Alasan: Tarno Asalnya dari Berkubak
Sepotong daging sapi masuk ke dalam wadah dari tembaga yang sengaja warnanya adalah emas. Beban dengan bermacam berat sudah terhentak di persegi sebelah wadah tembaga tersebut. Jleg! Tentu sudah berat daging sapi tersebut. “Berapa, Marning?”
“Dusta, Tarno, Dusta. Pertanyaanmu itu dusta buah bibir penduduk.”
Benar saja kalimat tanya dengan dua kata adalah pertanyaan yang mengandung makna lain. Tarno menyimpulkan senyumnya. Rokok Sampoerna Mild ia keluarkan dari lonteng celana kain miliknya. Tarno memang pria tuaa modelan agak gila, rokok dilucuti pakaiannya, kemudian disimpan begitu saja ke dalam saku celananya.
Bibir dan mulut yang saling bertemu memang lah jauh lebih cepat menyebar kabar tidak sedap dari pada kecepatan kereta api rute Sidoarjo – Babat. Serta apa yang dikecapkan oleh penduduk tentang Tarno adalah benar. Perihal Tarno mengejar Marning selama 20 tahun itu bukan lagi bualan pagi ibu – ibu sembari menunggu kang sayur datang.
***
“Marning, perkenankan roncean bait paling panjang ini aku jabarkan.” Tarno mulai berada di titik ambyar selagi masih sendiri di gudang garam.
“Agar Marning tahu seberapa lama lagi aku dapat bertahan. Yang kamu pahami Marning, aku perjaka tua gila, bertahta, pemilik lahan garam, petani garam paling sukses di kecamatan. Tentang yang kamu dengar Marning, asap tembakau ialah makananku, arak dan toak menjadi penyegar kerongkonganku yang mati rasa tidak bisa merasakan hangatnya mengucap ‘dek Marning’. Yang kamu lihat Marning, aku lah pria bangka takut dengan surau, marah tatkala adzan berkumandang. Bukankah perihal yang kusebutkan tadi merupakan alasan bagi kau Marning supaya tidak menerima lamaranku?
Boleh saja Marning, kau boleh mempercayai semua sama seperti agama, kau boleh mempercayainya namun kau harus paham akan latar belakang karena semua karya sastra punya latar belakang, tidak mungkin meninggalkan judul saja. Marning, jika ku katakan sungguh sekali sangat lebih dari sungguh jika Perjaka tua gila mengejar Marning. Petani garam adalah sebuah kebenaran.
Aku manusia Marning, merasakan cinta sudah pasti hal fitrah, tercekik karena kehilangan cinta juga lumrah bukan? Pun lapar dan hausku masih sebanding manusia. Yang tidak wajar Marning, aku menegak air setan setelah dunia mempertemukan kita dengan cara kejinya menghina cinta padahal suci di dalamnya. Tegukanku tidak selamanya menjadi suatu sebab akan haus.
Dan Marning, jikalau di pendengaranmu Aku, Tarno, keji dan kafir. Maka kau salah. Sungguh salah. Dunia bermain sandiwara Marning, tatkala kesalahan demi kesalahan datang, karyawan setiap hari bermain di balik layar, dan saat itulah tiap kali adzan datang. Nyaringnya suaraku merasa berpadu khas dengan melengkingnya adzan yang berbaur suara suara kecik penduduk.
Sesungguhnya aku tidak pernah takut surau Marning. Hatiku bergetar hendak memasuki surau, bisikan terdengar pelan “Bahkan makhlukNya saja tidak ada yang mencintai mu. Layak tidak kau masuk rumah suci?” Selalu demikian Marning.
***
Marning…
Hendaknya kau bersyukur sudah ku jelaskan sepanjang ini. Agar kau lepas dari perasangka busuk. Agar kau mau menerimaku sebagai pengganti kepala keluarga. Anak – anakmu bisa saja aku angkat derajat pendidikannya Marning, akan ku sekolahkan mereka jauh di negeri seberang seberangnya lagi. Dan kau Marning, Haji 10x pun aku masih sanggup membangunkan sebuah istana.
Marning…
Kendati bulan masih dari kejauhan, aku tetap menunggu kau mengatakannya.
Marning…
Kau janda beranak lima. Izinkan aku memperbaiki status janda. Dengan begitu aku bukan lagi perjaka tua Kita akan menjadi sebuah rumah tangga.”
Pasar tradisional bukanlah tempat yang pas untuk adegan peradegan drama teater. Satu pertunjukan saja yang sering terjadi di pasar ini, pertunjukan maha murni dan asri bagi semua lapisan masyarakat; pertunjukan seni drama kehidupan. Namun, seni drama kehidupan mempunyai banyak cabang dan ranting, paling dominan dimainkan adalah drama tentang kekayaan keluarga yang dibawa ke masa. Akan tetapi, sangat janggal ditemui drama kasih cinta rakyat desa, seperti Tarno.
