f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ibu

Menunggui Ibu di Ruang Isolasi

Sejak Jum’at hingga Senin tanggal 18-21 Juni kemarin, saya harus ikut isolasi bersama ibu yang terindikasi Covid-19 di salah satu rumah sakit (RS) swasta. Saya sebut “terindikasi”, sebab sampai tanggal 21–sebelum pulang–kami baru tahu hasil tes PCR ibu adalah positif. Pun saya sebut “ikut” karena saya benar-benar bersama ibu, tidak terpisah sekalipun termasuk ketika ia sedang isolasi, dan pada saat itu saya terkonfirmasi negatif Covid-19.

Bahkan, kami berada dalam satu ruangan yang disekat menjadi dua, dengan satu kamar mandi bersama tiga pasien plus tiga orang yang membersamai pasien lain yang sedang dirawat. Jadi, total terdapat delapan orang dalam satu ruangan. Saya pun harap-harap cemas, bagaimana bisa keluar dengan keadaan sehat dari situasi ini.

Memilih untuk Menunggu

Saya menemani ibu di RS karena kondisinya saat itu cukup lemah. Beliau harus dibantu dalam banyak hal saat isolasi, seperti: makan, minum, pergi ke toilet, dll. Hal yang sama juga dilakukan oleh 3 orang lain yang ikut membersamai pasien. Mereka bertaruh dan berkorban demi orang yang mereka cintai. Sebelum ikut isolasi bersama pasien, saya dan juga mereka menandatangani satu perjanjian dengan RS, bahwa kami siap menerima resiko termasuk terjangkit virus dan beberapa poin lain.

Bagi saya, ini adalah satu jalan sulit nan berat yang harus RS maupun kami (orang yang membersamai pasien) tempuh. Untuk mempermudah, sebut saja kami orang pembantu pasien (OPP). Para OPP inilah yang akan meringankan pekerjaan tenaga kesehatan (nakes) untuk mengurusi hal-hal yang bisa orang biasa lakukan. OPP ini pula yang melaporkan ketika ada satu-dua hal penting menyangkut pasien.

Sekalipun para OPP potensial tertular virus, namun hanya ini yang bisa kami lakukan untuk membantu nakes, terkhusus keluarga kami. Sekali lagi saya tekankan, ini adalah pilihan yang sulit dan berat. Di ruang isolasi, saya menyaksikan para nakes harus ngecek kondisi banyak pasien, memantau perkembangannya, membuat laporan, dll dalam waktu yang sangat sempit. Saya dapat merasakan keletihan mereka sekalipun tertutupi oleh APD. Dan sesungguhnya, dengan adanya OPP akan sedikit meringankan beban nakes.

Baca Juga  Memeluk Mimpi (2): Sebuah Keberuntungan
***

Saya merasa terharu saat para nakes berusaha ceria dan sesekali menghibur pasien. Apalagi jika pasien yang mereka hadapi adalah orang yang  masih minim pengetahuannya soal virus ataupun kondisi medis lainnya. Nakes pun dituntut untuk bisa sabar dan gemati merawat pasien. Para OPP ini sebenarnya juga turut membantu meringankan beban psikologis pasien.

Dan dalam pandangan saya, nampaknya para nakes merasa bahagia ketika orang terpapar Covid-19 dengan gejala yang signifikan mau menjalani perawatan ataupun isolasi. Sebab ada juga pasien yang enggan dirawat dan memaksa ingin pulang sekalipun sudah mendapatkan edukasi dari dokter agar ia tetap dirawat di rumah sakit.

Oh iya, ketika ada pasien yang memaksa pulanng, maka jalan terakhir yang dokter dan rumah sakit tempuh adalah memberikan surat yang menyatakan bahwa pasien dan keluarga tidak bisa menuntut kepada rumah sakit jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kejadian seperti ini saya jumpai secara langsung saat berada di ruang IGD sembari menunggu hasil tes antigen ibu.

Seperti orang sakit pada umumnya, pasien Covid-19 pun ingin segera pulang. Saya kadang tertawa ketika ada OPP yang bilang isolasi di rumah sakit serasa berada di penjara. Pertanyaan saya, penjara mana yang ada kasur empuk, makanan diantarkan, kesehatan dicek berkala? Penjara sewaan? Haha.. Ini intermezo saja.

