f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pahlawan

Ibunda: Potret Pahlawan Keegoisan

Berbicara mengenai pahlawan, terbawa pikiran kita akan seseorang yang mampu membawa perubahan dalam hidup menjadi lebih baik. Saat mendengar Rahma.id mengusung ajakan nulis mengangkat tema pahlawan, seketika itu pikiran saya termenung cukup lama, demi merasakan badan serasa terguyur inspirasi sekaligus mendatangkan serta rasa syukur. Bagi diri pribadi, tidak perlu menoleh mencari berbagai inpirasi tokoh pahlawan yang nampaknya tidak pernah luput terpajang di setiap dinding sekolah. Percuma jika yang terdekat saja tidak kita anggap sebagai pahlawan. Menurut KBBI, kata pahlawan mengandung pengertian orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya. Pastinya yang mereka perjuangkan dan korbankan itu untuk masyarakat luas. Tidak egois dengan kepentingan pribadinya.

***

Nampaklah sesosok yang menjadi tokoh teladan dan mengandung segala keridhoan bagi hidup saya, seorang Ibu. Tidak perlu saya jelaskan sedari awal saya di kandungnya. Saya yakin, kita semua tanpa sengaja terkadang terbesit pemikiran terbawa perenungan hebat tentang diri ini pernah menjadi satu dengan sang Ibu, lalu terbelah terpisah darinya melalui berbagai cara yang tidak mudah dan tentu menyakitkan baginya.

Namun, pahlawan (ibu) ini merelakan dirinya tersakiti demi melihat wajah buah cintanya, demi mendengar tangisan merdu kita saat terancam dengan dunia. Bayi menangis karena dia tahu bahwasanya dunia tidak senyaman dan seaman dalam kandungan bersatu darah daging dengan ibunda, banyak tantangan, ancaman, dan kesedihan di luar sana. Nyatanya, saat dalam dekapan ibunda, bayi merasa tenang dan tangisan pun mereda. Ia tahu bahwasanya dekapan itu yang paling tulus dan mengandung cinta yang teramat dalam, sekaligus membawa serta harapan-harapan.

Hal itu masih saya rasakan sampai sekarang, mahasiswa semester 5 dan masih ingin ke depan lebih lama lagi merasakannya, saat stres dengan banyak hal di perkuliahan atau masalah organisasi, pulang adalah putusan yang akan segera saya ambil. Melihat Ibu menyambut dengan penuh kehangatan dan kasih sayanglah yang membuat kita serasa menjadi orang yang paling berharga. Bisa dianalogikan saat handphone lowbat, ibulah yang menjadi fast-charging nya.

Baca Juga  Netizen Indonesia, Mari Berkawan dengan Teman-Teman Sedunia

Terlepas kadang membuat ia marah, kesal, kecewa namun tatapannya penuh harapnya masih sama. Beberapa kali, kegagalan menerpa dalam proses hidup saya. Berkali-kali pula ibunda meng-gapapa-kan hal itu, hal yang menjadikan saya merasa tambah bersalah sekaligus memupuk semangat ke depan. Awalnya, bagi saya yang tidak mensyukuri hidup merasa hidup pincang saat kehilangan Bapak sewaktu kelas 1 Sekolah Dasar.

***

Ketika melihat sosok Ibu, yang nyatanya sedari anak-anaknya dalam kandungan ibu sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tidak akan ada kisah, tanpa ada kasih menorehkan kata-kata dari Kang Maman sekaligus mengaminkan hal itu. Cerita dan kisah kasiih yang ibu paparkan menyadarkan harapan besar yang ibu pupuk sejak lama, durhaka sekali jika anak menebas benih yang telah ibunya pupuk itu dengan racun kemalasan dan masa depan kelam. Hal yang membuat saya bangga, ujar ibu jikalau cuma mengandalkan uang tinggalan pensiun bapakmu enggak akan cukup. Ternyata sewaktu anak-anaknya dalam kandungan sudah ia siapkan tabungan bagi pendidikan putranya.

