f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Terindah

Karena Kau yang Terindah

Bagi kita yang melalui masa remaja tahun sembilan puluhan mungkin tidak asing dengan Grup Band Java Jive yang terkenal dengan lagu hitsnya Kau yang Terindah. Alunan syair lagu tersebut sangat membuai dan memanjakan telinga pendengarnya yang menginginkan ketenangan di tengah suasana rutinitas mengerjakan tugas yang guru berikan di sekolah atau tugas yang kita peroleh dari dosen. Lagu ini cukup indah sesuai dengan judulnya dan selaras dengan bait-baitnya yang mengajak kita untuk setiap saat setiap waktu menginginkan hal hal terindah dalam hidup. Secara alamiah panca indra kita akan memberikan respon dengan sangat cepat ketika menemukan benda yang indah, karena keindahan itu memang anugrah dari sang pencipta. Allah itu indah dan Allah menyukai keindahan. Sesuatu yang indah akan menggerakkan manusia untuk mendapatkannya.

Setiap orang pasti berbeda dalam mendefinisikan keindahan pada hidupnya. Perbedaan dalam mendefinisikan ini menyebabkan setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang keindahan. Petani mungkin menganggap hal yang terindah baginya ketika mendapatkan hasil panen yang banyak dari ladangnya. Hal terindah bagi orang yang mengakhiri isolasi mandiri adalah mendapatkan hasil PCR negatif. Anak-anak mungkin mengira bahwa momen terindah dalam kesehariannya adalah ketika mereka mendapat kesempatan untuk bermain game online atau berkumpul dengan teman-temannya sambil menonton kartun Shinbi’s House. Seorang atlet akan menganggap memperoleh medali emas merupakan capaian terindah dalam hidup. Pedagang kaki lima rela adu mulut bahkan bentrok dengan petugas Satpol PP karena dilarang berjualan selama masa PPKM, semua mereka lakukan karena mereka akan merasa bahagia jika anak istrinya yang merupakan anugrah terindah baginya bisa makan dari hasil kerjanya berjualan di pinggir jalan.

Baca Juga  Mencegah Anak Melakukan Bullying di Dunia Pendidikan
***

Adapun untuk mendapatkan segala yang indah di muka bumi ini, manusia menempuhnya dengan berbagai cara. Ada yang menempuh dengan cara terhormat dan banyak juga yang menempuh dengan cara biadab. Bagi para petani dan pedagang kecil, untuk menafkahi keluarganya mereka lakukan dengan cara bekerja keras. Ribuan peluh mereka kucurkan walaupun hasil yang mereka dapat kadang tidak sesuai dengan tenaga yang sudah terkuras. Untuk membiayai sekolah anakpun sering harus menitipkan STNK sepeda motornya ke tetangga demi mendapatkan pinjaman. Seringkali STNK ini harus dipergilirkan dari satu tetangga ke tetangga lainnya. Yang penting tangis anaknya tidak tumpah karena iri melihat anak-anak lainnya yang bisa membeli kuota internet untuk belajar. Namun mereka masih bersyukur karena masih mampu untuk menyediakan rezeki yang halal dan berkah

Sementara cara biadab untuk mendapatkan sesuatu yang indah telah Qorun dan Fir’aun praktikkan. Cara inipun dicopy paste oleh para koruptor dan pelaku oligarki. Mereka menganggap bahwa dengan memiliki uang yang banyak merupakan kemewahan yang harus mereka raih dengan cara apapun. Pelaku-pelaku oligarki saling bekerjasama untuk mempertahankan kekuasaan dan melucuti sistem di pemerintahan hanya demi memuaskan syahwat politik mereka. Komplotan oligarki ini akan selalu membasmi pihak lain yang engganggu jalannya keinginan mereka. Mereka menganggap bahwa kekuasan itu terlalu indah, sayang sekali kalau harus mereka bagi dengan pihak lain. Setali dengan kebiadaban, lelaki hidung belang rela menghamburkan uang demi memuaskan keinginan seksualnya. Menurutnya, lokalisasi itu tempat terindah sehingga jika ada setiap kesempatan harus ia kunjungi. Teramat rugi jika harus ia tinggalkan.

***

Menentukan sesuatu yang kita lakukan apakah ingin melakukan yang terbaik atau yang terburuk, tentunya bergantung bagaimana kita memandang keindahan tersebut. Orang-orang yang rela tidak menikmati dunia dengan segala macam fasilitasnya mungkin memiliki konsep keindahan yang berbeda dari para koruptor dan pelaku oligarki. Jika pemuja nafsu dunia berpikir bahwa dunia ini indah sehingga harus mereka genggam dengan harta dan kekuasaan, maka orang-orang bertaqwa berpikir bahwa dunia ini tidak lebih dari seonggok virus. Jika tidak cermat upaya pencegahannya, maka virus dunia akan segera menggorogoti tubuh. Hidup akan terasa binasa dan sia-sia jika diri tidak disiplin dalam menerapkan protokol ketaqwaan.

Baca Juga  Tawakal Mengiringi Ikhtiar: Belajar dari Perjuangan Nakes di Rumah Sakit Melawan COVID-19

Sayangnya, di masa Covid-19 ini kampanye untuk menerapkan protokol kesehatan tidak seimbang dengan kampanye untuk melaksanakan protokol ketaqwaan. Poster-poster yang digunakan sebagai usaha pencegahan penularan virus dapat kita jumpai di mana saja. Namun poster poster protokol ketaqwaan hanya dijumpai di rumah ibadah saja, yang semasa pandemi ini pun dibatasi untuk mengunjunginya. Semoga kenyataan ini tidak menyiratkan makna bahwa manusia lebih khawatir akan kesehatan raganya daripada kesehatan jiwanya.

***

Untuk menentukan hal-hal terindah dalam hidup kita, sebenarnya telah para rasul dan syuhada contohkan. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia Allah berupa kebahagiaan hakiki, ketenangan jiwa dan kehidupan abadi. Risalah telah mengabadikan betapa gigihnya para rasul dan syuhada berjuang untuk menegakkan kebenaran dan menumpas kedzoliman tanpa melibatkan kepentingan pribadi. Tak satu pun dari mereka bergelimang harta apalagi sampai memikirkan monopoli perekonomian umat. Bagi mereka keindahan tidak berupa kepemilikan perusahaan yang bisa mereka turunkan sampai tujuh generasi. Bukan pula berupa keluarga dan kerabat yang bertebaran sebagai penguasa. Perjuangan untuk umat itulah tujuannya.

Para Syuhada telah berhasil menghadirkan alasan mereka untuk hidup. Bagi mereka hanya ada satu yang terindah, yang hanya denganNya mereka dapat merasakan romantisme kehidupan. Karena kau yang terindah, Ilahi Robbi. Sebuah alasan yang tidak pernah menjerumuskan manusia.

Bagikan
Post a Comment