f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ayah

Ayah, Remaja Melankolismu Menanti

Jedderrr! Bunyi pintu dibanting, cukup mengagetkan suasana siang yang tenang. Kita yang sedang asik menikmati secangkir es teh lemon tersedak dan mengelus dada. ‘haduuhhh anak lelakiku….’

Ayah dan bunda pernah gak mendengar bantingan pintu dari kamar anak?  Cukup bikin mules dan hatiku sangat kacau gak sih? Apalagi dari anak yang sedang puber-pubernya, yang sering menguras emosi dan air mata. Nah, menurut Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi.,Psi,  moodswing memang merupakan salah satu ciri pubertas awal. Perubahan emosinya bisa naik dan turun dalam waktu yang relatif cepat, ia juga lebih gampang tersinggung. Ketika kita lihat ia sedang kesel, eh sejam berikutnya udah ceria lagi.

Masa remaja adalah masa di mana ia ingin diperhatikan dan diperhitungkan eksistensinya, bahkan merasa sejajar dengan orang dewasa. Tetapi orang dewasa kerapkali memperlakukan mereka dengan tidak konsisten, kadang mereka menganggapnya sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa, kadang juga sebagai orang dewasa. Hal inilah yang semakin mempertajam moodswing mereka.

Adakah perbedaan emosional pada anak lelaki dan perempuan? Sebenarnya sama saja, tapi wujud ekspresinya yang bisa berbeda. Yang jelas, anak perempuan cenderung mengandalkan emosinya, lelaki cenderung mengandalkan logika. Untuk remaja lelaki dengan kepribadian melankolis, selain mengandalkan logika ia juga dominan memakai emosi.

***

Ciri awal anak melankolis adalah pernah mengalami keterlambatan bicara pada masa awal perkembangannya. Pada remaja, ciri-ciranya adalah ia cenderung lebih baperan dan labil emosinya serta mudah marah, lebih pediam, pemikir, kurang percaya diri,  mudah menyerah, kreatif, sulit menjalin relasi, pintar menyimpan rahasia, dan perfeksionis.

Pernah gak Anda mengalami masalah ini: anak terlihat menantang ketika sedang diajak membicarakan masalahnya. Orang tua mencoba menjelaskan dari berbagai sisi. Si anak malah tertarik membahasnya secara mendalam dengan menggunakan sisi-sisi logisnya, merasa lebih tahu dengan menampilkan bukti-bukti yang menguatkan argumentasinya dan membenarkan perilakunya. Begitulah ciri anak melankolis yang pemikir, labil emosinya dan mudah marah.

Baca Juga  Meningkatkan Komunikasi Positif dalam Keluarga

Dalam hal di atas, siapa yang harus turun tangan? Ayah atau bunda? Bagi anak lelaki, peran ayah cukup besar dalam pembentukan identitas sosialnya. Ia belajar bagaimana lelaki bersikap sesuai norma sosial yang berlaku, bertanggung jawab, belajar bagaimana mencintai dengan cara yang benar, belajar mengelola emosinya, dan belajar untuk menjadi pemimpin. Kehilangan sosok ayah di awal perkembangannya dan di awal pubertas anak lelaki dapat membuat anak lelaki kehilangan model yang tepat sehingga identitas kelakiannya tidak terbentuk sempurna.

Dari beberapa pemerhati parenting, di antaranya Ustaz Bendri dan Ibu Aisah Dahlan, saya sarikan beberapa kiat berinteraksi dengan anak. Yuk, kita belajar sama-sama bagaimana mengasah ketrampilan para ayah dalam menghadapi dan berinteraksi dengan remaja lelaki melankolis.

Terlibat dalam aktivitas fisik bersama anak

Misalnya dengan bermain bulu tangkis, bermain petak umpet, bermain kejar-kejaran, jalan pagi, jogging, bersepeda, membersihkan mobil, dan lain-lain. Dengan melakukan aktivitas ini sebenarnya anak tidak hanya diajarkan untuk melatih ototnya tetapi semua itu dapat menciptakan kedekatan anak dengan ayah. Sambil melakukan aktivitas fisik tersebut, ayah dapat bercerita tentang kesehariannya, tentang pekerjaanya, atau tentang masa remajanya, tentang prestasi atau kesuksesannya (tapi jangan nyombong ya…). Ketika orang tua berjalan mendekat ke anak, maka sejatinya anak akan berlari mendekat kepada kita. Dengan kedekatan tersebut maka anak akan becerita mengenai masalahnya secara terbuka.

