Pergolakan Batin Melihat Ibu Tua dan Para Bocah Berjualan

4 menit baca
Teks:
WhatsApp

Beberapa tahun lalu di seputaran Jam Gadang, landmark kota Bukittinggi tempat tinggal saya saat ini, om saya menjumpai seorang ibu tua yang tertunduk lesu dengan satu sisir pisang di hadapannya. Mengundang iba, tentu saja. Tanpa berpikir dua kali, om pun membeli pisang tersebut tanpa menawar. Harapannya, sang ibu bisa segera pulang karena barang dagangannya habis.

Setelah berkeliling, kebetulan jalan pulang beliau melewati lokasi sang ibu kembali. Tanpa diduga, sang ibu masih di sana dengan posisi yang sama. Tertunduk lesu dengan satu sisir pisang di hadapannya. Ah! Kalau sebelumnya om merasa iba, sekarang justru merasa tertipu. Jangan-jangan, di dalam tas ibu masih banyak pisang yang lain. Dan ketika rasa sesal mulai menggerogoti keikhlasan beramal sebelumnya, om pun bergegas menjauh.

Kisah ibu tua penjual pisang ini selalu teringat, terutama ketika saya berpapasan dengan mereka. Bukan ibu yang sama, jelas. Tapi melihat penampilan dan kerut tubuhnya, jelas sudah usianya. Ya, ibu-ibu tua penjual pisang masih sering saya temui setiap hari, walaupun kisah om saya telah berlalu lebih dari lima tahun lalu.

Mengapa banyak ibu tua yang berjualan pisang? Apakah mereka ada yang mengkoordinir, seperti katanya, beberapa pengemis di pinggir jalan? Kalau memang benar, bagaimana caranya ‘sang koodinator’ mengumpulkan para ibu tua dan meyakinkan mereka untuk mau berjualan pisang berkeliling kota? Padahal, beberapa dari mereka untuk berjalan saja sudah susah setengah mati. Ini masih harus membawa tas berisi pisang pula.

Bocah-Bocah Penjual

Sebelum saya menemukan jawaban atas segambreng pertanyaan itu, saya dikejutkan oleh “pemandangan’ yang tak biasa lainnya. Ternyata, tidak hanya ibu-ibu lanjut usia yang mengais rejeki di jalanan. Sejak awal pandemi, saya sering menjumpai bocah-bocah yang juga berjualan sambil membawa keranjang. Mereka menawarkan roti goreng atau paragede (makanan khas kota Bukittinggi, biasa dikenal sebagai perkedel jagung).

Hati siapa yang tak terusik melihat sang bocah menyeret langkah sembari keberatan membawa keranjang? Hampir di setiap perjumpaan akhirnya auto-manggil, “Dek!”

Selain roti goreng dan paragede itu, saya juga menjumpai bocah-bocah yang berjualan krupuk ubi, es, bahkan mendorong gerobak buah segar. Jenis yang terakhir biasanya dilakukan oleh orang-orang yang lebih tua, yang pastinya lebih kuat secara fisik.

Dari obrolan singkat kami, saya mengetahui bahwa bocah-bocah tersebut rata-rata masih duduk di kelas 4 atau 5 Sekolah Dasar. Mereka berjualan usai sekolah. Dagangan mereka dapat dari amak (dari Bahasa Minang, yang artinya Ibu) yang memasak. Amak yang mana, dan apakah sang amak memang punya anak lelaki sebanyak itu, entahlah.

Seperti halnya para ibu tua penjual pisang, para bocah yang berjualan ini juga menimbulkan keresahan di hati saya. Di suatu sore, saya pernah melihat segerombolan bocah penjual roti goreng ini berkumpul. Masing-masing membawa keranjang jualannya, dan kemudian bergerak menyebar di jalanan.  Apakah ada pihak tertentu yang mengkoordinir mereka? Ah, saya hanya bisa menduga-duga saja. Kalau benar, rasanya kok tidak pantas ya jika para bocah dan ibu lanjut usia dijadikan strategi marketing oleh pihak-pihak tertentu.

Memang, mereka juga tidak memaksa kita kok untuk membeli barang dagangannya. Namun, keberadaan mereka bisa dibilang “memaksa” kita untuk bereaksi sesuai kodrat kita sebagai manusia. Menengok, bukan melengos. Menyapa, bukan bergeming. Sampai akhirnya merogoh dompet, bukan mendekap.

Apakah Solusinya?

Dari tampilannya saja, para bocah dan ibu-ibu tua umumnya sudah mengundang simpati. Belum lagi melihat sang bocah, saya terbayang keponakan saya seusia mereka yang sedang asyik bermain. Melihat sang ibu penjual pisang, saya terbayang ibu saya yang sedang asyik berkebun, memasak, atau merajut taplak. Apakah sejatinya berjualan adalah proses sang bocah “bermain”? Apakah sebenarnya sang ibu menikmati proses menyandang pisang keliling kota?

Terus, seberapa besar pengaruhnya bagi kehidupan mereka saat saya membeli barang dagangannya? Seberapa banyak dan bagaimana, saya harus membeli barang dagangan mereka supaya hidup mereka bisa seperti keponakan dan ibu saya? Jika pada akhirnya pergulatan batin ini memutuskan untuk membeli dagangan mereka, saya mencoba untuk menghapus segala pikiran yang berkecamuk di benak saya. Ya sudahlah, lillahi ta’ala saja, semoga bermanfaat.

Tapi besoknya, lusanya, minggu depannya, dan bulan depannya, saya masih selalu saja menjumpai keberadaan mereka. Bertahun-tahun, sampai saat ini. Terus, mau sampai kapan? Bukannya saya menolak hidup berdampingan dengan mereka. Tapi jujur saja, kehadiran mereka sering membuat saya menjadi salah tingkah, apa yang seharusnya saya lakukan?

Apakah membeli barang dagangannya setiap kali bertemu, menjadi solusi terbaik? Atau justru kita abaikan saja supaya (katanya) kalau tidak laku maka mereka akan meninggalkan pekerjaannya itu? Ah, tapi buat orang-orang yang baper-an seperti saya ini, mana mungkin memalingkan muka ketika ditatap sepasang mata bulat sang bocah penjual roti?

Apakah boleh saya hanya sekadar mendoakan kehidupan mereka saja? Ya Allah, semoga sang bocah cepat besar, cepat lulus sekolahnya sehingga mereka bisa jadi pekerja kantoran. Atau, ya Allah, semoga sang ibu cepat pulih kakinya sehingga nggak pincang lagi. Begitu? Apakah doa-doa tersebut cukup berarti untuk mereka?

Ah, sepertinya pergolakan batin saya masih akan terus berlanjut. Entah sampai kapan.

Leave a Comment