Dari Resolusi Ala Story Nasruddin Hoja Menuju Tradisi Sahabat Nabi
Memasuki awal tahun baru Masehi, memori saya tertaut pada story.
Cincin kawin Nasruddin Hoja terjatuh menggelinding di lantai kamarnya yang gelap. Ia mencari dan mengais-ngaisnya tanpa pelita. Di tangannya tentu saja tak ada ponsel berfitur flashlight. Dalam kegelapan, cincin itu tak berhasil ditemukan. Ia memutuskan keluar rumah dan melanjutkan pencarian. Ditanya seseorang, “Mengapa kamu mencari cincin di luar rumah, sedangkan cincinnya jatuh di kamar?”. Nasruddin Hoja menjawab, “Sebab di kamar yang kelewat gelap, mata ini tak mampu melihat cincin kawinku. Siapa tahu di luar rumah yang terang benderang aku bisa menemukannya”.
Seringkali masa lalu ibarat kamar gelap. Masuk awal tahun, artinya tiga ratus enam puluh lima hari, waktu yang sudah berlalu. Namun, sayang banyak di antara kita tak menemukan apa-apa. Durasi satu warsa telah menjadi “sejarah”, sayangnya tidak banyak belajar. Hanya meraba-raba dalam kebingungan. Tak menemukan apa-apa.
Setidaknya bagi saya peribadi, hari-hari begitu laju berlari. Tiba-tiba kehilangan kesempatan untuk bertemu cincin yang dicari. Tahu-tahu setahun lewat lagi. Padahal, dua belas bulan sebelumnya, semula kita anggap sebagai “masa depan” yang benderang. Masa penuh harapan untuk menemukan cincin berharga itu. Seringnya kita yakin bisa mencapai sesuatu. Kemudian kita kehilangan waktu, sampai menjadi masa lalu. Lalu, berusaha mencarinya lagi di masa depan.
Apa kabar resolusi setahun yang lalu?
Nasib resolusi tahun baru ibarat cincin kawin itu. Siapa di antara kita yang seperti Nasruddin Hoja? Suka menetapkan tekad yang berharga. Menetapkan target, setahun sudah berlalu, tidak tergapai. Ada kebiasaan pula menyalahkan “gelapnya penerangan”, tak jarang kita menghakimi keadaan, atau mengkambinghitamkan orang lain. Padahal apa yang dituju di situ, tak kemana-mana. Lagi pula, setiap manusia mempunyai waktu yang sama.
Status whatsapp seorang teman tertulis begini: “Resolusi tahun ini adalah saya ingin resolusi tahun lalu tercapai”. Ada yang berpendapat, kalau begitu lebih baik kita sama sekali tak menetapkan resolusi.
Nah, membaca cara pandang model ini, saya teringat sebuah anekdot lain. Seorang nenek tua terlihat sedang mengkorek-korek sesuatu di tanah dan dedaunan sampah. Pemuda yang kebetulan lewat dan peduli lalu bertanya,
“Sedang mencari apa , Nek? Barangkali saya bisa bantu.”
“Sedang cari-cari cincin, Nak”
“Memang kira-kira jatuh di sebelah mana, Nek?”
“Nenek tak punya cincin. Namanya juga cari-cari, siapa tahu saja menemukan cincin milik orang yang hilang”
Kira-kira sampai kapankah Nasruddin Hoja akan menemukan cincin kawinnya? Seberapa besar probabilitas si Nenek akan beruntung mendapatkan cincin seseorang yang barangkali suatu momen dan suatu sebab terjatuh di tempat itu. Berapa waktu yang diperlukannya untuk meraih harapannya.
Sekadar Tanda
Diucapkan atau tidak, ditulis atau tidak setiap orang mungkin mempunyai resolusi. Janji, tekad atau keputusan untuk melakukan sesuatu. Tetapi, setiap manusia mempunyai keadaannya masing-masing. Setiap orang mempunyai titik start dan finish yang mungkin berbeda. Dengan problematika dan sistem sumber serta dukungan yang beragam pula. Segala bineka itu sunatullah.
Dunia zaman kiwari memang terasa telah berkembang menjadi makhuk yang terlihat keji. Kehidupan modern sekarang semakin membanding-bandingkan pencapaian, penampilan, dan kesuksesan kita dengan yang lain. Melawankan versi buruk kita dengan versi terbaik orang lain.
Sejatinya, apapun latar belakang dan kondisinya, setiap orang punya modal yang sama yaitu waktu 24 jam dalam sehari, 365 hari setahun. Tanggal, bulan, dan tahun adalah sekadar penanda yang dikonstruksi manusia.
Hakikatnya setiap hari adalah sama juga bukan? Dari terbitnya matahari, melewati siang, sore, malam sampai kembali ke siklus berikutnya. Bukankah sebelum mampu menghitungnya sebagai siklus hari, pada masa lalu manusia pernah salah menerka?. Ada zaman kala manusia tak percaya bahwa bumi berputar mengitari Matahari. Sejarah mencatat, tatkala opini Copernicus bertentangan dengan doktrin gereja.
Dengan demikian, “tahun baru” adalah cara manusia membuat tanda dan memberinya makna. Tanggal 31 Desember 2022 tak ada bedanya dengan 1 Januari 2023. Pergantian siang dan malam yang disaksikan Pangeran Diponegoro di gua Selarong pada Perang Jawa masa 1825-1830 misalnya, sama persis dengan siang dan malam di alun-alun Kota Tegal pada hari ini.
