Degradasi Marginalisasi Menuju Perempuan Multiperan

4 menit baca
Teks:
WhatsApp

Marginalisasi adalah suatu proses pembatasan terhadap hak yang seharusnya pihak tertentu miliki. Baik dalam bidang pendidikan, politik, ekonomi, budaya, dan lainnya. Proses marginalisasi tentu sangat merugikan, pembatasan gerak menjadikan seseorang tidak berdaya dan sulit berkembang sehingga ia tidak pernah bisa berpartisipasi sepenuhnya dalam segala aspek kehidupan.

Salah satu kelompok yang sering termarginalkan adalah perempuan. Hal ini merupakan buntut dari perbedaan gender antara laki-laki dengan perempuan. Pandangan perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang tercipta di masyarakat menjadikan adanya suatu pihak yang terpinggirkan.

Perempuan sebagai pihak yang termarginalkan tentu sangat tidak nyaman dengan pelabelan semacam ini. Perempuan menjadi ragu ketika ingin berkarir dalam segala hal, padahal sebenarnya perempuan berpotensi menjadi seseorang yang multiperan. Saya jadi teringat jawaban Mbak Nana (Najwa Shihab) ketika diminta memilih antara menjadi jurnalis atau ibu rumah tangga, begini jawabnya, “Kenapa perempuan harus disuruh memilih? Bukankah kita bisa mendapatkan keduanya? Pertanyaan itu seolah-olah membuat perempuan tak berdaya”.

Yaah, sangat setuju dengan jawaban menohok dari jurnalis satu ini, dan sangat kagum pada mbak ini. Dia salah satu figur perempuan inspiratif. Selain itu, sudah banyak bukan tokoh perempuan yang berkarir duduk di kursi pemerintahan? Sebut saja Ibu Sri Mulyani, Menteri Keuangan Indonesia ini tetap bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik di sela kesibukannya menjadi seorang pejabat pemerintahan.

***

Berkaca dari peminggiran yang menjadikan perempuan jauh dari kata merdeka, kiranya perlu adanya Degradasi Marginalisasi. Agar perempuan tidak hanya berperan dalam rumah tangga saja tapi juga mampu bergerak berkarir di luar rumah sebagaimana dua public figure yang saya sebutkan di atas.

Marginalisasi perempuan terjadi karena adanya stigma-stigma yang melekat pada perempuan serta belenggu budaya patriarki. Problematika yang menjadikan perempuan termarginalkan adalah adanya stigmasi bahwa perempuan adalah makhluk lemah. Pensifatan masyarakat bahwa perempuan adalah makhluk lemah dan kurang akal menjadikan perempuan terbatasi ruang geraknya. Contohnya dalam posisi kepemimpinan laki-laki selalu dianggap lebih baik daripada perempuan begitupun dalam hal pengambilan keputusan, peran perempuan cenderung diabaikan.

Faktor kedua dari adanya margininalisasi terhadap perempuan adalah adanya budaya patriarki yang menempatkan perempuan pada posisi kedua. Pengertian patriarki sendiri adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan. Baik dalam hal politik, otoritas moral, hak sosial, maupun penguasaan properti.

***

Bentuk dari budaya patriarki di antaranya adalah: pertama, anggapan perempuan sebagai subordinasi dari laki-laki. Dalam kehidupan rumah tangga terdapat anggapan bahwa perempuan adalah bawahan dari suami. Sehingga peran perempuan seringkali terbatasi geraknya pada urusan rumah tangga termasuk mengasuh anak. Padahal istri merupakan mitra dari laki-laki, sehingga tugas istri bukan sekedar sebagai ibu rumah tangga tapi bisa juga bekerja di luar rumah.

Kedua, bentuk patriarki juga terdapat dalam budaya Jawa yang menggambarkan bahwa perempuan tugasnya hanya macak, masak, lan manak. Pola pemikiran semacam ini tidak hanya berlaku di kaum perempuan Jawa tetapi telah menjadi pola pemikiran yang umum. Mindset 3M (macak, masak, lan manak) adalah pemikiran lama yang terkadang masih dipegang oleh masyarakat sekarang. Memang 3M ini tidak akan pernah lepas dari seorang perempuan, tapi bukan berarti perempuan hanya bisa bergerak di lingkup 3M tersebut, perempuan bisa keluar bergerak bebas dari sebatas 3M tersebut.

Menyikapi permasalahan marginalisasi terhadap perempuan perlu adanya upaya perlawanan terhadap marginalisasi yang menimpa kaum perempuan atau bisa kita sebut dengan degradasi marginalisasi. Degradasi marginalisasi bisa melalui cara perlawanan. Upaya perlawanan terhadap marginalisasi dapat terwujud dengan banyak hal. Di antaranya yang pertama: aktualisasi diri perempuan.

***

Aktualisasi diri perempuan bermaksud untuk memberi ruang gerak terhadap perempuan, menggali potensi diri sehingga perempuan bisa maju dalam segala bidang, termasuk pendidikan dan kemandirian ekonomi. Pendidikan yang tinggi akan membawa perempuan pada derajat yang lebih baik dan akan menjauhkan dari anggapan perempuan kurang akal, begitupun kemandirian ekonomi akan menghilangkan stigma bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah.

Selanjutnya, degradasi marginalisasi bisa dengan melawan hegemoni yang merendahkan perempuan. Perempuan harus bisa menghapus asumsi bahwa peminggiran perempuan terjadi karena kurangnya kontribusi dalam kehidupan sosial-masyarakat. Untuk menghapus asumsi semacam ini perempuan harus sering-sering mengambil peran di hadapan publik, berani memimpin dan menjadi orang berpengaruh di lingkungannya. Tentunya hal ini bisa kita gapai dengan pendidikan yang tinggi.

Melalui apa yang saya paparkan di atas, saya harap marginalisasi terhadap perempuan bisa segera dihilangkan. Stigmasisasi serta budaya patriarki yang melekat pada diri perempuan bukan jadi alasan untuk perempuan tidak bergerak. Justru karena hal tersebut seorang perempuan harus memiliki semangat bangkit dari peminggiran melalui degradasi marginalisasi untuk menjadi perempuan multiperan. Jadi ibu yang baik, bisa! Jadi wanita karir yang hebat, oke!

Leave a Comment