f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Kawula muda

Meneguhkan Moderasi Beragama bagi Kawula Muda

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman. Kekayaan itulah yang menjadi kekuatan sosial bagi negara multikultural ini, namun sayangnya indahnya keberagaman tersebut sedang terancam. Dis-harmonisasi yang sudah merambah kepada sensitivitas keberagamaan menjadikan polemik di tengah masyarakat. Hal ini dipicu dengan adanya perbedaan paham dan keinginan untuk menunjukan eksistensi suatu kelompok. Mirisnya, penyebaran paham yang sangat mudah terealisasi ini sudah merambah kepada kawula muda, dengan akses sosial dan ruang lingkup media sosial yang mudah dijangkau untuk memberikan kepuasan dengan cara instan untuk memenuhi kebutuhan akan hausnya pengetahuan. Namun, paham-paham yang bertebaran di media sosial tidak seutuhnya mengandung kebenaran dan malah bisa menimbulkan keraguan akan substansinya.

Akibatnya, banyak kawula muda yang tidak paham dengan apa yang sebenarnya ia yakini dan lakukan dalam beragama. Misalnya, “hijrah” secara tiba-tiba tanpa seorang guru dan pembina; merubah gaya dan penampilan menjadi kearab-araban atau kebarat-baratan dengan melupakan budaya lokal yang artinya tidak bisa akomodatif terhadap identitas bangsa. Ada pula yang diperparah dengan mudahnya men-judge seseorang yang berbeda dengan dirinya; merasa paling benar sendiri dan menganggap yang lain salah; dan lain sebagianya. Hal tersebut jika dibiarkan bisa mengarah kepada gejala radikalisme.

***

Di mana menurut Azyumardi Azra, orientasi radikalisme terbagi menjadi dua yakni orientasi ke dalam dan orientasi ke luar. Orientasi ke dalam apabila suatu paham (radikalisme) yang diterapkan pada kepercayaan diri pribadi, sedangkan orientasi ke luar ketika radikalisme yang ada di dalam diri seseorang diorientasikan untuk merubah keadaan yang berada di luar diri mereka. Puncaknya ada pada tindakan radikalisme yakni aksi-aksi terorisme yang telah terjadi di indonesia beberapa waktu lalu, di mana terdapat pemuda yang menyerang Mabes Polri dan salah satu anggota kelompok teroris yang melakukan bom bunuh diri untuk memperjuangkan ideologi jihadinya. Hal ini merupakan bentuk penyimpangan dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama di negara multi-etnik ini.

Baca Juga  Menanamkan Rasa Nasionalisme Bagi Penerus Bangsa

Sudah seharusnya kawula muda melek literasi di dunia nyata dan maya; serta pandai dalam mengambil sikap dan menentukan sudut pandang dari apa yang akan mereka cerna, khusunya dalam beragama. Konten-konten yang terdapat pada media sosial haruslah pemuda sikapi secara bijak; dan tidak dengan mudah “menelan” sebuah pengetahuan secara tekstualitas, namun juga harus mempertimbangkan sisi kontekstual. Tidak menelan suatu paham mentah-mentah, melainkan harus bisa mengupas dan mencari tahu sumber asalnya. Tidak mudah puas akan suatu pengetahuan dari satu jenis platform tetapi harus haus akan pencarian secara mendalam dengan menanyakan kepada ahlinya dan mendiskusikannya. Juga berhati- hati dalam mencerna suatu ajaran dan bersikap terbuka akan suatu hal.

***

Pasalnya, Indonesia akan mendapati bonus demografi mengutip proyeksi Pew Research (2015). Sebagaimana dikutip Oman Faturahman tentang royeksi pertumbuhan penduduk (2010-2050), dinyatakan bahwa proyeksi muslim di Indonesia akan mengalami peningkatan secara pesat dari 23% di tahun 2010 menjadi 29% pada tahun 2050. Banyaknya muslim tentunya berpengaruh terhadap warna keislaman di negeri ini. Pun demikian bonus demografis yang Badan Pusat Statistik laporkan, bahwa dalam rentang waktu 2020-2035 Indonesia akan mendapat bonus demografi dengan masa puncak di sekitar tahun 2030. Artinya, pada saat-saat itu jumlah masyarakat dengan usia produktif jauh lebih banyak melebihi mereka yang termasuk dalam usia non-produktif. Bonus demografi adalah kesempatan sekaligus tantangan yang harus pemerintah respon dan antisipasi, serta perlu menjadi kesadaran bagi kaum muda. Dengan jumlah penduduk yang besar, maka akan terdapat banyak tantangan hingga rintangan yang akan bangsa ini hadapi, sehingga perlu sebuah binaan untuk menciptakan kualitas kesadaran diri yang baik.

Dengan inilah moderasi beragama harus diteguhkan kepada kawula muda. Sebagai pemegang tongkat estafet peradaban, pemuda dituntut untuk bisa bertanggung jawab dalam segala lini kehidupan, termasuk dalam diskursus keagamaan. Mengapa? Karena tidak ada suatu kegiatan dalam kehidupan masyarakat, khususnya di Indonesia, yang tidak bersinggungan dengan nilai-nilai keagamaan.

