Sifat Pemimpin Tak Jauh dari Sistem
Pandemi Covid-19 masih melanda seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Wabah ini memberikan dampak kepada seluruh sektor kehidupan. Mulai sektor ekonomi yang semakin merosot, sistem pembelajaran online yang memunculkan permasalahan baru, kacaunya pengaturan dalam kesehatan, serta kontroversi vaksinasi. Ditambah dengan kebijakan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) yang tidak solutif.
Kondisi Kepemimpinan di Indonesia Hari Ini
Pemerintah selalu meghimbau masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi. Tapi faktanya banyak yang melanggar, mulai dari rakyat biasa, public figure, hingga pejabat tinggi istana. Namun seperti sebelumnya, sanksi terhadap pelanggaran protokol kesehatan hanya berlaku bagi orang-orang tertentu.
Misalnya saja, kasus pelanggaran yang melibatkan istri Gubernur Maluku Murad Ismail. Dalam video yang viral di media sosial, tampak Widya Murad sedang berjoget dalam acara syukuran pelantikan Bupati Buru Selatan Safitri Malik Soulissa di Islamic Center Ambon pada 22 Juni 2021. Widya Murad bersama dengan sejumlah istri pejabat terlihat gembira dan menikmati alunan musik dalam pertemuan tersebut tanpa menggunakan masker.
Kepala Dinas Kominfo Maluku, Semmy Huwae memberi beberapa klarifikasi terkait video tersebut. Pertama, dia mengatakan peristiwa itu terjadi sebelum penerapan PPKM Darurat di Kota Ambon. Kedua, Widya Murad telah banyak berkontribusi bagi masyarakat Maluku, di antaranya memerangi stunting dan gizi buruk. Ketiga, ditengarai ada pihak yang sengaja memviralkan video tersebut untuk menjatuhkan citra Widya Murad selaku istri Gubernur Maluku. Terakhir, Widya Murad adalah istri gubernur, sehingga dia merasa tidak enak jika menolak ajakan ibu-ibu untuk berjoget.
Hakikat seorang pemimpin adalah teladan bagi masyarakat yang ia pimpin. Segala tindak tanduk pemimpin akan menjadi penilaian bagi masyarakatnya, baik itu tindakannya sebagai pemimpin suatu lembaga, juga dalam perilaku kesehariannya. Jika seorang pemimpin sudah mampu menjadi teladan bagi rakyatnya dalam berbagai hal, rakyat akan mengikuti teladan dan sikap pemimpinnya. Namun, lain halnya jika pemimpin tidak bisa memberikan teladan bagi rakyat. Yang terjadi justru rakyat akan kehilangan kepercayaan pada pemimpin dan sulit mematuhi segala kebijakannya.
Potret Pemimpin Lahir dari Sistem
Tak bisa kita pungkiri, lingkungan atau sistem kehidupan akan memengaruhi perilaku seorang pemimpin. Saat ini, kita berada dalam sistem kehidupan yang telah teracuni pemikiran sekuler, alias memisahkan agama dari kehidupan. Ketika agama dijauhkan dari kehidupan, maka perilakunya pun akan penuh cela, termasuk perilaku pemimpinnya. Berikut ciri-ciri pemimpin yang lahir dari sistem sekuler.
Pertama, individualis. Dalam sistem sekuler, pemenuhan kebutuhan individu adalah hal yang utama. Tidak peduli dalam keadaan apapun, yang terpenting kesenangan pribadi ia dapat, meski harus mengabaikan hak orang lain. Seseorang bebas berbuat sesukanya. Ketika menjadi pemimpin pun, kepentingan rakyat tetap di bawah kepentingan pribadinya.
Kedua, mengabaikan tanggung jawab. Karakter pemimpin yang lahir dari sistem sekuler, dia akan mudah mengabaikan tanggung jawab, karena landasannya bukan takut akan dosa, namun lebih pada pencitraan semata. Pencitraan menjadi hal yang wajar dilakukan oleh seorang pemimpin di sistem sekuler ini. Tanpa adanya pencitraan, ibarat makanan tanpa garam, terasa hambar. Maka, tidak heran apabila pencitraan dilakukan untuk mengambil simpati rakyatnya dan menutupi kegagalan dalam kepemimpinannya.
