam Islam Rasulullah menegaskan hanya ada tiga kondisi di mana seorang muslim ditolerir untuk berbohong. Sebagaimana dalam hadis riwayat Tirmidzi: “Kebohongan itu tidak halal kecuali pada tiga hal; seorang suami yang berbicara terhadap istrinya agar dia ridha padanya, kebohongan pada peperangan, dan kebohongan yang dilakukan dalam rangka untuk mendamaikan (sesama) manusia.”
Memutus Rantai Kebohongan
Kebohongan adalah salah satu keniscayaan hidup manusia. “Manusiawi” begitu kita sering menyebutnya. Meski demikian, suami saya seringkali mengingatkan, kadang manusia terlampau mudah menggunakan label “manusiawi” sebagai excuse.
Kebohongan anak juga lumrah adanya, namun demikian kita tak boleh menormalisasinya. Sebagai orang tua tentu kita tak ingin anak kita terlampau mudah mengumbar kebohongan, yang pada titik tertentu akan membentuknya menjadi pribadi pembohong. Lantas apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua ketika anak kita berbohong?
Setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk membantu dia belajar dari kesalahannya dan meningkatkan kejujurannya di masa depan. Pertama, kita bisa memberikan peringatan yang sesuai dengan tingkat keparahan kebohongan anak kita. Misalnya, jika ia hanya berbohong tentang sesuatu yang tidak penting, kita mungkin tidak perlu memberikan sanksi yang keras. Namun, jika ia berbohong tentang sesuatu yang penting atau berbahaya, kita mungkin perlu memberikan sanksi yang lebih tegas. Kedua, jelaskan konsekuensi dari kebohongan, bahwa kebohongan dapat menyebabkan kerugian pada diri sendiri atau orang lain dan menjelaskan bagaimana ini akan mempengaruhi hubungan dengan orang lain.
Ketiga, ajarkan cara untuk berbicara dengan jujur, seperti dengan mengatakan “maaf saya salah” atau “maaf saya tidak tahu” ketika ditanya sesuatu yang tidak diketahui. Keempat, berikan dukungan emosional pada anak kita dan berikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Kelima, Berikan keteladanan. Anak cenderung mereplikasi perilaku orang terdekatnya, terutama orang tua. Pendidikan paling efektif untuk anak adalah memberikan keteladanan laku yang baik untuknya. Kita juga bisa memberikan anak cerita dari kisah keteladanan manusia-manusia yang memiliki pribadi agung seperti Rasulullah Saw.
Kemudian hal yang paling penting adalah kita sebagai orang tua pun harus banyak refleksi dan introspeksi diri ketika kita menemukan anak melakukan hal yang kurang baik semisal berbohong. Bukan hanya anak yang harus kita didik agar senantiasa melakukan hal-hal yang baik, kita pun harus mendidik diri kita sendiri agar bisa menjadi teladan yang baik untuk anak-anak kita. Dan yang terakhir, jangan lupa terus melangitkan doa-doa terbaik agar anak-anak kita menjadi anak yang jujur serta sholeh dan sholehah.

Tim hore PP Nasyiatul Aisyiyah.
Minat kajian : komunikasi, parenting, mental health, cultural Studies & Arts, Seni Tradisi, dan Mainstreaming Kebijakan Ramah Ibu dan Anak.
Instagram : @nasyatha

Gendis
Artikel luar biasa, banyak hal positif yg bisa diambil dr tulisan ini, banyak hal bijak yg kita perlu petik dr kesabaran sampe hal lain yg jarang kita sadari, semangat u/sang penulis , smoga bisa release lbh banyak tulisan yg keren2 , bravooo u/sang penulis
Alins
Sakitnya beda ya. Dibohongi orang hanya kesal, tapi ketika dibohongi anak bukan hanya kesal tapi sakit hati luar biasa, berarti kita gagal. Tapi kita tidak bisa menyalahkan anak, karna kitapun belum bisa mendidik diri kita sendiri untuk tidak berbohong. Hal yang terpenting berarti mendidik, membiasakan diri untuk tidak berbuat hal tidak baik untuk diri kita sendiri.jika kita berhasil, maka kitapun akan berhasil mendidik anak kita dengan baik. Betulkan?
Innasya Ahmad
Terimakasih sudah diberi tempat menyemai buah fikir sy yg teramat sederhana 🙏🏻