f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
lupa-lupa

Mengenal Fenomena Lupa-lupa Ingat

Pernahkah anda merasakan fenomena lupa-lupa ingat? Contohnya saat anda selesai membaca sebuah buku, kemudian seseorang bertanya kepada anda judul buku yang anda baca. Saat itu anda tahu jawaban dari pertanyaan tersebut dan jawabannya sudah berada di ujung lidah, namun anda justru berusaha keras untuk dapat menemukan kata yang tepat dalam jawaban anda. Bahkan anda hanya ingat huruf depannya saja, hanya huruf tengahnya saja ataupun hanya huruf vokalnya saja atau mungkin anda hanya tau warna bukunya saja.

Peristiwa lupa-lupa ingat biasa dikenal dengan Lethologica atau Tip of The Tongue (ToT) Phenomenon. Istilah lainnya yakni fenomena di ujung lidah. Para peneliti menyimpulkan bahwa fenomena “ujung lidah” (ToT) adalah keadaan di mana seseorang tidak dapat mengingat kembali suatu kata atau informasi yang sudah ia ketahui dan ada dalam ingatan, akan tetapi hanya mampu mengingat beberapa kata-kata dengan bentuk dan arti yang serupa

Penyebab Seseorang Mengalami TOT

Pada saat terjadi peristiwa lupa-lupa ingat atauTip of The Tongue (ToT), penutur pada dasarnya dapat membayangkan kosakata target; menyebutkan kosakata yang memiliki keterkaitan makna; mendeskripsikan fitur makna kosakata target; dan menyebutkan beberapa kosakata yang memiliki kemiripan bunyi.

Hal ini menunjukkan bahwa proses mental penutur saat terjadi peristiwa ToT bekerja dalam dua area aktifasi, yakni area semantik dan area fonologis. Dalam fenomena TOT, area semantik kosakata target sudah jelas, sedangkan kode fonologis gagal diaktifasi atau hanya dapat diingat sebagian (Ecke 2009, 185).

Menurut teori The Tranmission Deficit Model oleh Burke (Schwatz 2002, 50), penyebab Tip of The Tongue adalah adanya defisit dalam transmisi hubungan antara memori semantik dan memori fonologi sebuah kata. Maksudnya adalah ketika representasi sematik sebuah kata diaktifkan, pengaktifan itu gagal melampaui keseluruhan representasi fonologinya. Oleh karena itu, unit fonologis yang muncul bukanlah yang semestinya namun hanya bagian-bagian tertentu yang serupa.

Baca Juga  Metode Nasihat, Baik Mana Nasihat dengan Teguran atau Himbauan dengan Kasih Sayang

Menurut Mayasari (2014) dari wordpress.com, hal ini berhubungan dengan short term memory (memori jangka pendek) ketika proses menyimak itu dilakukan. Field (2003,113) menyebutkan ciri utama short term memory adalah kapasitas kerjanya terbatas. Keterbatasan tersebut terletak pada apa yang dapat tersimpan dan seberapa besar proses yang sedang berlangsung. Dengan demikian, proses lupa berhubungan dengan kapasitas kerja short term memory dalam menyimpan kata dan mengambil kembali kata tersebut ketika seseorang butuhkan dalam proses menyimak.

***

Mengutip kumparan.com, Dunlosky dan Metcalfe (2009) mengungkapkan fenomena ini secara metakognitif, yang mana ketika seseorang gagal untuk mengingat suatu kata, proses metakognitif pun aktif dan mengirim informasi tentang berhasil tidaknya seseorang itu mengingat kata tersebut.

Selain itu, peneliti berpendapat bahwa bagian neocortex dalam otak yang berfungsi dalam mengolah bahasa juga berhubungan dengan fenomena ini dan bisa saja sedang mengalami gangguan sementara atau kelelahan sehingga menyebabkan kita melupakan kosakata tertentu dan terjadilah fenomena lupa-lupa ingat.

Apabila sering mengalami fenomena “lupa-lupa ingat” seperti ini, anda tak perlu cemas. Sesungguhnya, fenomena ini wajar dan normal terjadi pada setiap orang. Fenomena ini juga bukan pertanda anda mengidap penyakit demensia maupun alzheimer.

Kiat-kiat Mengatasi TOT

Menurut Tarot (2019), lupa-lupa ingat/ToT sendiri dapat diselesaikan melalui pemecahan masalah secara spontan atau menggunakan pemicu untuk mencari informasi. Cara terbaik lainnya yang D’Angelo dan Humphreys sarankan yakni dengan mengulang kata-kata tertentu yang berpotensi untuk terlupakan kepada diri sendiri; baik secara lirih maupun lantang. Langkah ini kemudian akan menciptakan memori prosedural yang membantu untuk meminimalkan efek negatif dan praktik-praktik yang salah pada kesempatan sebelumnya.

Anda juga dapat menggunakan cara lain, dengan meminta bantuan kepada lawan bicara untuk memberikan petunjuk atau memancing kita.

Baca Juga  Krisis Lingkungan di Tengah Pandemi

Al Qur’an juga menyinggung tentang lupa. Abdul Mudjib mengemukakan bahwa kelupaan yang merupakan gangguan kepribadian manusia, terbagi menjadi empat faktor, yaitu:

Pertama, lupa untuk mengingat Allah, karena dirinya telah dikuasai setan.

“Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (membuat manusia lupa) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan.” (Qs. Al-Mujadalah/58: 16).

***

Kedua, mendustakan ayat-ayat Allah setelah beriman, sehingga ia menjadi lupa darinya.

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku) mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.” (Qs. Al-A’raf/7: 146).

Ketiga, lupa karena kemunafikan, sehingga mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan mereka.

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. At-Taubah/9: 67)

Keempat, lupa karena ia mengikuti hawa nafsunya sehingga ia lupa kepada Allah.

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Qs. Al-Kahfi/18: 28).

Baca Juga  Tips Memilih Sahabat ala Imam al-Ghazali
***

Muhammad Utsman Najati merumuskan tiga makna lupa, salah satunya yaitu: lupa yang mengandung makna lalai. Contoh dari makna ini adalah ketika seseorang meninggalkan barang di suatu tempat. Atau ia hendak berbincang-bincang dengan seseorang tentang berbagai hal, namun ia hanya ingat sebagiannya dan lupa sebagian lainnya; dan baru ingat kemudiannya.

Sebagai contoh, ialah kisah dalam Surah Al Kahfi ayat 18 tentang murid Musa As. yang lupa menceritakan bahwa saat mereka berlindung di bebatuan. Ikan yang mereka bawa telah jalan menuju laut dengan cara yang aneh dan tidak ada yang membuat ia lupa untuk mengingatnya kecuali setan.

Jadi dalam prespektif Al-Qur’an, lupa itu terjadi karena sesuatu yang membuat seseorang lupa kepada Allah. Bisa karena ia tidak beriman kepadanya ataupun tidak mematuhi hukum syariat yang tertera dalam pedoman Al-Qur’an dan sunah nabi.

Maka berzikirlah, karena zikir dapat mengingatkan kita kepada Allah. Adapun ketika seseorang lupa dalam suatu hal, maka berdoalah “Subhana man la yanamu wala yashu” yang artinya “Maha Suci Allah, Dzat yang tak pernah tidur dan tak pernah pula lupa”.

Bagikan
Post a Comment