Rumah Syukur
Aku benci rumah sakit. Aku ngga suka. Dan aku nggak nyaman. Pertama kali aku harus nginep di rumah sakit karena ibuku sakit. Saat itu aku SMP dan harus tidur di bawah kolong tempat tidur pasien karena menunggu ibu. Nggak nyaman banget. Apalagi makanan kantin yang nggak begitu sesuai sama lidahku.
Di antara anak-anak ibu, akulah yang kepilih untuk jaga ibu. Pasalnya, aku sekolah siang. Jadi aku bisa jaga ibu sampai jam 11 sebelum berangkat sekolah. Pulang sekolah jam lima sore jelang magrib aku ke situ lagi. Rumah sakit ganti nama dong jadi rumah tinggalku. Kebayang kan nggak enaknya?
Begitulah. Aku bahkan mengerjakan PR sekolah di sudut-sudut rumah sakit. Belajar kudu di tempat nyaman. Bagaimana mungkin aku bisa belajar dengan tenang, sementara di saat yang sama ibuku sedang sakit? Beliau menderita sakit ginjal. Dengar-dengar dari perawat katanya sih kurang minum air putih.
Sekitar sebulan aktivitas itu berlangsung. Sangat menyiksa. Inilah penyebab aku nggak suka rumah sakit. Kalau ingat ini, aku senyum sendiri. Baru hari ini – sekitar jam 11-an, aku bisa melepas ketidaknyamananku.
***
Ditemani kakak perempuanku, aku menuju rumah sakit. Jaraknya tempuhnya 15 menit. Sepanjang jalan, aku berusaha mensyukuri apapun yang kutemui.
Pohon. Aku menikmati dedaunannya yang hijau. Aku berterima kasih, dia sudah kasih oksigen untukku. Dia juga mengurangi karbondioksida, seperti berlomba bahkan bertahan dengan kejamnya knalpot kendaraan yang tidak bersahabat. Dia juga bisa menahan laju air. Menghindari tanah dari erosi. Menambah cantik pula kondisi jalan yang sudah lima tahun ini aku lewati. Tapi… aku lupa menikmatinya, lupa mensyukurinya.
Jalanan. Cukup kuat karena aspal beton. Nggak mulus banget. Ada satu dua retakan di beberapa bagian. Tapi alhamdulillah banget dari pada jalanan berbatu, berlubang dan berlumpur. Segini mah cukup mulus untuk motorku melaju tanpa kendala yang cukup berarti. Terima kasih jalanan, yang utama – terima kasih Allah, Kau izinkan aku melewatinya dengan mudah. Aku bersyukur. Aku menikmati berkendara di atasnya. Luar biasa. Menyenangkan.
Mobil dan motor. Aku menikmati ada mobil di depanku. Ada motor yang menyalipku. Berasa di jalan. Artinya aku tak sendiri. Iseng juga kan kalau tidak ada siapa-siapa di jalan ini? Rasa takut mungkin akan menyergap tanpa diperintah. Tapi kini, sekarang aku bersama pengendara yang lain bersama-sama menggunakan jalan ini. Ada selip doa buat mereka. Semoga urusannya lancar. Alhamdulillah.
Pelan-pelan aku lupa tentang rumah sakit yang tidak menyenangkan. Tempat dimana dokter dan perawat itu bekerja hampir hilang – tidak jadi fokus pikiranku. Aku sibuk menikmati apa yang aku temui di jalan itu. Termasuk udara dan cuaca.
Di atas motor, aku berterima kasih, bersyukur Allah izinkan aku masih bisa bernapas dengan bebas – bahkan saat berkendara. Aku rasakan udara yang masuk hidung. Exhale – inhale, begitulah istilahnya. Menikmati proses kelangsungan hidup itu. Kegiatan menyediakan asupan oksigen untuk keperluan metabolisme tubuh dan mengeluarkan karbondioksida yang tidak dibutuhkan oleh tubuh – jarang aku nikmati. Terlewat begitu saja tanpa syukur. Padahal tiap detiknya aku bernapas.
Bersyukur dan Berterima KAsih
Sebelum belok ke parkiran, aku melihat banyak motor berjejer dengan rapi. Biasanya aku tidak pernah memerhatikan. Terima kasih, para pengendara atau mungkin petugas parkir merapikannya dengan telaten. Itu artinya bisa memberi ruang untuk motor yang baru datang. Alhamdulillah. Terima kasih, Allah. Terima kasih semua pihak. Kalian seperti tahu aku akan parkir juga. Semoga keberkahan untuk si tukang parkir.