Perjaka tua pemilik 10 hektar ladang garam sedang menjadi sorotan banyak pembeli, sementara penjual sibuk membutakan mata mereka dengan akal licik mencurangi timbangan dan transaksi mereka. Ada satu orang pembeli yang tidak peduli dengan Marning dan Tarno, tangannya masih saja memilih buah salak kemudian ia masukkan ke kepes. Pembeli tipikal seperti ini menjadi pembeli dengan skill paling epik, sangat pandai menyembunyikan apa yang tidak dibayar, dengan begitu selamat beberapa lembar uang.
***
Bisik – bisik para pembeli dan beberapa penjual senantiasa masih menerka bahkan mereka berlagak seolah penulis naskah cerita ini, memulai cerita, menambahi adegan, memberi ancang – ancang kelanjutannya, dan akan bertindak untuk memberhentikan cerita Tarno. Lihat saja nanti!
“Tarno! Tidak cukup kamu buat seorang jagal sapi malu. Pulanglah, Tarno! Dunia tidak menginkan aku berumah tangga dengan kamu. Pulang dan keluarlah dari kecamatan. Akan kau temukan Marning yang lain.”
Tarno menghisap rokoknya, kemudian dihembuskan perlahan seiring dengan bubarnya pertunjukan. “Telingaku ini tuli mendengar penolakan kau Marning, banyak warga yang mendatangiku dan berbicara kau terus menolakku tapi aku tidak mendengarnya. Sampai aku wafat pun, hanya penolakan Tuhan untukku masuk surga yang aku dengar.”
“Jika desa ini tidak bisa mempersempit langkahmu, besok langkahmu akan terhenti, Tarno. Tidak akan lagi kau temui aku memotong daging sapi di sini, tidak akan adalagi janda anak lima yang kau lewati rumahnya saban siang saban malam. Ingat itu Tarno! Hatiku sudah tidak bisa lagi untuk terus mendengar rengekanmu, aku ini janda yang menginginkan berjumpa kembali dengan suami cerai matinya. Sudah aku buat janji ketika nazak suamiku masih berada di kaki, bahkan ketika mengetahui kau mencintaiku dengan segala keingkaranmu terhadap Tuhan.”
***
Marning, menutup toples biskuit yang kini beralih fungsi menjadi tempat ia menyimpan uang selama berjualan. Sesegera mungkin ia harus pergi dari pasar, tanpa peduli akan dagangannya direbut oleh pembeli epik.
“Sampai pasar ini saja Tarno. Carilah Marningmu sendiri, aku Marning milik Ahmad Sunanto.”
“Ke mana kau akan pergi, Marning?”
Sepotong kata tidak keluar dari mulut Marning untuk menjawab pertanyaan Tarno. Langkahnya mantap pulang dan berkemas, mungkin saja malam ini adalah yang terakhir untuknya dan kelima anak serta 3 menantunya berada di desa Gembyang.
Besoknya dan puluhan tanggal kemudian, Marning tidak ada, celah kuning matahari juga tidak ada. Getaran membuncah ikut menghilang, angin hanya bisa bertiup kencang. Sebagian binatang udara mengepakkan sayap ke arah timur, angin dari barat berbau tidak sedap hingga semua indra Tarno tidak mampu mengelola tugasnya. Uang di bawah kasur, di atas dipan menjadi pembaringan Tarno. Keempat saudaranya sudah siap jika terjadi hal yang menjadi final dari hidup Tarno, masing – masing dari mereka membawa kertas berupa pernyataan pemindahan hak waris, dan bolpen.
Jahanam adalah tempat keempat saudara Tarno apabila telah meninggal dirinya dengan keadaan tangan digerakkan mengukir validasi. Tapi, jerit angkaranya Tarno masih memelas memohon tempat selain jahanam jika jahanam adalah rumah ke dua bagi dia dan keempat saudaranya, tak lain Tarno ingin bersama Marning, surga yang ia kejar di dunia dan ia tunggu ketika mati.
***
Waktu ashar datang mengusir siang, malaikat turun bergantian untuk menjamin berjalannya kinerja shift – shiftan. Nampaknya, kerja lembur memperbanyak tugas sang malaikat penjaga malam. Ditariknya nyawa Tarno seiring dengan kumandang adzan ashar, perlahan nazak Tarno masih mengisahkan seorang Marning.
Perihal matinya Tarno jika di batu nisan wajib tertulis, maka setelah titik dua akan ada kalimat “Lama tidak berjumpa Marning”. Utuh, puluhan tahun dia habiskan dunianya sebagai kerja sampingan untuk mengejar Marning, hingga umurnya 60 tahun, tetap Marning istri Ahmad Sunanto yang dia inginkan.
Tiba waktunya Tarno untuk melayang – layang, menanti rohnya Marning yang juga ikut melayang. Meskipun ia tahu bahwa matinya Marning tetap menjadi janda dan akan bertemu dengan Ahmad Sunanto, sekedar menjumpai wajahnya saja sudah gemetar hati Tarno.
