f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kesetaraan gender

Kesetaraan Gender dalam Keluarga; Sebuah Utopia atau Cita-Cita Kemanusiaan

Selayaknya manusia yang tumbuh dan berkembang, sikap atau perilaku terkait dengan gender juga berkembang melalui pemahaman, dan konstruksi sosial. Apa yang setiap individu pahami tentang relasi gender, adil ataukan tidak, semuanya terbentuk melalui serangkaian pembelajaran tentang gender.

Terdapat tiga komponen yang saling berkaitan satu sama lain ketika berbicara tentang gender. Ketiga komponen tersebut antara lain; gender itu sendiri, masyarakat dan budaya. Dari segi bahasa gender memiliki makna yang sama dengan seks yaitu jenis kelamin. Akan tetapi secara konseptual gender dan seks memiliki makna yang berbeda. Jenis kelamin atau yang disebut seks adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir yang bersifat kodrati dan tidak bisa dipertukarkan. Sedangkan gender adalah suatu sifat  yang melekat pada laki – laki maupun perempuan sebagai hasil kontruksi dari masyarakat dan kultur yang ada, yang artinya tidak bersifat kodrati atau alami dan bisa dipertukarkan.

Masyarakat menurut Durkheim adalah ide tentang solidaritas yang menghasilkan imperative moral yang mengikat perilaku individu. Seperti halnya lembaga pernikahan dan keluarga tidak berdiri berdasarkan biologis semata, melainkan berdasar system ideologi tertentu, yaitu ideologi patriarki.

Budaya menurut William H. Haviland adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat. Jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat diterima oleh semua masyarakat. Crawford (2006) menyatakan bahawa hampir semua masyarakat bersifat hirarki. Artinya dalam suatu masyarakat terdapat kelompok yang dominan dan subordinat.

Salah satu dominasi yang hampir terjadi di sebagian besar belahan dunia adalah dominasi laki-laki akan perempuan, inilah yang melahirkan budaya patriarki yang secara sederhana artinya “ayah mengatur dan mengendalikan”. Laki-laki membuat aturan , bahkan laki-laki adalah aturan itu sendiri yang harus dipatuhi. Berdasarkan fakta yang ada sebagian besar ras manusia di dunia ini adalah perempuan, namun perempuan menjadi jenis kelamin dominan yang telah didominasi laki-laki. The Second Sex kata Simone de Beauvoir.

Baca Juga  Konstruksi menjadi Ibu yang Baik dalam Wacana Pemberian ASI
Keluarga Merupakan Narasi Utama dalam Diskursus Gender

Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat menjadi tempat utama terbentuknya fondasi akan pemahaman relasi gender. Dan keluarga merupakan narasi utama dalam diskursus gender. Fakih (2010) menyatakan bahwa perbedaan gender sesungguhnya tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Namun secara historis perbedaan gender melahirkan ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender secara konkret termanifestasikan dalam pola kehidupan keseharian termasuk dalam kehidupan berkeluarga. Ma’arif (2015) mengatakan ketidakadilan gender menjadi penyebab utama mengapa kaum perempuan selalu tersisih di lingkungan kehidupan publik.

Dalam tradisi Jawa ada pula ungkapan konco wingking (teman belakang), sebuah sekat kultural yang membatasi kiprah perempuan sebatas dinding dapur. Situasi semakin menjadi parah manakala perempuan tidak mendapat akses untuk meraih tingkat pendidikan yang setara dengan laki-laki. Muhammad Iqbal mempunyai filosofi yang sangat dalam “bahwa untuk mendidik seorang laki-laki sama artinya dengan mendidik seorang individual, tetapi pendidikan seorang perempuan sama dengan mendidik seluruh keluarga”.

Kesetaraan gender dalam keluarga menjadi sebuah utopia jika melihat bagaimana budaya patriarki yang mengakar kuat seperti yang sering Rofiah katakan bahwa kita terlahir sebagai anak kandung budaya patriarki.  Belum lagi legitimasi agama tentang dominasi laki-laki terhadap perempuan akibat dari interpretasi ayat atau hadits yang misoginis.  Maka menggaungkan kesetaraan gender menjadi suatu misi agar keadilan dapat terwujud.

Gender bukan hanya sebagai isu yang cepat menguap tetapi bagaimana gender bisa menjadi perspektif, menjadi kacamata dalam menilai setiap fenomena-fenomena sosial yang ada.  Sebagai ikhtiar seperti menanamkan rasa cinta akan kemanusiaan, maka laki-laki dan perempuan akan saling melihat ke dalam diri masing-masing. Bahwa manusia baik laki-laki maupun perempuan memiliki misi yang sama dalam penciptaanya yaitu rahmatallil alamin.

Baca Juga  Rem Belanja Online Saat Pandemi

Bagi Buya Syafi’i Maarif, manusia adalah sebuah keluarga. Prinsip keadilanlah yang dapat merekatkan keutuhan sebuah keluarga. Tanpa keadilan, konsep umat manusia sebagai sebuah keluarga akan tercabik dan berserakan. Mengimplementasikan keadilan gender dalam kehidupan merupakan salah satu upaya untuk memanusiakan manusia hingga terwujudnya relasi social yang sehat.  Relasi social yang sehat adalah relasi yang saling memanusiakan, intersubjektif dan tidak saling mengobjektifkan Karena menjadi perempuan, menjadi istri dan menjadi  ibu  bukan berarti berhenti menjadi manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Maarif, Ahmad Syafii. Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan. Bandung: Mizan Pustaka, 2015.
Herdiansyah, Haris. Gender dalam Perspektif Psikologi. Jakarta Selatan: Salemba Humanika, 2016.
Fakih, Mansour. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.
Dzuhayatin, Siti Ruhaini. Rezim Gender Muhammadiyah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.
HS, Muhammad Alwi. 2021. Kesetaraan Gender Perspektif Ahmad Syafii Maarif Sebagai Upaya Mengkontekstualisasikan  Ajaran Agama Islam di Indonesia (Reintrepretasi Atas QS. An -Nisa: 34). Maarif, 16 (2), 191-210.

.

Bagikan
Post a Comment