Antara Pulang dan Bertahan

Pada hari ketiga saya membersamai ibu, ada satu pasien beserta OPPnya yang dokter ijinkan untuk pulang karena keadaan sang pasien sudah membaik. Sebenarnya secara kasat mata, saya tidak melihat pasien sembuh sepenuhnya, bahkan ia masih sering batuk. Saya tidak tahu ia sudah negatif Covid-19 atau masih positif. Saat itu saya menduga bahwa ia “terpaksa” pulang setelah dirawat empat hari agar bed perawatannya bisa dipakai oleh calon pasien lain. Dan dugaan saya ini diperkuat oleh dua momen.

Baca Juga  Tetap Menjadi Ibu Bahagia di Era Layar

Pertama, masuknya satu pasien anak-anak ke ruang isolasi setelah satu pasien keluar. Pasien anak tersebut pernah saya jumpai di ruang IGD. Ia baru datang bersama orang tuanya saat saya dan ibu menunggu rekap medis pada hari pertama sebelum masuk kamar isolasi, tanggal 18. Kami hanya selisih beberapa jam. Saya tidak tau secara pasti penyebab ia baru bisa masuk kamar isolasi.

Kedua, ibu saya dinyatakan boleh pulang setelah kondisinya membaik, sekalipun hasil tes PCR belum keluar. Pada hari ketiga isolasi, dokter yang merawat ibu mengatakan bahwa hasil tes PCR baik positif atau negatif Covid-19, ibu tetap bisa pulang dan melanjutkan isolasi mandiri di rumah.

Secara pribadi, saya kurang sepakat saat ibu boleh pulang sekalipun ia merasa sudah cukup sehat. Saya khawatir saat isolasi mandiri di rumah, ia merasa baik-baik saja namun kemudian lengah dalam penerapan protokol kesehatan. Apalagi saya pun harus isolasi mandiri di tempat yang berbeda dengan ibu, yakni di rumah mertua, sehingga tidak bisa memberikan pantauan kepada ibu.

Sungguh, ketidak taatan pada protokol kesehatan dapat membahayakan orang lain. Saya hanya memberikan pesan kepada adik-adik dan bapak agar menjaga ibu dengan baik dan menerapkan protokol kesehatan di rumah. Saya juga melarang penerimaan tamu dan kunjungan, sekalipun menjenguk orang sakit sudah jadi tradisi di kampung kami.

Sikap Rela Peduli Sesama

Saya harus ikuti anjuran dokter agar ibu isolasi mandiri di rumah untuk memberikan kesempatan pasien lainnya. Bisa jadi ada pasien yang lebih membutuhkan perawatan dan isolasi di rumah sakit dari pada ibu saya yang sudah mulai pulih. Kita harus berbagi dan berempati lebih banyak kepada sesame khususnya di masa pandemi saat ini. Sikap egois hanya akan menjadi bumerang.

Baca Juga  Konstruksi menjadi Ibu yang Baik dalam Wacana Pemberian ASI

Sudah bejibun berita yang mengabarkan kondisi rumah sakit yang overload. Kami sendiri isolasi di bangsal anak yang RS sulap menjadi ruang isolasi. Seperti bangsal anak pada umumnya, terdapat aksesoris khas anak-anak seperti stiker kartun dan gambar pemandangan  yang menghiasi kaca. Jujur, saya merasa bahagia bisa dapat ruang isolasi yang nuansanya menggembirakan.

Mengalami deretan peristiwa ini, perasaan saya begitu terhimpit. Betapa banyak persoalan yang hadir di tengah masyarakat layaknya benang blundet yang perlu kita urai. Di tengah pandemi ini, kita yang paham sekalipun hanya perlu memberikan pemahaman dan proteksi kepada keluarga; orang-orang terdekat; teman-teman sesuai kapasitas, minimal menaati protokol kesehatan. Jika terdapat gejala yang menjurus kepada Covid-19, segera periksakan diri dan lakukan isolasi sesuai anjuran dokter.

Bagikan
Post a Comment