f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
keberuntungan

Memeluk Mimpi (2): Sebuah Keberuntungan

Pagi itu, di penghujung akhir bulan Juli 2007, saya ditemani oleh dua teman dari Vietnam di teras lobi penginapan Evans Lodge, Bukit Timah, Singapura. Setelah tiga bulan mengikuti program Asean Research Scholar (Mei-Juli) yang diadakan oleh Asia Research Institute (ARI), NUS (National University of Singapore), untuk menulis dan mematangkan tesis, saya kemudian harus bersiap kembali ke Jogja. Mereka berdua menemani untuk mengantarkan saya menunggu taksi datang, membawa saya ke Bandara Changi sekaligus kepada kehidupan nyata sebagai mahasiswa S2 Indonesia kebanyakan, yang berada di Jogja.

Saat menunggu taksi yang saya pesan itu datang, kami pun berbincang. Saya memberitahu Ngoc, “Ini pertama kalinya saya ke luar negeri. Ini juga yang akan menjadi kali terakhir saya ke luar negeri. Sungguh, saya sangat senang bisa bertemu kamu dan teman-teman dari pelbagai negara di Asia di sini. Momen dan pengalaman di luar negeri ini tidak pernah akan saya lupakan,” ungkap saya dengan perasaan bercampur sedih sekaligus senang. Sedih karena ini akan menjadi pengalaman pertama dan terakhir kali saya. Senang karena ini saya diberikan kesempatan yang begitu luar biasa, bertemu dengan teman-teman luar negeri di Asia; sekaligus bertemu dengan para sarjana ilmu sosial dan humaniora kelas dunia.

Meskipun dengan keterbatasan bahasa Inggris, berinteraksi dengan para sarjana terbaik ilmu sosial dan humaniora ini memberikan saya potret dunia pengetahuan yang begitu luas. Apalagi, saat itu, riset saya di bawah bimbingan Roxana Waterson; seorang dosen Antropologi yang ahli Toraja sekaligus studi mengenai ingatan kolektif di Asia Tenggara. Keramahan sekaligus kebaikan dalam interaksi saat membimbing saya benar-benar membekas. Bahkan, ia menyempatkan waktu untuk memberikan kata pengantar untuk tesis saya yang dijadikan buku pada tahun 2009. Selain itu, fasilitas perpustakaan yang berlimpah dan ruang-ruang kelas yang sangat modern membuat saya benar-benar terasa di dunia lain. Adanya diskusi setiap minggu di ruangan seminar ARI-NUS dengan pembicara dari sarjana-sarjana yang ahli di bidangnya masing-masing membuka dunia pengetahuan dan kesarjanaan yang baru kali ini saya rasakan.

Baca Juga  Jatuh, Bangkit, dan Terus Berjuang

Alih-alih, mengkonfirmasi penjelasan saya, Ngoc langsung menyanggahnya, “Wahyudi, saya yakin ini bukan akhir perjalanan kamu untuk bepergian ke luar negeri. Setelah ini, kamu pasti mendapatkan kesempatan untuk bepergian keluar negeri kembali. Hal ini yang saya alami. Awalnya, saya merasakan hal yang sama dengan kamu. Bagi orang yang belum pernah keluar negeri, menunggu datangnya kesempatan itu lama sekali dan sangat tidak mudah. Saya membutuhkan waktu selama 4 tahun untuk menunggu agar mendapatkan kesempatan itu melalui kesempatan program beasiswa semacam ini. Namun, saat saya sudah mendapatkan kesempatan itu, kesempatan lain akan terbuka dengan lebih luas. Saya yakin, kamu akan mengalam hal yang sama. Jadi, kamu enggak usah khawatir,” ujarnya meyakinkan.

Saya hanya terhenyak mendengar penjelasan itu dan kemudian terdiam sambil sesekali menganggukan kepala tanda setuju. Saat itu, saya tidak tahu, apakah ucapan itu sungguh-sunguh atau sekadar untuk menghibur saya saja agar tidak larut dalam kesedihan. Apalagi, saya merasa bahwasanya menginjakkan kaki ke luar negeri untuk pertama kali merupakan keberuntungan. Saya sebut demikian, karena saya beruntung dibimbing oleh Dr. Budiawan, lulusan Program Studi Asia Tenggara National University of Singapore (NUS). Melalui proses bimbingan awal, ia memberikan alternatif tema untuk meriset studi Islah dan Tanjung Priok (1984). Alternatif tema yang diberikan ini membawa saya kepada keberuntungan lainnya, yaitu mendapatkan beasiswa untuk penulisan tesis dari Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) Universitas Sanata Dharma selama 6 bulan. Program beasiswa saat itu dikelola langsung oleh Dr. Try Subagya.

