f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
entrok

Menyelami ‘Entrok’ Okky Madasari

Be-Ha. Bra. Entrok.

Judul pada cover di atas menjadi hal utama yang mengulik rasa penasaran saya pada isi buku secara keseluruhan. Muncul tanda tanya besar, hal apa yang penulis ceritakan dari sebuah kata “entrok”. Ragam hal berharga disajikan Okky melalui narasi yang sarat kritik atas kondisi perempuan yang dinomorduakan, lemah, dan bergantung.

Dikisahkan Marni, perempuan muda yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pengupas singkong. Remaja yang ingin membeli entrok. Tidak semua perempuan bisa memiliki entrok. Artinya, entrok kala itu menjadi sebuah previlese bagi pemiliknya. Ketika seseorang ingin mendapatkannya, dia harus memiliki uang. Sialnya, bagi Marni saat itu, uang merupakan hal mustahil untuk didapatkan oleh seorang buruh pengupas singkong yang hanya diupahi singkong selama bekerja.

Keinginannya untuk membeli entroklah yang menjadikan Marni mengupayakan berbagai cara. Pada saat itu, satu-satunya cara yang harus dilakukannya adalah dengan menjadi kuli angkut. Di kampungnya, kuli angkut identik dengan pekerjaan seorang laki-laki. Pekerjaan tersebut menarik Marni karena upahnya berupa uang. Uang itu yang nantinya bisa diperuntukkan membeli entrok. Marni berani melawan stigma ‘ra ilok’  jika perempuan menjadi kuli. ‘Ra ilok’ merupakan anggapan atau aturan paten bahwa tidak pantas perempuan bekerja sebagai kuli. Okky secara tegas menjelaskan bahwa kekuatan seseorang tidak ditentukan berdasarkan jenis kelaminnya. Perempuan bisa lebih lemah, setara, atau lebih kuat dari laki-laki. Begitu juga sebaliknya.

***

Ketimpangan antara perempuan dan laki-laki yang digambarkan tidak berhenti pada sistem pengupahannya saja. Melalui sosok Marni yang bersikeras mengumpulkan pundi-pundi logam mulai dari bekerja sebagai kuli angkut, pedagang keliling, hingga membuka persewaan mobil, ia menjadi simbol perempuan yang berani melawan relasi gender yang ada.

Baca Juga  Sebuah Refleksi : Hari Ulang Tahun dan Cara Menyikapinya

Setelah berbagai upaya dilakukan dan mumpuni secara ekonomi, Marni bisa terlepas dari ketimpangan relasi antara lelaki dan perempuan. Dalam konteks yang lebih kecil, rumah tangga, siapapun bisa menahkodai perekonomian keluarga. Hal yang menjadi antitesis dari anggapan tentang perempuan yang nomor dua, lemah, dan bergantung. Hal ini ditunjukkan lewat Marni yang mampu menjalankan roda

ekonomi untuk menopang keluarga nyaris tanpa bantuan suaminya, Teja, yang digambarkan selayaknya jongos alih-alih penafkah utama. Bahkan Marni dikisahkan bisa berdiri sebagai majikan para lelaki dan memanfaatkan kekuatan mereka. Di sini, kita dapati bahwa faktor ekonomi menjadi salah satu alat membangun power.

Perjuangan Marni mendapatkan entrok kala muda disampaikan pada Rahayu, anak perempuannya. Namun, kisah Rahayu berbeda dari Marni, Rahayu tidak lagi hidup berkesusahan. Hidupnya kala itu dalam kondisi perekonomian keluarga yang beranjak mapan sehingga Rahayu memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Rahayu diharapkan dapat mengangkat derajad keluarga dengan menjadi seorang sarjana. Namun, siapa sangka, pendidikan dan lingkungan pergaulan menjadikan Rahayu justru memiliki sudut pandang atau kepercayaan yang berbeda dari Ibunya sehingga relasi keduanya berjarak. Rahayu menganggap ibu kandungnya sesat karena perbedaan kepercayaan. Dari keberjarakan itu, Rahayu memilih jalannya sendiri di perantauan. Salah satunya dengan menjadi istri keduanya seorang laki-laki yang dianggapnya saleh.

***

Narasi melalui sosok Rahayu juga mencerminkan bagaimana perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidup berdasarkan pilihan-pilihannya. Perempuan yang tidak hanya identik dengan urusan kasur, sumur, dan dapur melainkan perempuan yang berkiprah dimasyarakat. Rahayu bersama dengan masyarakat berjuang melawan kekuasaan setempat yang berupaya menggusur pemukiman warga lokal demi kepentingan kekuasaannya. 

Relasi Marni dan Rahayu bukan hanya antara ibu dan anak. Jika ditelisik lebih jauh, relasinya mencerminkan perbedaan kepercayaan, feminisme, agama, dan politik. Selain itu, pembaca akan diberi gambaran kehidupan perempuan sesuai konteks waktu sebelum entrok begitu lumrah dikenakan seperti saat ini.

Baca Juga  Dua Penulis Pembakar Semangat

Melalui Marni, Rahayu, dan tokoh-tokoh perempuan dalam Entrok, Okky dapat melawan definisi perempuan yang timpang. Namun tokoh-tokoh tersebut sekaligus juga secara implisit menunjukkan bagaimana Okky cenderung menarasikan bahwa hanya orang-orang tertentu yang mampu bernegosiasi atau memiliki kesadaran untuk melawan struktur kekuasaan yang ada. Mereka adalah orang-orang yang mampu mengakses kekuasaan tersebut atau bisa mengenyam pendidikan tinggi dan kedua hal itu hanya bisa dimungkinkan bila mereka adalah kelas menengah ke atas yang kuat secara ekonomi. Dengan kekuatan ekonomi, negara dan agama dapat dimanfaatkan untuk pribadi. Dengan kekuatan ekonomi pula, seseorang bisa memperoleh banyak pengetahuan melalui pendidikan tinggi, sehingga mereka bisa memilih untuk melawan negara atau agama.

Novel ini berhasil mengajak pembaca untuk berimajinasi tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu. Khususnya perihal problematika perempuan dari ruang lingkup sederhana hingga kompleks. Dari Okky, saya pribadi belajar bahwa narasi-narasi kritis tentang ketimpangan yang terjadi pada perempuan perlu terus direproduksi agar perempuan semakin sadar bahwa dirinya juga subjek yang berotoritas.

Bagikan
Post a Comment