Hayati dan Biola Kesayangannya (2)
Rumah reyot yang berada di tangah hutan itu hanya dihuni oleh Mak Warni dan Hayati. Mak Warni bekerja sebagai penjual kayu bakar yang keuntungannya hanya bisa buat makan sehari-hari. Satu-satunya barang berharga milik keluarga Hayati yaitu sebuah biola merek Antonio Stradivari keluaran tahun 1725. Bagi Hayati barang itu sangat berharga sebab peninggalan dari sang bapak tercinta, serta menjadi temannya bercerita maupun berkeluh kesah selama ini.
Sore yang indah itu telah disempurnakan oleh cahaya senja yang melebur pada pelataran langit. Sebelum pulang ke rumah, Bu Puji bersama Hasan anaknya menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Hayati. Jalan menuju rumah Hayati penuh dengan bebatuan sehingga sangat sulit untuk dilalui sepeda motor. Memaksa Bu Puji bersama Hasan berjalan kaki yang jaraknya lumayan jauh.
Sekitar 5 menit Bu Puji dan Hasan hampir sampai rumahnya Hayati. Jalanan yang sempit membuat mereka sering kali berhenti sejenak ketika bersimpangan dengan kerbau. Melihat gurunya datang, hati Hayati merasa sangat bahagia. Ia menyambut Bu Puji beserta Hasan itu dengan riang gembira.
“Hore… Bu Puji dan Hasan datang.” Suatu kegembiraan Hayati yang tidak pernah Bu Puji temukan di sekolahan.
Melihat Hayati yang sangat gembira telah meluruhkan segala keletihan Bu Puji. Ia tersenyum sambil memeluk erat tubuh Hayati.
“Inilah rumah Hayati bu, Mak lagi di belakang saya panggilkan dulu ya bu.”
“Iya Hayati.”
Sudah lima tahun lebih Mak Warni dan Hayati tinggal di rumah ini. Dinding rumahnya terbuat dari anyaman bambu yang setiap kali bisa ditembus oleh cahaya bulan. Mereka menempati rumah ini sebab telah diusir oleh warga setempat. Kasus pembunuhan para priyayi telah membuat warga marah terhadap siapa saja yang masuk PKI. Tahun 1966 menjadi peristiwa sangat menyedihkan bagi keluarga Mak Warni. Suaminya terpaksa dibawa pergi oleh gerombolan manusia asing yang bersenjata. Waktu itu usia Hayati masih 7 tahun, ia hanya bisa menangis melihat bapaknya dibawa pergi secara paksa. Ia berusaha berlari mengejar bapaknya, tatapi Mak Warni menahan, memeluk, lalu menciumi pipi Hayati sambil menangis.
***
“Grubyaak…” Suara kayu bakar Mak Warni yang sengaja ia jatuhkan tertumpuk di samping rumah. Bu Puji kaget mendengar suara tersebut membuatnya tersadar dari lamunanya tentang keluarga Hayati.
“Sugeng rawuh Bu Puji. Monggo pinarak riyen.” Suara Mak Warni yang terdengar sangat lembut.
“Enggeh Mak, Matur suwun.” Balas Bu Puji yang mulai duduk di atas kayu depan rumah Mak Warni.
“Hayati punya salah apa bu ?, kok njenengan ke sini.” Tanya Mak Warni penuh penasaran.
“Tidak ada masalah apa-apa Mak hanya ingin silaturahmi saja.”
“Oh ya. Alhamdulillah kalau begitu bu.”
“Hayati tadi di mana Mak ?.” Tanya Bu Puji yang baru saja mendengar suara biola dari belakang rumah Mak Warni.
“Itu bu main biola di belakang rumah.” Jelas Mak Warni.
Hayati sudah bisa bermain biola sejak usianya 6 tahun. Waktu itu ia belajar bermain biola langsung kepada bapaknya. Suara gesekan biola Hayati menembus relung hati setiap orang yang mendengarkannya. Bu Puji terhanyut oleh alunan nada biola Hayati. Hatinya tentram seakan menemukan kedamaian yang selama ini belum pernah ia rasakan. Hayati sangat mahir bermain biola.