Mengikat hati anak

Bagaimana mengikat hati anak? Ayah dapat memeluknya, mendoakannya secara terbuka (maksudnya mengungkapkan doanya di depan anak), serta menyampaikan rasa cinta pada anak. Dengan cara seperti ini, anak melanlokis yang memang baperan dan gampang tersentuh, akan lembut hatinya dan merasa disayang oleh ayahnya. Dengan terlihatnya rasa cinta ayah terhadap anak, maka anak akan belajar untuk percaya dengan apa yang ayahnya katakan, dan percaya untuk menceritakan masalahnya pada ayahnya.

Baca Juga  Pentingnya Membangun 'Kelekatan' dalam Pengasuhan Anak
Menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi anak-anaknya.

Ingat ya ayah, anak logis itu membutuhkan jawaban yang cepat atas segala kegelisahan dan kaingintahuannya. Apalagi anak melankolis adalah anak yang pemikir dan jenius. Jawaban yang kita berikan mungkin saja akan disanggah dengan argumennya, maka siapkan diri kita sebagai ensiklopedi berjalan bagi anak. Atau bisa juga dengan cara bersama anak mencari jawaban atas pertanyaannya.  Ketika mencari sumber dari gadget, jangan sampai terlena juga sih. Nanti kelamaan pakai gadget, lupa mencari jawaban dari pertanyaan anak. Hehehe…

Menghibur anak ketika ia merasa kecewa atau sedih

Anak yang melankolis, adalah anak yang baperan dan gampang terletup emosinya. Bila  terjadi keadaan yang tidak sesuai dengan semestinya ia akan mengkritisi hal itu. Dan dengan kelabilan emosinya, akan merasa sedih dan kecewa yang mendalam.  Misalnya saja, adiknya tidak menetapi waktu belajar yang telah ditetapkan sedangkan ia bertahan dengan waktu tersebut. Kekecewaannya atas keadaan itu akan disampaikan dengan segala argumennya secara berapi-api.

Tahan emosi ya, ayah. Lebih baik bila kita menghiburnya terlebih dahulu. Setelah kekecewaannya mereda barulah kita memberitahukan alasan si adik tidak menepati jadwal belajarnya dan meminta si adik untuk menyampaikan hal itu kepada kakaknya. Jadi, hiburlah anak, redakan kekecewaanya, barulah kita sampaikan alasan-alasan atas keadaan yang terjadi.

Orang tua sebagai orang yang sudah lebih mengenal anak dan juga telah menjalani pahit getirnya kehidupan, jangan sampai ikut terpancing emosi atas segala argumen si anak. Cobalah untuk tarik napas dan buang napas secara teratur, tahan dan diam sebentar daripada terus menanggapi omongan anak. Jadilah pendengar yang baik dan cobalah untuk memahami perasaanya, lalu tekankan pada diri bahwa ini adalah situasi yang akan segera berlalu seiring semakin dewasanya anak. Kita kan juga pernah di masa seperti ini. Iya kan.

Baca Juga  Empat Cara Belajar Mengaji yang Aman untuk Anak-anak

Namun apabila kita merasa lelah dan tak berdaya menghadapi perilaku anak, tak ada salahnya mencari bala bantuan professional. Kita bisa mendatangi klinik psikologi terdekat. Di setiap rumah sakit, contohnya di RS Hermina, ada klinik psikologi. Kita bisa membuat jadwal di bagian pendaftaran untuk konsultasi dengan psikolog tersebut. Atau bila di sekolah anak kita ada guru BP/ psikolog, tak ada salahnya kita mencoba berkonsultasi dengannya.

Tak ada ayah yang sempurna tapi kita bisa berusaha menjadi ayah terbaik bagi anak-anak kita.

Bagikan
Post a Comment