Padahal uangnya bisa ia gunakan untuk apapun yang ibu suka dan buat bahagia, tapi ia relakan demi kesejahteraan putranya. Hal yang membuat saya terenyuh ialah kesetiaan ibunda, saat ditinggal bapak menghadap illahi robbi. Hal itu baru saya sadari, baru-baru ini saat bincang-bincang dengan kawan, kita senasib, bedanya ibunya menikah lagi. Ia bercerita iri dengan saya yang ibu masih fokus dengan kesejahteraan anaknya. Mungkin, hal ini tidak terlepas dari situasi dan kondisi yang berbeda di antara keluarga masing-masing.

Bertambah kesalutan saya dengan sang ibunda. Membesarkan anaknya seorang diri sedari 14 tahun yang lalu. Keluarga kami, bukan termasuk golongan menengah ke atas, namun alhamdulillah-nya masih berada di golongan tengah. Selalu tertegun saat belanja, ibu sebenarnya menginginkan sesuatu tapi ia letakan kembali, tahu bahwasanya masih banyak kebutuhan bagi anaknya yang perlu dicukupi, alhasil ia tahan keinginannya. Termasuk untuk berhaji, beli mobil, renovasi rumah, dan lain sebagainya. Ibu cukup untuk memenuhi kebutuhan semua itu, namun baginya semua itu baru terasa lega saat anak-anaknya yang mampu membeli semua itu sendiri, dan uang saat ini hanya jembatan untuk kesuksesan putranya nanti.

Baca Juga  Mubadalah Istilah Al Ummu Madrasatul Ula
***

Beda cerita dengan apa yang anaknya butuhkan demi pendidikan, mulai dari fasilitas sampai kecukupan papan, pangan, dan sandang. Semua ia cukupi tanpa terlewat satupun. Teringat selepas SMA keteledoran saya hingga ter-blacklist dan tidak diterima di universitas negeri. Hati kacau, diri pribadi memutuskan untuk berhenti satu tahun demi mengejar universitas negeri, dikarenakan biaya di sana lebih murah dari swasta. Satu tahun janji saya gunakan untuk mencari sebanyak mungkin pengalaman, kerja, dan belajar. Ibu satu-satunya orang yang menentang itu semua. Masalah biaya ia yakinkan tidak usah saya pikirkan, ibu sudah siapkan jauh-jauh hari.

Ibu adalah orang yang anti dengan yang namanya hutang, tapi ibu menggunakan konsep setoran perbulan yang wajib ia sisihkan untuk ia tabung serasa menjadi wajib membayar utang. Wanita sederhana yang mampu menginspirasi saya hingga tegak sampai sekarang. Kefokusan anak dalam menempuh pendidikan pun menjadi prioritasnya. Suatu ketika, saya daftar magang coba-coba dan keterima bukan merasa tidak cukup dengan apa yang ibu beri hanya ingin mengembangkan skill dan uang jajan. Akan tetapi Ibu khawatir, apakah mengganggu kuliah atau tidak, jika mengganggu berhenti saja. Saya juga ijin nyambi kuliah dengan kerja, nampaknya hal itu tidak ibu ijinkan. “Tugasmu kuliah, masalah biaya biar ibu saja,” ungkapnya.

Terkadang ada beberapa hal yang menjadikan saya risih karena terlalu dimanja, tapi tinggal bagaimana kita menempatkan itu semua. Saat rasa risih dan menyalahkan keadaan yang berpengaruh dengan kepribadian detik ini, nampaknya kesalahan itu semua hanya secuil dari pengorbanan dan perjuangan yang ibu saya berikan. Terlepas saya harus mampu belajar lebih keras lagi dalam hal apapun yang terpenting bisa membuat ibunda bangga, baik di dunia maupun di akhirat sana. Ibu merupakan pahlwan. Seperti yang Bang Fiersa Besari katakan, orang yang rela keinginannya diinjak- injak demi keluarga layak disebut pahlawan.

Bagikan
Post a Comment