Hearing VS Listening, Apa Bedanya?
“Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa pernah mendengarkan kata-kata orang lain…” kata Seno Gumira Ajidarma. Dalam cerpennya berjudul Sepotong Senja untuk Pacarku. Mungkin saja kalian tidak asing dengan quote ini. Qoute tersebut Sukab sampaikan kepada Alina kekasihnya (tokoh pada cerpen). Secara tersirat penulis menyampaikan kepada kita. Bahwa harga dari sebuah kepedulian mendengarkan itu mahal.
Eits, yang akan kita bahas bukan buku itu ya. Kita akan membahas salah satu kata yang ada pada quote. Yap, kata “mendengarkan”. Tidak asing bagi kita saat mengetahui kata tersebut. Di kehidupan 24/7 pun pasti kita melakukannya. Bahkan di setiap detik kita menghela nafas, telinga selalu sigap menerima suara.
Bahkan dalam buku The Art of Listening karya Muthia Sayekti mengatakan bahwa mendengarkan itu sama saja dengan kemampuan membaca. Kenapa? Membaca tak sekadar membunyikan huruf menjadi kata, yang setelah itu terangkai menjadi kalimat. Lebih dari itu, membaca itu memahami. Sama halnya dengan mendengarkan, tidak hanya kita artikan sebagai penerimaan suara-suara yang terucap. Tetapi mendengarkan adalah kompetensi diri untuk saling memahami.
Lantas, apakah kita sudah benar-benar mendengarkan? Ataukah selama ini kita hanya mendengar tanpa ada imbuhan -kan di belakangnya? Menariknya di sini. Kita sering menganggap remeh antara mendengar dan mendengarkan. Padahal jelas beda penggunaannya. Dalam bahasa Inggris mendengar adalah hearing. Sedangkan mendengarkan juga listening. Lah bedanya di penyebutan saja? Bukan.
Hearing
Hearing adalah proses menerima suara secara tidak sengaja dari lingkungan terdekat. Dengan kata lain, kita mendengar bukan karena ingin. Tetapi memang tidak sengaja suara itu terlintas di telinga kita. Lebih mudahnya, suara itu hanya singgah tapi tak sungguh di telinga kita. Eh, maksudnya dia hanya mampir. Kita tidak mempunyai kepentingan untuk mengolah pesan tersebut.
“I heard a bang, and I jumped.” (Saya mendengar suara letusan dan saya melompat terkejut)
Saat seseorang di samping kita sedang berkomunikasi dengan orang lain. Kita mendengar bahwa si A sedang berbicara dengan si B. Mengetahui bahan pembicaraannya, tapi kita tidak memberi respon untuk memahami. Karena apa? Kita tak memiliki kepentingan untuk mengolah informasi.
Atau sama halnya dengan announcement di ruang publik. Saat penjaga perpustakaan memanggil salah satu siswanya untuk memenuhi persyaratan tertentu. Sebagai orang di dalam ruangan, tentu mendengar dan mengetahui panggilan dari penjaga perpustakaan. Tapi kita tidak memberi umpan balik. Karena suara itu bukan tertuju pada kita. Itulah hearing.
Listening
Beda dengan hearing, istilah listening biasanya untuk ujian dalam mata pelajaran bahasa Inggris. Di dalam BAB listening kita mendapat perintah untuk mendengarkan soal dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian. Sikap ini bertujuan agar siswa-siswi memahami soal. Dengan itu, mereka dapat menjawab soal ujian dengan benar dan tepat.
“I have been listening Indie music while I study English language.” (Saya mendengarkan musik Indie saat Saya belajar bahasa Inggris)
Bicara tentang sungguh-sungguh, berarti listening itu mendengarkan lawan bicara dengan memahaminya? Exactly. Orang yang memang sejak awal memulai pembicaraan dengan menyimak, pasti akan mengusahakan diri untuk memahami lawan bicara. Walaupun dia belum bisa memberikan respon terhadap apa yang dibicarakan. Namun pelan-pelan, ia menjadikan diri sebagai pendengar yang baik. Ada usaha untuk menerima suara-suara itu menjadi respon.
Inilah bagian yang sering terlupakan dari sebagian manusia, banyak yang sibuk berkata tanpa mendengarkan kata orang lain. Banyak yang membangun argumen-argumen positif tetapi kurang action. Banyak yang menginginkan untuk didengar tapi lupa bertanya pada diri sendiri, sejauh mana kita sudah melakukan hal yang sama dengan lawan bicara.
Kemungkinan timbul miss communication dan ladang konflik apabila tidak bisa mengusahakan komunikasi dengan baik. Komunikasi diri sendiri, komunikasi interpersonal, dan komunikasi terhadap kelompok. Karena sejatinya, keberhasilan sebuah komunikasi dipandang dari isi. Komunikator yang pesannya dapat diterima oleh komunikan. Dengan demikian, komunikan dapat menumbuhkan pemahaman dan persepsi positif dalam dirinya.
Pesan
Sudah lebih jelas bukan, bahwa diri menyadari posisi untuk berlaku hearing dan listening. Perlunya memposisikan diri dalam keseharian hidup. Mengerti mana yang perlu didengar dan mana yang perlu didengarkan. Terbuka dengan sebuah percakapan dan sejenisnya. Membantu memberikan jalan tengah kepada orang-orang yang butuh akan uluran hati dan pikiran kita. Dan menghindari sikap acuh tak acuh terhadap sesama.
Lantas bukan berarti dengan mendengarkan orang lain, kita tidak memiliki waktu untuk melakukan hal yang sama terhadap diri sendiri. Hal itu tergantung, sejauh mana kita mengenal diri. Dan sejauh mana kita bisa mengatur ego yang ingin lebih dimenangkan untuk menjadi manusia yang enggan memahami. Kalau kata Mbak Muthia Sayekti, kita perlu kooperatif dengan pikiran dan hati untuk mendengarkan orang lain.
Seperti pepatah dalam bahasa Jawa “Mlebu kuping tengen, metu kuping kiwa”. Diartikan “masuk telinga kanan, keluar telinga kiri”. Komunikasi yang ditujukan kepada dirinya akan menjadi angin lewat saja. Orang yang tidak perhatian dengan perkataan orang lain. Menganggap tidak penting sebuah pembicaraan orang terhadap hidupnya. Lalu hilang makna dan lupa seketika.
Jadi, berangkat dari sebuah keresahan ihwal “dengar”. Penulis berharap, kita (diri sendiri dan semua pembaca) dapat menjadikan hal ini sebagai refleksi. Bahwa hidup memang memiliki dinamikanya masing-masing. Problem yang datang silih berganti akan meminta untuk dihadapi agar menjadikan kita hidup berdampingan dengan process dan progress. Dan semakin berkurangnya usia kita, akan semakin ada hidup yang harus di upgrade. Kecuali kita tak menginginkan perbaikan diri.
Mari berbuat saling dengan sesama. Pelan-pelan tapi pasti. Dengan saling berbagi, saling mendengarkan, dan saling memberi solusi. Yang tentunya, semua itu bisa dilakukan dengan usaha. Usaha yang memang tidak mudah jika tidak dicoba. Memposisikan diri dan rendah hati.
Mahasiswa S1 aktif pada Pimpinan Komisariat IMM Ar-Rasyid IAIN Kudus

Frid
Keren kak.. Berkarya terus
Alfiona
Semoga selalu