Bahagia Menurut Al-Qur’an
Dalam menjalani kehidupan yang fana ini, salah satu obsesi yang ingin dicapai oleh manusia adalah merasa bahagia. Perasaan bahagia ini tentu berdampak signifikan terhadapan kewarasan dan ketentraman jiwa dan raga. Tidak heran, jika manusia berlomba-lomba mengejar sesuatu yang membuat dirinya merasa bahagia.
Kendati demikian, mendapatkan sesuatu yang diinginkan nyatanya tidak otomatis membuat manusia merasa bahagia. Mengapa demikian? Bisa jadi, yang sebenarnya dirasakan bukanlah kebahagiaan melainkan hanyalah kepuasan belaka. Pada sesuatu yang puas, seseorang bisa saja mudah tertawa tetapi hatinya terasa hampa. Sebab kepuasan hanya memberi kepada yang zahir tanpa pernah benar-benar hadir di dalam hati.
Adapun kebahagiaan merupakan hasil dari proses panjang yang murni lahir dari hati serta terpendam dalam jiwa sehingga mampu merasakan kelapangan dan ketenangan. Kebahagiaan itu merdeka, tidak identik dengan fisik, harta, dunia, apalagi bergantung pada manusia.
Sampai-sampai para ulama salaf mengatakan “kalau saja para raja mengetahui nikmat yang ada di dada kami, niscaya kami akan diperangi dan nikmat itu akan diperebutkan”.
Oleh karena itu, kepuasan bisa saja direkayasa, tetapi tidak dengan kebahagiaan. Bahagia adalah hasil dari proses yang diperjuangkan sementara kepuasan menawarkan di banyak tempat. Didapatkan secara mudah, murah dan instan. Hal ini dikarenakan kepuasaan cenderung beririsan dengan hawa nafsu.
Adapun kebahagian hanya bisa diperoleh dan diturunkan dari pemilik kebahagiaan itu sendiri, yaitu Allah swt. Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S al-Fath ayat 4 “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada)…….”.
Dengan demikian, apabila bahagia itu datangnya dari Allah swt maka langkah-langkah menjadi bahagia itu juga tentunya dengan cara-cara yang disukai oleh Allah Swt. Salah satunya sebagaimana yang disebutkan dalam Q.S al-Bayyinah ayat 5, “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya…..”
Kenapa Ikhlas Menjadi Salah Satu Pintu Kebahagiaan?
Beriman secara ikhlas kepada Allah swt menjadi kunci kebahagiaan pertama karena menunjukkan bahwa tidak ada yang kita inginkan kecuali balasan terbaik dari Allah swt. Hal ini tentu bukan perkara mudah, karena tidak semua manusia memiliki mental yang kuat untuk membebaskan diri dari pandangan dan komentar manusia.
Padahal, manusia merupakan makhluk yang memiliki sifat dasar berupa zalim, jahil, bakhil dan terbatas. Terlebih apabila kita renungkan, kebanyakan permasalahan yang membuat kita sulit bahagia selalu berurusan dengan manusia. Bahkan sangat kompleks, sehingga membuat diri kita merasa terbebani, kecewa dan letih karena berharap kepada manusia.
Itulah sebabnya, tujuan syariat membebaskan ibadah hanya murni kepada Allah Swt. Karena orang yang sudah menyelesaikan PR-nya di hadapan manusia akan meringankan kakinya berjalan dengan tenang dan bahagia. Orang semacam inilah yang akan dilapangkan dadanya oleh Allah swt.
Kelapangan hati bukan hanya memberikan perasaan bahagia tetapi juga perasaan tetap tenang tatkala kesedihan dan permasalahan datang menghampiri. Kebahagiaan di dunia bukanlah keadaan tanpa masalah, sebagaimana bahagia di akhirat, tetapi sekalipun diiringi kesedihan namun semua perkara itu tidak mendominasi dalam hidup.
Apabila kebahagiaan diikat dengan kesenangan, maka kebahagiaan itu akan semakin sulit dirasakan. Karena dalam hidup, kesenangan dan kesedihan akan selalu datang silih berganti sehingga dijadikan sabar dan syukur sebagai kunci. Jadi selama ini kita sudah benar-benar bahagia atau sekedar memenuhi kepuasaan dan mengharap pengakuan manusia?
Berbahagialah dengan Sederhana
Selain keikhlasan, tentu masih banyak faktor lain yang membuat kehidupan terasa bahagia. Namun, apabila kita telisik lebih jauh dalam kehidupan kita hari ini, jangankan merasa ikhlas, menerima hidup yang biasa-biasa saja, susahnya luar biasa.
Salah satunya, terlalu banyak yang kita harapkan dari manusia. Begitu banyak perilaku manusia yang membuat kita merasa kecewa bahkan tidak berharga menjadi manusia. Atau bahkan terlalu banyak target-target duniawi yang ingin kita capai bukan sebagai jalan menuju surga, tetapi hanya demi mendapatkan validasi manusia!.
Padahal jika kita ikhlas dan rida dalam menerima takdir yang Allah berikan, maka akan memudahkan kita merasa cukup. Cukup turut merasa bahagia ketika orang lain bahagia, cukup turut merasa sedih ketika orang lain tertimpa musibah dan cukup bersabar serta bersyukur atas keberhasilan maupun kegagalan yang kita alami.
Dalam menikmati dinamika kehidupan, keikhlasan akan membuat kita merasa baik-baik saja. Ketika diberi sedikit, kita tidak gelisah dan ketika diberi banyak, kita merasa lebih bahagia, hehe. Demikian pula dengan kenikmatan yang orang lain dapatkan, terutama yang seringkali kita lihat di media sosial. Keikhlasan akan membuat kita turut serta mendo’akan bukan malah berasumsi macam-macam, merasa panasbahkan kesurupan, astaghfirullah na’udzubillah.
Ikhlas akan membuat hal-hal sederhana tetap berharga, termasuk bahagia dengan sederhana, bahagia meski biasa-biasa saja dalam pandangan manusia, bahagia meski tak pernah disebut sebagai manusia yang istimewa.
Keikhlasan tidak akan menjadikan bahagia itu harus mendapat ini dan itu, memiliki standar begini dan begitu. Dengan ikhlas, bahagia akan mudah dirasakan, tidak dibuat-buat sehingga menjadi ruwet, mumet dan jelimet. Bahagia memang bukan dengan rekayasa dan paksaan tetapi dengan latihan, salah satunya keikhlasan.
Barangkali, banyaknya pembahasan tentang kebahagiaan hari ini, sejatinya menunjukkan bahwa kita sedang mengalami krisis kebahagiaan. Semakin sulit bahagia dengan cara-cara yang sederhana, sebab terlalu sibuk kepada hal-hal yang dianggap luar biasa oleh manusia. Padahal pujian manusia hanya sepanjang lidahnya saja dan perhatian manusia tidak pernah lebih besar dari memperhatikan dirinya sendiri.
Jadi bahagialah dengan yang mudah-mudah saja, mudah ikhlas, mudah menerima dan mudah-mudahan tidak sulit ya, hahaha. Jangan bahagia dengan yang susah-susah, susah ketika melihat orang lain senang, susah merasa cukup, susah hati mengikuti standar manusia dan society serta kesusahan-kesusahan lain yang asik diciptakan sendiri.
Btw, kapan terakhir kali merasa bahagia meski dengan sederhana dan biasa-biasa saja?
Wallahu a’lam bi ash-shawab.
Mahasiswi Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta
