Dakwah dalam Perkembangan Dunia Digital
“Sampaikan dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari).
Hadis tersebut sudah lumrah bagi umat Islam, sekaligus merupakan motivasi untuk selalu berkontribusi dalam penyampaian risalah di jalan Allah dengan ramah. Karena seperti yang kita ketahui bahwa dakwah bukan hanya merupakan kewajiban tokoh ulama maupun Kiai. Setiap Muslim senantiasa berada dalam misi mulia ini. Tentunya sesuai dengan kadar kemampuannya dan tidak terlalu memaksa menyampaikan ajaran Islam di luar pemahaman mereka.
Dakwah dalam pengertian amar makruf nahi munkar merupakan syarat mutlak bagi keselamatan dan keselarasan hidup masyarakat. Melaksanakan tugas dakwah merupakan puncak kebaikan dan kebahagiaan. Sebagaimana terdapat dalam firman Allah SWT : “Siapakah yang lebih baik mengerjakan kebajikan dan berkata : “Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri” (QS. Fushshilat [41]:33).
Dalam catatan bahwa dakwah harus senantiasa mengikuti arus perkembangan zaman melalui cara yang beragam. Hal tersebut agar pesan-pesan dari dakwah dapat tersampaikan sesuai dengan konteks, karena kita akan selalu berhadapan dengan problem yang sangat kompleks.
Berangkat dari fakta itu semua, lantas bagaimanakah konsep dakwah pada era digital saat ini?
Agama dalam Ranah Teknologi
Pada era baru sekarang ini, teknologi informasi melahirkan begitu banyak masyarakat virtual. Yang awalnya dikenal dengan citizenship menjadi netizenship. Maka dari pengaruh tersebut begitu terasa, terlebih dalam pembelajaran agama. Hal tersebut membuktikan bahwa banyak orang yang belajar dan mengajarkan agama bukan hanya di majelis ilmu, melainkan juga dalam dunia maya. Dakwah maupun mengaji online semakin diminati.
Bukan hanya itu saja, konten dakwah banyak yang didistribusikan melalui berbagai kanal digital, seperti Youtube channel, live streaming, media yang memuat tulisan dan lain sebagainya. Ini sudah menjadi pembuktian bahwa adanya suatu keeratan dan korelasi antara agama dan teknologi Informasi.
Namun, tantangan yang kita hadapi saat ini adalah banyak terjadinya disrupsi Informasi. Dalam satu sisi, itu dapat menyebabkan keraguan. Pasalnya, tidak semua konten terutama berbau keagamaan itu memiliki tujuan yang mulia. Banyak yang membuat suatu informasi yang beredar hanya untuk memuat kepentingan individu maupun kelompok.
Mendukung aksi propaganda, radikalisme, dan hoaks menjadi kebiasaan tersendiri ialah menonjolkan aksi Islam garis keras. yang melahirkan paham Islam secara marah bukan ramah dan menghasilkan provokasi yang berimbas pada kegiatan kekerasan hingga aksi terorisme.
Diibaratkan seperti panggung yang gelap gempita, semua orang bisa menjadi sasaran dalam melaksanakan tujuan. Meski tanpa tahu itu merupakan hal yang baik atau benar. Sehingga, kita terjebak dalam ruang publik yang menjadi suatu arena kontestasi antara yang buruk dan yang baik.
Kemampuan literasi digital
Dari berbagai literatur yang penulis baca, kita memerlukan beberapa kemampuan literasi digital yang mumpuni agar tidak mudah terjebak dalam arus media digital yang salah. Pertama, Kompetensi Pencarian di Internet. Ini mencakup kepada kemampuan untuk melakukan pencarian informasi di internet dengan baik dan benar.
Kedua, panduan arah Hypertext merupakan suatu keterampilan untuk membaca serta pemahaman secara dinamis dan tidak kaku terhadap lingkungan. Ketiga, evaluasi konten Informasi yang merupakan kemampuan seseorang untuk berpikir kritis dalam memberikan penilaian.
Keempat, penyusunan pengetahuan yang membangun suatu kumpulan informasi dari berbagai sumber terpercaya dengan kemampuan untuk mengumpulkan sekaligus mengevaluasi fakta maupun opini dengan baik tanpa prasangka. Keempat kompetensi ini sangat penting untuk dimiliki, baik oleh penyedia maupun orang yang mengakses informasi. Karena semakin tinggi literasi seseorang, maka semakin semakin bijak dalam menyikapi dan menginterpretasikan pesan pada media yang baru.
Begitu juga dalam konteks keagamaan, mengakses internet juga pasti memerlukan literasi keagamaan, yakni suatu kemampuan yang berfungsi untuk membedakan dan menganalisis persimpangan fundamental agama dan kehidupan sosial, politik, budaya melalui berbagai sudut pandang. Karena dengan begini, maka kita dapat membedakan mana ranah agama mana yang tidak. Dan tentunya tidak mudah menerima begitu saja informasi keagamaan digital tanpa proses verifikasikonten terlebih dahulu.
Menyikapi Dakwah dalam Ranah Digital
Menjadi pengguna media sosial haruslah cerdas dan bijaksana. Tidak boleh serta merta langsung menghakimi suatu konten sebelum mengetahui kebenarannya. Dalam hal tersebut adanya proses “saring” menjadi sangat penting. Solusi terbaik ketika memperoleh suatu berita adalah mengecek sumbernya, dan membandingkan dengan sumber yang lain.
Dalam dunia digital, keberhasilan dari para dai ialah mampu menjadi pembaca dan pencipta konten dengan kompetensi literasi digital serta pemahaman ajaran Islam yang mumpuni. Tantangan para dai saat ini ialah melawan berbagai macam narasi negatif dengan narasi positif dan penuh akan nilai edukatif. Sudah seharusnya kita bukan hanya membuat konten yang bisa menjadi trending topik saja, melainkan konten tersebut haruslah benar-benar apik dengan menebar bentuk ajaran Islam yang ramah.
Dari tulisan di atas, kita memperoleh suatu kesimpulan, yakni mau sebaik dan seindah apa pun narasi yang terbangun, jika hanya berorientasi pada munculnya benih kebencian dan perpecahan di kalangan masyarakat, maka kita haruslah melawan. Dengan cara apa? Yaitu dengan memperbanyak narasi alternatif yang mengajarkan kebaikan dan persatuan di ruang digital. Sebagai bagian dari amar makruf nahi mungkar, tentu saja memerlukan sinergi dengan pemahaman Islam yang moderat untuk bersama-sama mengisi ruang publik di media digital saat ini.
Editor: Akbar Mawlana
Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an Tafsir Mahasiswa UIN JAKARTA