Tradisi
Setiap hari hakikatnya sama. Karenanya, saya jadi teringat dengan tradisi setiap kali mengakhiri kelas di madrasah tempat saya belajar. Yakni, tradisi membaca Surah Al Ashr bersama-sama sebelum pulang.
Tradisi ini mem-follow ritual sahabat Rasulullah ketika mereka berpisah mengakhiri pertemuan. Dalam Al-Mu’jim Al-Awsath, Imam Thabrani meriwayatkan hadis dari Abu Hudzifah RA, “Dua sahabat Rasulullah SAW jika sudah bertemu tidak akan berpisah hingga salah satu dari keduanya membacakan surah al-Ashr kemudian mengucapkan salam.”
Al-Ashr adalah surah pendek tentang pentingnya memanfaatkan waktu. Al-Ashr menurut Quraish Shihab dalam Lentera Hati berasal dari akar kata yang berarti “memeras sekuat tenaga sehingga inti sari dari sesuatu keluar dan nampak ke permukaan”. Waktu ashar adalah waktu menjelang terbenam matahari, setelah kita bekerja keras memeras tenaga dan pikiran.
Ingat dengan tradisi tersebut, barangkali kalau memang kita perlu membuat resolusi harian. Tak perlu menunggu satu tahun untuk introspeksi dan mengevaluasi diri. Setiap waktu ashar, adalah waktunya mengevaluasi, seberapa usaha manusia untuk memaksa dirinya untuk dalam memanfaatkan waktu. Artinya begitu selesai aktivitas pada hari itu saatnya untuk melakukan evaluasi dan membuat resolusi baru untuk hari esoknya.
Sepakat dengan Quraish Shihab, mentradisikan membaca surah Al-Ashr bukan hanya ketika akan berpisah, melainkan juga saat baru bertemu dan memulai aktivitas bersama agar kita lebih menghargai waktu.
Pentingnya Konsistensi
Sayangnyaa, manusia baru merasa rugi ketika terlambat atau ketika waktu ashar sebagai metafora. Menafsirkan surah tersebut, Muthahhari dalam Mutiara Wahyu, menuliskan bahwa di dalamnya terkandung sumpah “Demi masa”, Mengacu pada sumpah untuk mengingat masa kenabian Rasulullah yang dipeunhi keberkahan. Selama manusia belum membentuk dirinya dengan iman dan amal shaleh, maka manusia berada dalam kerugian.
Iman dan amal shaleh adalah satu tubuh tak terpisahkan. Iman menjadi pijakan untuk beramal shaleh. Namun beramal dengan konsisten penuh godaan dan tidak mudah. Karenanya iman ini harus tetap mengiringinya. Amal shaleh dimaknai pula sebagai amal perbuatan yang layak sesuai potensi dan juga relevansi waktu.
Menyadari peran, tugas dan kewajiban manusia yang kompleks, kita harus mempunyai kemampuan membedakan mana yang penting dan yang terpenting, Dengan kata lain, kemampuan membuat prioritas. Atas keterbatasannya, sebagai makhluk sosial kita harus berkolaborasi dengan sesama. Saling sharing informasi dan saling mengingatkan dalam kebenaran. Konsistensi dalam menjaga amal shaleh memerlukan kesabaran dan perjuangan terus menerus. Kesabaran akan mendatangkan pertolongan Allah SWT.
Pada pergantian tahun ini, ada baiknya berkaca pada kisah Nasruddin Hoja. Dengan resolusi baru, kita berpikir akan mudah mencari-cari sesuatu di tempat yang terang benderang. Faktanya, teramat sering kita justru meninggalkan apa yang dituju. Menyia-nyiakan hal yang berharga, yang nilainya jauh melewati melebih cincin kawin, yaitu waktu.
Jadi, apakah resolusi awal tahun sudah ditetapkan? Semoga cara kita memaknai pergantian tahun dengan membuat resolusi tak seperti nasib Nasruddin Hoja. Seandainya ia konsisten mencari cincinnya di kamarnya yang gelap mungkin ia akan menemukannya. Untuk menggapai target sudah ditekadkan memang akan menemui jalan yang seolah gelap dan penuh tantangan. Kalau sudah benderang, logikanya tak perlu ada resolusi. Apalagi, jika kita menggunakan strategi seperti kisah si Nenek yang mengandalkan keberuntungan semata. Lebih tragis lagi jika memilih ikut-ikutan mencari cincin fiktifnya.
Ritual modern untuk membuat resolusi setiap awal tahun barangkali akan lebih terjaga konsistensinya jika kita mentradisikan “resolusi setiap hari”. Dalam uraian tafsir surah Al Ashr, Muthahhari telah menekankan pentingnya konsistensi. Konsisten dalam suatu amal lebih sulit dari pada mengerjakan amal tersebut.
Sahabat Nabi sudah mewariskan tradisi membaca surah Al-Ashr. Dengan “resolusi harian” ala sahabat Nabi ini, tak ada salahnya selepas shubuh kita sejenak bertanya pada diri sendiri. Apa resolusi hari kita hari ini?.
Begitu ashar menjelang, periksalah kaleidoskop harian kita. Karya dan peristiwa indah (amal shaleh) apa yang terangkum seharian ini.
Akhirul esai, resolusi harian ini tentu saja tak harus menjadi status watsapp.

Semula ayanya berniat menyematkan Nurul Ka’bah di akta kelahiran sebagai namanya. Bertautan kisah itu, kata “cahaya” diwariskan menjadi nama puterinya. Keseharian ia menjadi policy analyst di Pemerintah Kota Tegal. Suka membaca dan menulis menjadi caranya untuk “mencahayai” setidaknya untuk dirinya sendiri.
