Relasi antara perempuan dan dampak pandemi sepertinya menjadi topik yang menarik untuk dibahas; karena pandemi membawa kompleksitas problematika sendiri bagi perempuan. Problematika tersebut tidak hanya menyangkut problematika kesehatan, problematika ekonomi tapi juga problematika mental.
Perjuangan yang sulit harus bertambah dua berkali lipat lebih sulit dihadapi oleh perempuan di masa ini. Ambil saja salah satu contoh yaitu kasus perceraian. Pada masa pandemi, telah tercatat 3.513 kasus perceraian. Angka tersebut membuka banyak lembaran baru perempuan untuk memperjuangkan kehidupannya bersama anak-anaknya.
Di sisi lain, lapangan pekerjaan tidak memberi akses yang mudah dan pintu yang terbuka bagi perempuan. Kondisi ini semakin mempersulit kondisi perjuangan perempuan di dunia kerja. Pusat Hukum Wanita Nasional (NWLC) menyatakan hampir 1,1 juta pekerja usia 20 tahun ke atas harus keluar dari angkatan kerja; yang mana dari jumlah tersebut 85 persennya yaitu 865.000 orang adalah perempuan. Ini menunjukkan bahwa angka perempuan yang terpaksa di-PHK lebih tinggi 4 kali lipat, yaitu 216.000 orang pekerja.
***
Dalam problematika domestik lain, seperti kesehatan mental; menurut penelitian yang dilakukan oleh Survey Meisurement Training Reseach, perempuan problem kesehatan mental yang lebih tinggi dari pada laki-laki. Contohnya saja contoh peranan perempuan sebagai seorang ibu. Pengalihan tanggungjawab guru kepada seorang ibu, menjadikan level pekerjaan perempuan menjadi lebih sulit dan lebih kompleks, terutama bagi perempuan yang tidak memiliki pendidikan yang cukup untuk menyelesaikan problematika pendidikan anak-anaknya di sekolah. Hal ini yang kerap membuat perempuan mengalami multiple stress.
Begitu pula pada perempuan yang tidak terikat ikatan pernikahan. Sulitnya mendapat pekerjaan, kekhawatiran akan masa depan, kondisi asmara, kondisi pendidikan, hingga kondisi kehilangan orang-orang yang dicintai yang selama ini menanggung finansial kehidupan, menjadikan problematika mental yang cukup serius bagi perempuan.
Namun kondisi ini tetap harus membuat perempuan tangguh dan berdiri tegak menempa semua problematika yang ada. Setidakramah apapun dunia pada perempuan, perempuan harus tetap menopang hidupnya, memaksimalkan potensinya, dan menaklukkan tantangan yang ada.
Pandemi mengajarkan kepada perempuan untuk tidak menjadi sosok lemah golongan kedua yang terus tertindas diskriminasi, atau sosok putri yang selalu mendapat perlindungan laki laki, tapi menuntut wanita harus mampu berdikari dan berdigdaya.
Untuk menaklukkan semuanya, perempuan butuh berdiri di kaki sendiri. Perempuan harus tetap bertahan walau dunia menciptakan kondisi ketidakadilan. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan perempuan menghadapi kondisi ini, antara lain:
Bertahan dan Bertuhan
Bertahan adalah cara yang paling bisa dilakukan oleh perempuan. Menerima bahwa kondisi tidak menyenangkan ini tidak bisa didiamkan tapi harus ditaklukkan.Menerima bahwa kondisi yang tidak adil ini harus dihadapi bukan diratapi. Dan bertahan tidak bisa dilakukan seorang perempuan tanpa punya pondasi “bertuhan”.
Sebagai seorang muslimah, ada banyak energi dan kekuatan dari “Iman” yang bisa kita jadikan bahan bakar untuk menguatkan dan menopang ketidakpastian.
“Meyakini bahwa kita punya penolong tunggal yang bisa diandalkan yaitu Allah adalah sebuah kondisi yang paling mendamaikan” Cukup mengingat ayat dan hadis qudsi ini:
Al-Baqarah ayat 286 berbunyi: لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha.” “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya
Hadis qudsi : …أَناَ عِندَ ظَنِّ عَبْدِي بِي “Sesungguhnya Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hambaKu…”
Menjadikan langkah ke depan akan terasa ringan. Bahwa seberdinamika apa kehidupan yang dijalani, selama ada Allah, tidak akan ada yang tidak bisa dilalui. Dan mindset bahwa Allah akan selalu membantu keberlangsungan kehidupan kita kedepan (tentunya atas usaha yang telah kita lakukan) adalah kunci yang akan mengantarkan kita pada realita yang membahagiakan yang sesuai dengan apa yang kita prasangkakan.
Memaksimalkan Potensi
Setidakadil dan setidakramah apapun dunia pada kita, percayalah bahwa perempuan selalu punya potensi berharga yang bisa dimaksimalkan. Jangan pernah mendowngrade dirimu hanya karena statusmu sebagai perempuan, terutama hanya sebagai ibu rumah tangga. Setiap manusia diciptakan sepaket dengan potensinya
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Kita terlahir sebagai satu satunya di dunia ini, versi limited edition dengan sebaik-baiknya potensi. Mungkin pandemi ini adalah momen refleksi bagi para perempuan untuk bangun dari tidur, mengenali dirinya sendiri dan menjadi aktor yang siap bersaing dengan menunjukkan potensi terbesarnya. Barangkali di balik potensi dan peran sebagai ibu rumah tangga, ada banyak potensi terpendam lain yang bisa membuatmu berdaya. Seperti menyadari bahwa memasak bisa menjadi potensi yang bisa dikembangkan menjadi usaha dan lain sebagainya.
Semuanya bukan tergantung dari bisa atau tidak bisa kita memaksimalkan potensi; tapi mau atau tidak mau kita mengambil langkah untuk memaksimalkannya. Dan jangan khawatir, langkah pertama mungkin memang berat, sangat berat mungkin. Tapi langkah itulah yang nantinya membawa kebersyukuran besar, bahwa kamu telah mampu mewujudkan bentuk sebaik-baiknya dari dirimu yang Ia anugerahkan. Jadi jangan menyerah ya…
