f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
memilih sekolah

Pertimbangan Saat Memilih Sekolah

Sebuah chat dari seorang teman mengingatkan saya untuk beranjak dari deretan kursi penonton ini, kemudian melangkah dengan cepat ke arah kantor guru di depan sana. Seorang guru yang memang saya cari kebetulan sedang berada di kantor tersebut.

“Bu, maaf. Mengganggu sebentar. Ini titipan berkas pendaftaran yang saya ceritakan di wasap kemarin”, kata saya langsung pada inti pembicaraan.

“Oya Mah. Terima kasih banyak. Untuk berkas-berkas yang lain nanti saya infokan saat pendaftaran resmi dibuka njih”

“Ya Bu. Siap menunggu kabar berikutnya”, lanjut saya sebelum berpamitan kembali ke tempat duduk.

Hari ini saya menghadiri acara gelar karya di sekolah Feren, si bungsu. Acara yang dimaksudkan sebagai bagian dari syarat sekolah penggerak, juga digunakan sebagai ajang promosi untuk menjaring peserta didik baru. Seirama dengan tujuan promosi, saya jadi teringat bahwa di tas yang dari tadi tergantung di pundak saya, ada berkas yang dengan dengan sempurna telah membuat saya bercakap dengan bu guru tadi.

Jadi, beberapa pekan yang lalu, seorang teman bertanya banyak hal tentang pencarian sekolah untuk anaknya yang saat ini duduk di TK besar. Tahun ajaran baru nanti anak pertamanya sudah dijadwalkan termasuk dalam deretan siswa yang naik kelas satu, jadi jauh-jauh hari dia berburu sekolah yang dirasa pas untuk anaknya.

Sederet panjang nama sekolah berserta detail karakter dan mata pelajaran yang ada di setiap sekolah saya sodorkan. Kebetulan sekali, berkecimpung di dunia bimbingan belajar, sedikit banyak membuat saya memahami karakter sekolah serta dan mata pelajaran yang ada di sekolah tersebut.

Singkat cerita, teman saya itu menunjukkan sekolah-sekolah tersebut kepada anaknya. Pada akhirnya, dia memilih untuk mendaftarkan anaknya di sekolah yang sama dengan anak-anak saya. Katanya, “Anaknya mau sekolah di tempat yang sama dengan mas Feren”. O, gitu, OK deh.

Baca Juga  Pentingnya Character Building Anak Sejak Dini

Sebenarnya ada banyak hal yang perlu kita pertimbangkan saat memilih sekolah untuk anak-anak. Jangan sampai timbul rasa kecewa dan menyesal sehingga menghambat proses belajar anak-anak nantinya. Pertimbangan-pertimbangan tersebut sebaiknya tak hanya berasal dari sudut pandang orang tua, tetapi juga memperhatikan suara, keinginan dan karakteristik dari anak.

Sesuai Keinginan Anak

Saya jadi teringat dengan perburuan sekolah yang saya dan suami lakukan saat si sulung, Nick hendak memulai usia sekolahnya. Kami, saya dan suami, mengajaknya melihat banyak TK. Mengajaknya masuk ke area dalam sekolah-sekolah tersebut, meminta ijin untuk melihat bagaimana kegiatan belajar mengajarnya, dan membiarkan Nick meng-eksplore lingkungan sekolah tersebut. Pada akhirnya dia memilih sekolah yang memag dia rasa “klik”. Hal yang sama juga kami lakukan saat memilih sedolah dasar untuknya.

Tapi, mengapa harus serepot itu? Anak kecil tak perlu ikut campur dalam pemilihan sekolah. Lha wong orang tua yang keluar dana kan ya?

Kami memiliki pemikiran yang berbeda. Masa TK adalah masa pertama sekolah formal yang akan dilewati anak selama paling tidak dua tahun. Kami tidak ingin dua tahun awal masa berkenalan dengan dunia sekolah akan dilewatinya dengan terpaksa. Dia harus enjoy dan menikmati masa perkenalan belajarnya dengan semangat dan suka cita yang tidak dipaksakan. Bagaimanapun, anak akan menghabiskan separuh harinya di sekolah, jadi “klik” harus menjadi syarat utama untuk membuatnya menikmati hari-hari di sekolah.

Selain itu, faktor lingkungan akan sangat berpengaruh pada pembentukan karakter, kebiasaan dan kemampuan anak.  Maka dengan ikhtiar mendapatkan lingkungan yang sesuai dan support system yang positif , kami membiarkan anak memilih sekolahnya sendiri agar dia (sekali lagi) nyaman dengan dunia belajarnya. Tentu saja, pilihan anak tetap disertai dengan data dan pertimbangan-pertimbangan yang menurut kami logis untuk bisa disetujui.

Baca Juga  Peran Orang Tua Menghadapi Peer Pressure pada Anak

Pertimbangan dan hal yang sama juga akhirnya kami lakukan  saat memilih sekolah dasar. Nantinya, ada kurun waktu enam tahun yang harus dilewatinya dengan beragam cerita, tugas, teman, dan guru dengan beragam karakter dan kesulitannya. Jika semua didasari dengan suka, kami berharap dia akan melewati masa enam tahun itu tetap dengan suka cita dan semangat yang sama.

Efek menikmati sekolah sangat kami rasakan saat anak menyukai lingkungan belajarnya. Saya merasakannya dengan jelas pada perjalanan sekolah TK dan SD si sulung. Teman-teman TK dan SD yang ia miliki tetap menjadi teman-teman yang saling mengenal dan tetap berinteraksi dengan baik hingga saat mereka kuliah sekarang. Guru-guru TK dan SDnya juga masih mengenal dan berinteraksi dengan kami secara hangat, sampai saat ini.

Di luar alasan bahwa anak kedua kami pun akhirnya bersekolah di tempat yang sama, tetapi rasa suka dan nyaman berada di sekolah yang anak kami rasakan memberikan vibes yang juga sangat positif untuk kami. Kami menjadi orang tua yang juga menikmatai masa-masa sekolah mereka dengan bertemu serta berinteraksi dengan para orang tua siswa lain dan para guru. Bahkan kami ikut menikmati berbagai kegiatan sekolah, yang melibatkan orang tua, dengan bersemangat dan suka cita.

Saya jadi ingat percakapan dengan tetangga depan rumah yang juga ikut les di bimbingan belajar yang saya kelola.

“Gitu, Anes gak capek tah, Te? Sekolah dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore”, tanya saya.

“Ya, capek bu. Anaknya juga sering ngantuk sebelum jam 8 malam. Akhirnya kadang ada PR yang gak dikerjain”

“Lha, terus gimana?”, kejar saya. Hi hi. Kepo.

“Ya gak pa pa. Anaknya enjoy aja. Lha wong itu sekolah pilihannya sendiri. Jadi dia udah paham resikonya. Teman-teman dan lingkungan sekolahnya sudah membuat dia nyaman”. Yes, nyaman dan enjoy. Sebagai catatan, Anes termasuk anak yang mau berproses dengan sangat baik dalam kegiatan belajar. Dia mudah menerima dan menyerap materi, mau bertanya dan tak malas mengerjakan latihan soal, yang jumlahnya sedikit. Ha ha.

Baca Juga  Bagaimana Bila Keluarga Bukanlah Rumah Bagi Anak?

So, tak ada salahnya mengajak anak-anak terlibat dalam pemilihan sekolah. Itung-itung mengajarkan anak tentang bagaimana menentukan pilihan dan mempersiapkan mereka memahami resiko dari pilihan mereka. Kejauhen ya mikirnya? Ha ha.

Bagikan
Post a Comment