Ketiga, jumawa dan tidak merasa bersalah. Ketika seorang pemimpin gagal dalam menjalankan tugas, selayaknya dia merasa bersalah dan meminta maaf kepada rakyat. Seperti halnya pandemi Covid-19 ini yang tak kunjung usai karena gagalnya pemimpin menyelesaikan persoalan ini. Maka pemimpin yang baik harus sadar bahwa ia telah gagal. Namun sistem sekuler yang diterapkan saat ini justru menjadikan pemimpin jumawa dan tak mau mengakui kesalahannya.
Sistem Kepemimpinan Rasulullah
Rasulullah Saw. adalah sebaik-baik teladan bagi manusia. Dialah sebaik-baik manusia (khayr al-anâm). Dialah pemimpin para nabi dan rasul (imâm al-anbiyâ‘ wa al-rusul), penghulu seluruh umat manusia (sayyid walad âdam) dan pemberi syafaat agung di Hari Akhir kelak. Dia dutus dengan mengemban sebaik-baik risalah (risâlah al-Islâm).
Demikian mulianya pribadi Rasulullah Saw. hingga syariat menetapkan beliau sebagai contoh panutan yang utama bagi seluruh umat manusia pada akhir zaman. “Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS al-Ahzab [33]: 21).
Begitu pula dalam hal kepemimpinan, Rasulullah juga telah memberikan teladan yang sempurna. Berikut adalah karakteristik kepemimpinan ala Rasulullah Saw.
Pertama: Beliau bukan sekadar pemimpin spiritual (za’îm rûhi) semata, melainkan sekaligus pemimpin politik (za’îm siyâsi). Dalam konteks saat ini, beliau merupakan pemimpin kenegaraan (ra’îs ad-dawlah).
Dalam Q.S. An Nisâ‘ (4): 64, Allah Swt. berfirman: “Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk ditaati dengan izin Allah.”
Ayat ini menegaskan bahwa kehadiran Rasulullah Saw. tidak sebatas penyampai risalah semata, melainkan juga sebagai pemimpin yang wajib untuk ditaati setiap perintah dan larangannya. Hal ini ditunjukkan oleh banyak dalil.
*
Di antaranya adalah kelanjutan daripada ayat di atas: “Demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim (pemutus perkara) atas apa yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuh penerimaan.” (Q.S. An Nisâ‘ (4): 65).
Kedua, dalam kepemimpinannya Rasulullah Saw. menerapkan syariah Islam secara menyeluruh. Perintah untuk melaksanakan Islam secara totalitas ini juga termaktub dalam Al Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al Baqarah (2):208).
Ketiga, sangat gigih dan tegas dalam menerapkan syariat Islam. Karena beliau tahu, kepemimpinannya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Keempat, amanah. Amanah yang artinya mampu menjalankan sekaligus menjaga kepercayaan yang ia emban di pundaknya secara profesional.
Merealisasikan Ajaran Agama dalam Kepemimpinan
Kepemimpinan yang baik butuh sistem yang baik pula, yaitu berdasarkan kitabullah dan As Sunnah. Tidak ada sistem yang terbaik kecuali sistem Islam, yang berasal dari Allah Yang Maha Sempurna. Sistem Islamlah yang akan melahirkan sosok pemimpin yang penuh tanggungjawab serta dengan sepenuh hati melayani rakyat.
Abdullah bin Umar mengatakan, Rasulullah Saw. berkata, “Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang pemimpin umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka.
Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka, seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggung jawab atas mereka.
Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya, dan ia bertanggung jawab atasnya. Maka setiap dari kalian adalah adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas kepemimpinannya” (HR Abu Dawud).
Maka, untuk mendapatkan pemimpin yang baik, tegas, dan adil, kita juga harus mewujudkan kehidupan yang Islami. Kehidupan yang tertata dengan syariatNya, yang menerapkan semua aturanNya. Dengan demikian akan terciptalah kesejahteraan, baik di dunia maupun di akhirat.