“Mak Warni, lusa nanti ada peringat hari Kemerdekaan Indonesia, boleh kan kalau Hayati memainkan biolanya untuk mengiringi salah satu lagu nasional Indonesia.” Pinta Bu Puji sambil memegang tangan kanan Mak Warni dengan menggunakan kedua tangannya.
“Boleh bu, boleh banget silakan.” Jawab singkat Mak Warni sambil tersenyum simpul.
Lalu dipanggilnya Hayati yang masih asyik bermain biola di belakang rumah.
“Hayati, Hayati.. sini nduk.” Panggil Mak Warni.
“Iya Mak.” Jawab Hayati sambil berlari menuju maknya.
“Hayati.., lusa nanti di acara peringatan hari Kemerdekaan Indonesia, ibu minta kamu untuk mengiringi lagu nasional Indonesia dengan biolamu ini.” Pinta Bu Puji sambil memegang pundak Hayati.
“Siap bu.” Jawab sepontan Hayati dengan menunjukan jari jempolnya penuh semangat.
Hayati sangat gembira dengan permintaan Bu Puji untuk memainkan biolanya di acara peringaratan hari Kemerdekaan Indonesia. Bagi Hayati berada di sekolahan bersama biola kesayangannya membuat jiwanya tidak lagi merasa kesepian. Bioala itu telah menjadi teman setianya selama ini. Menjadi penenang ketika hatinya bersedih. Menjadi pelantara menyampaikan salam kerinduan kepada bapaknya.
***
17 Agustus tahun 1970, masyarakat pedesaan hingga perkotaan pada mengibarkan bendera Merah Putih. Tak ketinggalan Mak Warni meskipun rumahnya terpencil tidak memiliki tetangga, ia tetap mengibarkan bendera pusaka itu. Di sekolahan tempat Hayati belajar sudah berderet bendera Merah Putih sepanjang jalan. Murid-murid memakai seragam merah putih, berdasi, dan bertopi yang ada gambar burung Garudanya. Para guru pun tidak ketinggalan dengan memakai seragam kebanggaannya mengikuti upacara peringatan hari Kemerdekaan Indonesia. Upacara pun dimulai dengan dipandu oleh Rahmah selalu pembaca acara. Hayati sangat tenang tidak tegang sama sekali ketika ia hendak tampil. Ia pegang erat-erat biolanya dengan penuh percaya diri.
“Bapak pasti banga, bapak pasti bangga.” Suara hati Hayati yang diikuti senyum simpulnya. Perlahan Hayati melangkah ke depan. Kini biolanya mulai diletakkan di pundaknya sebelah kiri. Lagu nasional berjudul Syukur ciptaan Husein Mutahar yang akan diiringi biola Hayati. Matanya terpejam, satu kali gesekan dilanjutkan dengan gesekan berikutnya terdengar nyaring suara biola Hayati. Ia tersenyum lalu lanjut kembali menggesekkan biolanya dengan lincah, membuat para peserta upacara terhanyut. Hayati pun ikut hanyut meresapi alunan nada biolanya. Air matanya menetes mengingat dosa bapaknya yang telah membunuh para priyayi. Para peserta upacara terenyuh melihat tangis Hayati. Berbeda dengan Pak Muhsin yang berada di pojok barisan para guru. Ia mulai merasa tidak nyaman dan hatinya semakin perih. Ingin sekali ia segera pergi meninggalkan upacara peringatan hari Kemerdekaan Indonesia ke-25 ini.
Biasa disapa Ni’am merupakan santri Pondok Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, asuhan Dr. KH. Aguk Irawan, MA. Selain menimba ilmu kepada Kiai Aguk, ia juga ngaji kitab turost kepada Kiai Amirul Ulum di Ulama Nusantara Center. Di dua tempat itu ia belajar tentang kepenulisan, terjemah kitab, dan mengaji kitab. Ia juga masih menjadi mahasiswa aktif di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Ni’am bisa disapa di akun Facebook pribadinya Ni’amul Qohar.
