f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kiriman mangga

Kiriman Mangga: Kasih Sayang untuk Seorang Anak

Musim mangga di Indonesia sudah mulai tiba. Rasanya yang manis memang menggoda siapa saja. Mangga memang enak rasanya. Apalagi dicicipi di siang hari saat matahari sedang membara.

Kami juga suka mangga. Membeli mangga di daerah tempat tinggalku memang harus hati-hati. Kalau tidak teliti, maka akan mendapatkan mangga yang rasanya entahlah.

Saat datang musim mangga, maka ada sebentuk cinta yang hadir di rumah kami. Bapak dan ibu yang tinggal di Bojonegoro akan mengirimi kami sekardus mangga. Mangga ini istimewa. Hasil panen dari halaman rumah bapak ibu yang dirawat dengan cinta.

Sekardus mangga ini menghampiriku sejak sekitar lima belas tahun yang lalu. Saat itu adalah masa menunggu. Akad nikah kami masih beberapa bulan walaupun lamaran sudah berlalu.

Sekardus mangga yang proses pengirimannya melewati banyak kota. Dari Bojonegoro, menuju Jakarta dan tiba di Bandung akhirnya. Sungguh melihat sekardus mangga ini tiba, ada haru yang bergulung di dada.

Jika ini difikir dengan rasional, mungkin sekardus mangga tidak berarti apa-apa. Apalagi jika berfikir mahalnya ongkos kirim. Tapi, bukan itu hikmahnya. Penerimaan yang tulus bagi calon anggota baru di sebuah keluarga yang awalnya dengan pertemuan yang sangat minim.

Bertahun-tahun kemudian, kami tetap menikmati sekardus mangga yang manis. Di setiap buahnya ada tetesan kasih sayang orang tua kepada anaknya yang jauh dirantau. Di setiap manisnya ada setangkup cinta kakek nenek kepada cucu-cucunya yang jauh di mata.

Cinta tiada bertepi. Itulah yang bisa kulihat dari sekardus mangga yang setiap tahun menghampiri kami. Mengajariku bagaimana berperilaku sebagai orang tua. Bagaimana berperilaku sebagai mertua saat nantinya.

Kasih sayang orang tua kita memang akan sepanjang masa. Bagiku, sekardus mangga sejak lima belas tahun lalu mencipta sebuah rasa. Menyatukan juga dua budaya yang berbeda.

Baca Juga  Tips Mengatur Waktu Seorang Ibu

Sekardus mangga yang kemudian menjembatani banyak perbedaan yang memang ada. Namun, bukan berarti perbedaan ini terus ada. Tinggal kita yang kemudian terus menyikapi perbedaan dengan cara bijaksana. Menjadikannya sebagai sebuah pelangi dengan semua warnanya.

Di saat ada banyak kehebohan antara hubungan menantu mertua, maka bagiku sekardus mangga setiap tahun adalah bukti kehebohan itu bukanlah sebuah yang nyata. Bahkan mungkin berbeda. Penerimaan yang tulus dari keluarga baru. Dianggap sebagai keluarga, bukan dianggap sebagai orang yang baru,

Sekardus mangga yang mengajariku juga bagaimana bersikap nantinya kepada calon keluarga baruku di masa yang akan datang. Ada banyak cara sudut pandang. Bukan hanya dari satu sisi. Tapi dari berbagai sisi. 

Sekardus mangga yang memberi hikmah yang lain. Ayah ibu dari suamimu bukanlah orang lain. Beliau berdua adalah ayah ibumu juga. Seperti ikatan darah, ikatan pernikahan adalah juga hal yang sakral bagi kita. Bahwa keluarga baru adalah keluarga kita juga.

Persepsi yang mesti kita bangun bersama. Persepsi yang semoga menjadi jembatan bersama. Mengurangi kehebohan hubungan menantu dan mertua. Mertua bukanlah orang baru, tetapi orang tua kita juga.

Persepsi yang akan membuat hubungan baru menjadi lebih indah. Memandang sebuah hubungan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Berbakti kepada keduanya bukan karena terpaksa, tetapi karena cinta.

Maka, saat bulan ini adalah bulan kelahiran Nabi Muhammad, maka marilah kita juga melihat bagaimana hubungan beliau dengan mertuanya. Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab dan Usman bin Affan adalah mertuanya Rasulullah.

Banyak hikmah yang akan kita petik dari bagaimana seorang Rasulullah Saw. memperlakukan mertuanya. Bagi Rasulullah, mertuanya adalah sahabatnya. Sahabat yang akan menjadi garda depan perjuangan beliau. Sahabat yang memperlakukan beliau dengan penuh cinta. Begitupun juga Rasulullah, memperlakukan para mertuanya dengan penuh hormat dan cinta.

Baca Juga  Masjid (Tanpa) Kubah dan Menara

Bagiku melalui sekardus mangga, bapak ibu Bojonegoro mengajariku bagaimana menjadi mertua sejak awal aku masuk ke keluarga baru. Rasanya memang haru diperlakukan dengan sangat baik oleh keluarga yang baru bertemu. Rasa sungkan berubah menjadi hormat untuk beliau.

Tidak ada kesan dianggap sebagai anggota keluarga baru, tetapi lebih diperlakukan sebagai seorang anak. Perbedaan di antara kami memang banyak. Asal daerah, adat istiadat dan budaya. Semuanya memang berbeda. Tapi, fokusnya bukan pada kata berbeda, melainkan kesamaan apa yang bisa menjadi jembatan cinta.

Saat nanti aku bertemu dengan anggota keluarga baru, maka akulah yang harus memulai mendekati dengan cinta. Memperlakukan dengan penuh rasa sayang sepenuh haru. Seperti yang kudapatkan saat bertemu beliau berdua melalui sekardus mangga.

Bukan sebaliknya, menganggap orang baru yang datang di keluargaku sebagai pendatang. Atau menganggap mereka yang baru datang sebagai orang asing. Tetapi justru sebaliknya. Belajar dari bapak ibu Bojonegoro, aku juga harus belajar menganggap yang baru datang di keluargaku sebagai anggota keluarga. 

Mungkin tidak mudah prosesnya. Tetapi usaha dan doa tetap harus dilantunkan dengan penuh hikmah. Yakinlah, Allah akan memudahkan jalan bagi orang yang berusaha. Maka, senantiasa berusaha dan berdoalah.

Bagikan
Post a Comment