Masuk rumah sakit. Alhamdulillah. Aku lihat sudah banyak orang menanti. Mereka antre di dalam dan di luar. Entah kenapa, aku memilih bertanya pada satpam ketimbang memasukkan berkas ke loket kaca dengan tulisan “Pendaftaran BPJS”. Dengan baik hati dan cekatan, ia membimbingku ke sebuah poster di tembok. Ada tulisan hubungi nomor sekian-sekian untuk pendaftaran BPJS – via whatsapp.
Segera aku chat nomor tersebut. Loading. Sepertinya sinyal. Tapi aku tetap tenang. Menunggu HP-ku proses.
Tiba-tiba si satpam – usianya sekitar 30an, berkata, “Pakai wifi RS saja, bu.” Dia pun menolongku menemukan koneksi wifi yang tertera pada HP-ku. Tertulis “Loby utama RS”. Dia pun memilihnya lalu mengembalikan HP-ku.
Tak berapa lama setelah mengetik kata ‘daftar’ pada chat, balasan pun tiba. Aku mengirim foto surat rujukan, kartu BPJS anakku, serta surat rujukan dari faskes 1. Setelahnya si satpam bilang, “Tunggu aja Bu sampai jam sembilan malam, nanti akan dibalas dengan nomor antrean berobat untuk besok. Ibu datang lagi ke sini jam 7 karena dokternya jam 8.”
Setelah berterima kasih padanya, aku langsung pulang. Sepanjang perjalanan pulang, aku melakukan hal yang serupa. Terus bersyukur dan berterima kasih dalam hati therhadap apapun yang kutemui.
“Syukuri saja dulu, karena pasti ada kebaikan. Meski kamu tidak tahu apa.” Ucapan seseorang entah aku pernah dengar dimana.
Anehnya – ajaibnya, aku lupa dengan rumah sakit yang sudah tergambar tidak nyaman di kepalaku selama ini. Ah…bahagianya. Mungkin karena aku fokus pada syukur dan berterima kasih? Aku membatin.
Jika Kamu Bersyukur
Dalam Islam, kita mengenal salah satu ayat syukur – QS. Ibrahim 7: “…Sesungguhnnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu….”
Kisahku hari ini membuktikannya. Betapa ketika aku bersyukur, berterima kasih, yang kudapat malah tambahan nikmat lagi yakni – lepasnya rasa tidak nyamanku terhadap rumah sakit yang biasanya sudah bertengger di kepala. Hampir 30 tahun lebih.
Allah menggeser perasaan yang sudah berurat berakar dalam diriku dengan mudahnya. Perjalanan dari rumah menuju rumah sakit itu menjadi sebuah cerita hidupku yang endingnya bahagia. Haru, gembira dan sejuta renjana lainnya tumpah menjadi satu.
Alhamdulillah.
Aku menceritakan kisahku pada Teh Roelly – sahabat baruku via whatsapp. Ia seorang narasumber saat aku menulis artikel tentang pemberdayaan diri. Wanita bijak ini memberiku selamat.
“Waah, barakallah Mbak. Hatur nuhun sharingnya. Selamat menikmati momen-momen cintaNya, mbak. Izinkan diri untuk menerimanya.”
Lengkap dengan emot-emot cinta yang tulus. Hatiku sangat berbunga-bunga. Tak berakhir sampai disitu, ia chat lagi.
“Selamaaaat. Mbak.”
Kali ini dengan emot bunga-bunga. Jumlahnya tiga buah.
Aku membalas chatnya dengan doa agar dirinya diliputi keberkahan. Aku merasa diriku memeluk kebahagiaan yang berlimpah. Dan aku masih merasakan keharuan dan kegembiraan itu bahkan saat aku menuliskannya saat ini.
Tak terasa bulir-bulir hangat jatuh ke pipi, aku merasa badanku terguncang – aku menangis tersedu-sedu. Tangis bahagia.
Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
***
Editor: Isnatul Chasanah
Founder Excellent in House Training, penyedia guru bahasa Inggris untuk karyawan kantor.
Instagram @ratu_masrana