Dengan bekal proposal dengan tema tersebut, saya meminta surat rekomendasi kepad Dr. Budiawan  untuk mengikuti program tersebut. Saat meminta rekomendasi, saya menyodorlan proposal ringkas saya yang hanya dua halaman, dan kemudian dibaca dan dikoreksinya dengan sangat detail. Tingkat kedetailan dalam mengoreksi ini justru membuat saya merasa itu bukan gagasan saya. Sebaliknya, saya merasa itu adalah perspektif beliau yang didapatkan dari hasil ekstraksi membaca gagasan saya. Selain lebih artikulatif, proposal yang dikoreksi dan diberikan masukan itu menjadi sangat kuat. Hal inilah yang membuat aplikasi saya, termasuk di dalamnya surat rekomendasi dan riset proposal, akhirnya bisa diterima sebagai bagian dari 30 peserta lainnya dari seluruh Asia.

Baca Juga  Rida Orang Tuamu, Mudahkan Urusanmu

Bagi kebanyakan mahasiswa di Asia, beasiswa ini cukup bergengsi sekaligus menguatkan. Saya sebut bergengsi karena banyak mahasiswa, khususnya Indonesia, yang mendaftarkan beasiswa ini. Meskipun pengantarnya adalah bahasa Inggris, beasiswa ini tidak mensyaratkan pelamar yang daftar itu harus memiliki standar kemampuan bahasa Inggris dengan menunjukkan skor IELTS ataupun TOEFL. Sebaliknya, yang dilihat secara umum adalah tiga hal; kualitas riset proposal, kekuatan rekomendasi, dan kemungkinan ketersediaan pembimbing selama proses bimbingan di ARI-NUS selama tiga bulan. Adanya tiket pesawat Pulang Pergi dari tempat asal sekaligus dari Singapura untuk kembali ke Indonesia, beasiswa bulanan sebesar 1750 SGD, dan fasilitas pendidikan yang kelas dunia membuat program ini sangat diminati.

Tampaknya, program ini memang didesain untuk memberdayakan dan memotivasi mahasiswa dan mahasiswi yang sedang kuliah S2 dan S3 di negara Asia untuk mendapatkan pengalaman internasional. Pengalaman internasional ini yang dianggap akan menjadi bekal selanjutnya untuk mereka yang ingin menggeluti dunia akademik. Karena itu, mereka yang sedang melanjutkan studi di kampus-kampus non-Asia, seperti Eropa, Australia, dan Amerika tidak diperbolehkan untuk mendaftarkan beasiswa ini. Ini karena, mereka dianggap sudah mendapatkan pengalaman internasional secara langsung saat mereka berada di kampus tersebut. Dengan konteks semacam inilah, orang Betawi pinggir yang tidak memiliki kemampuan bahasa Inggris yang memadai, tapi memiliki keberuntungan karena dibimbing oleh akademisi yang tepat (seperti saya), bisa mendapatkan beasiswa ini.

Namun, apakah keberuntungan saya ini bisa menjadi cara untuk pecah telur sebagaimana diceritakan oleh Ngoc tersebut? Saat itu saya merasa tidak yakin dengan ucapannya. Saya merasa mendapatkan beasiswa untuk proses bimbingan di ARI-NUS merupakan kebaikan hati yang diberikan oleh Dr. Budiawan untuk memberikan surat rekomendasi sekaligus masukan dalam memperbaiki proposal riset tesis saya. Kebaikan hati yang membuat saya merasa beruntung terpilih dalam program inilah yang membuat saya terus-menerus merasa harus bersyukur. Saya merasa kesempatan ini bukanlah merupakan awalan dari semuanya, melainkan bagian dari keberuntungan yang memang untuk selesai saat itu juga. Lebih jauh, ucapan Ngoc itu hanya sekadar semacam kata manis perpisahan dengan saya agar tetap kuat dan tidak larut dalam kesedihan.   

Baca Juga  Hari Buruk, Masalah dan Musibah? Ini Tips Menjalaninya

Meskipun demikian, harus saya akui, uang saku yang diberikan selama 3 bulan tersebut setidaknya memperpanjang nafas untuk bertahan hidup di Jogja selama kurang lebih 6 bulan ke depan. Dengan penghidupan yang sangat ekonomis selama di Singapura, setidaknya saya bisa menabung sampai 15 juta rupiah. Jumlah tersebut tentu sangat berguna untuk penghidupan sehari-hari saya tinggal di Jogja; membayar uang indekos selama setahun (3,6 juta), uang makan bulanan (600 ribu), membayar SPP kuliah selama dua semester (5 juta), di mana masing-masing semester saat itu hanya membayar 2,5 juta rupiah. Dengan cara semacam ini, saya tidak terlalu berpikir keras lagi untuk terus-menerus menulis di media massa untuk mengganjal uang bulanan di tengah persaingan dunia kepenulisan yang sangat sengit. Apalagi, saat itu, saya masih mendapatkan beasiswa fellowship dari PUSdEP sebesar 6 juta. Dengan jumlah uang tersebut dan kalkulasi penghidupan di Jogja untuk level kehidupan pribadi saya, ini merupakan bentuk kemewahan.  

Bagikan
Post a Comment