Baca Juga  Budaya Literasi dan Tantangan Menghadapi MEA

Singkatnya, menurut pendapat saya, moderasi beragama ini merupakan sikap dan cara seorang muslim untuk berislam di jalur tengah. Di mana tidak ekstrim kanan dan kiri, serta mengurangi kekerasan dan menghindari “mabuk” agama. Mengapa dalam beragama? Karena sejatinya, setiap manusia akan merasa sangat membutuhkan agama, khususnya saat mencapai titik terendah dalam hidupnya. Agama memberikan nafas segar bagi setiap yang memegang teguh dan tentunya memberikan efek kebahagiaan bagi pemeluknya. Dalam bergama terdapat kebiasaan untuk terus menerus ingin melakukan suatu ritual keagamaan karena bisa memberikan ketenangan jiwa dan keluwesan dalam berkehidupan.

***

Perkembangan zaman yang menuntut manusia hidup dalam kematrialistisan ini sering kali menjadikan polemik dan kejenuhan dalam hidup apabila realitas tidak memenuhi ekspektasi yang ia idam-idamkan. Dengan beragama akan menuntun angin segar bagi pemeluknya untuk menjadikannya damai dalam kehidupan, dan tidak terjebak dalam dunia yang fana. Solusi dari polemik keberagamaan selama ini yakni dengan meneguhkan moderasi beragama di kalangan kaum muda untuk mengurangi penyimpangan paham dan memberikan literasi untuk pemuda; agar sadar dan tetap bersemangat untuk mencari tau akan ilmu dan pengetahuan keagamaan melalui sumber yang tepat. Kemudian, di antara berbagai solusi, ada beberapa hal yang bisa seorang pemuda lakukan.

Pertama, dengan cara menyiarkan paham-paham moderasi beragama melalui tulisan dan mencintai guru-guru kita, serta membangun kepercayaan diri dan giat aktif membaca untuk benteng agar kita tidak mudah menjadi objek adu domba pihak yang sengaja ingin menghancurkan Indonesia.

Kedua, mencintai Indonesia dengan menjaga nasionalisme dan menyadari sepenuhnya akan nilai-nilai Pancasila. Kemudian berusaha mengupayakan toleransi antar budaya; suku; ras; dan agama dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan. Ada kalanya mengalah lebih baik untuk menghindari perpecahan, karena dengan mengalahpun akan menuntun kita untuk bisa lebih legowo akan suatu hal karena tidak semua harus kita paksa sesuai dengan keyakinan kita. Hal ini setidaknya akan menjadi suatu hal yang baik dan memberikan kepuasan hakiki dari dalam hati.

Baca Juga  Setiap Anak adalah Anugerah

Ketiga, menghindari kekerasan dalam penyelesaian permasalahan. Sebaik apapun alasan kita, jalan kekerasan tidaklah benar, apalagi dalam agama. Karena Islampun merupakan agama rahmat bagi semesta alam yang sangat menjunjung tinggi nilai kedamain. Begitupun agama lain, tak ada yang membenarkan kekerasan. Untuk apa kita menyelesaikan permasalahan dengan kekerasan jika itu dapat merugikan fisik dan iman kita.

***

Keempat, akomodatif terhadap budaya lokal. Kita sebagai generasi muda harus menjunjung budaya setempat dan melestarikannya. Tidak malah pura-pura lupa dan memasukkan budaya asing dengan menyukai dan menerapkan pada seluruh aspek kehidupan kita. Dampaknya mungkin tidak terasa hari ini namun untuk sebuah peradaban beberapa tahun mendatang semua itu akan terasa dan sangat berdampak bagi generasi selanjutnya. Jika kita meninggalkan budaya asal kita (budaya timur) yang kaya akan sopan santun dan tawadu maka sudah pasrti anak-anak kita kedepan tidak akan merasakan, bahkan melestarikannya.

Keempat hal tersebut merupakan kiat-kiat untuk menggapai moderasi beragama yang harus bisa kawula muda pegang teguh untuk memelihara keharmonisan dan integritas dalam beragama; bermasyarakat; dan bernegara. Karena jika bukan kita lantas siapa lagi? Dan jika tidak sekarang kapan lagi kita akan memerjuangkan hal-hal yang dianggap klise bagi semua orang modern namun sejatinya itu merupakan jantung daripada sebuah peradaban.

Melalui pendidikan dan transfer pengetahuan serta akhlak, seruan kawula muda untuk saling mendoakan dan membersamai dalam menjaga NKRI dalam bingkai keharmonisan inilah yang akan menjadi ladang ikhtiar kita, pemuda, untuk menebarkan kebaikan dan kebenaran serta dampak postif bagi sesama umat beragama.

Bagikan
Comments
  • Fadilah ff

    Menginspirasi sekalii

    Juli 29, 2021
  • Fadilah ff

    Menginspirasi sekaliii 👍👍

    Juli 29, 2021
  • Ya memang moderasi kawula muda itu perlu seperti mahfudhot arab syubanul yaum rijalul ghadan.oleh karena itu dalam bait imriti di makna idzil fata di barengi dengan la yantakid layan tafik yang meng haruskan para kawula muda percaya diri.jika makna moderasi diartikan Al wustha atau tengah seyogyanya bukan hanya sikap tidak tengok kiri kanan yang di budayakan.akan tetapi budaya tidak menyinggung baik tetangga di kiri maupun kanan.sesuai hakikat bangsa Indonesia yang bukan golongan kiri bukan golongan kanan tapi tidak menutup kemungkinan menjadi bangsa yang bukan2

    Juli 29, 2021
Post a Comment