Meneladani Nana Asma’u: Perempuan Bekerja dan Ibu Rumah Tangga
Perempuan seringkali memperoleh tuntutan untuk memenuhi kehidupan yang sempurna. Salah satunya menyangkut peran perempuan antara menjadi ibu atau perempuan bekerja. Adanya anggapan tentang pilihan menjadi ibu rumah tangga atau perempuan bekerja seakan menyalahkan perempuan untuk menjadi makhluk yang multitasking. Bahkan kondisi demikian, membawa perempuan pada posisi dilematis. Tak jarang hal ini berdampak pada kesehatan mental para perempuan. Persoalan demikian pun menjangkiti mereka yang baru saja melangsungkan kehidupan pernikahan. Para perempuan menghadapi kondisi antara menjadi ibu rumah tangga atau terus melanjutkan dunia kerja yang selama ini mereka tekuni.
Dalam melihat permasalahan tersebut, kita bisa melihat terhadap sosok perempuan inspiratif bernama Nana Asmau yang lahir dari wilayah Afrika, Sokoto, yang saat ini masuk dalam wilayah republik Nigeria. Sosok Nana Asma’u merupakan salah satu feminis perempuan yang mampu membawa perubahan. Tidak hanya bagi diri dan lingkungannya, tetapi juga bagi negaranya. Meskipun namanya tidak sepopuler tokoh perempuan lainnya, kiprah dan perjuangan Asma’u dalam memberikan kontribusi terhadap kemajuan perempuan cukup besar.
Ia berperang melawan keterbelakangan sosial tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai istri sekaligus ibu bagi keluarganya. Asma’u merupakan seorang guru, penyair, polimatik dan pemimpin perempuan. Rima Chahrouk dalam tulisannya yang berjudul “Nana Asma’u: The Early Islamic Feminist Icon” menjelaskan bahwa Asma’u popler karena prestasi intelektualnya. Karena telah menghafal Alquran, dan belajar fikih sejak muda. Ia juga fasih dalam empat bahasa, yaitu Fulfulde, Hausa, Tamacheq dan Bahasa Arab Klasik.
***
Beberapa karyanya di antaranya, dia menulis Tafsir Al-Quran dalam bahasa Fulfude dan Hausa, Biografi Nabi, Tibb al-Nabawi (pengobatan Nabi), terjemah dari kitab s{ifa>tu al-S}afwa karya ibn al-Jawzi, serta memiliki lebih dari 60 karya terbitan yang menjadi bahan pembelajaran hingga saat ini. Dalam menuliskan sebagian karyanya, Asma’u melakukannya pada masa kehamilannya. Menurutnya, menjadi seorang perempuan dengan kewajibannya sebagai seorang istri sekaligus ibu tidak menjadikan alasan untuk menyurutkan semangat dalam mewujudkan sebuah perubahan.
Sebagai seorang penyair, ia menulis puisi yang menyangkut persoalan peran agama, hari kebangkitan, dosa, taubat, surga dan cinta untuk Nabi Muhammad. Satu puisi bisa mencapai 1.200 bait serta membutuhkan waktu 6 jam untuk dibaca. Melalui puisinya, Asma’u mampu memperkuat prinsip-prinsip Islam. Inilah yang kemudian perlu menjadi penekanan, bahwa seorang feminis bukan sosok yang jauh dari agama atau bahkan anti terhadap agama. Tetapi seseorang dapat menjadi feminis sekaligus sebagai orang yang religius.
Sebagai seorang feminis, Asma’u berjuang membuka pemahaman baru kepada masyarakat demi memusnahkan stereotip apokrif tentang perempuan Muslim. Anggapan bahwa para kaum perempuan adalah makhluk yang rendah dan harus diam dalam rumah serta cukup menjalankan kewajiban rumah tangga merupakan pandangan yang tidak tepat. Bagi Asma’u, dengan mendidik seorang perempuan maka perempuan tersebut pasti mampu mendidik dan menjadikan rumah tangga yang terbebas dari ketidakadilan.
***
Semangat Asma’u dalam memperbaiki stigma para perempuan di Sokoto ia wujudkan dalam organisasi, yaitu organisasi Yan Taru. Sebuah organisasi berisi para guru perempuan yang nomaden (jaji) yang dididik oleh ia sendiri, yang berupaya mengembangkan potensi kekuatan intelektual pada cara pola pikir mereka.
Dari puisi hingga sejarah, tulisan Nana Asma’u membentuk wawasan penting tentang bagaimana Muslim hidup di Kekhalifahan Sokoto di Afrika Barat yang mampu memberikan inspirasi bagi banyak orang yang bekerja di pendidikan Islam, terutama bagi perempuan Muslim. Berkat capaiannya, tak sedikit para perempuan di seluruh dunia merasa tertolong untuk bangkit keluar dari jajahan kultur yang mengukung mereka.
Nana Asma’u sebagai seorang istri sekaligus ibu, memberikan pemahaman bahwa sejatinya perempuan adalah makhluk yang memiliki kedudukan setara dengan lelaki. Perempuan juga berhak menentukan diri tanpa terbatasi oleh pilihan yang sifatnya menyudutkan. Karena pada hakikatnya, perempuan tetaplah individu sosial yang juga perlu memenuhi kelangsungan hidup.
Sehingga, baik menjadi ibu rumah tangga atau sebagai perempuan bekerja seharusnya bukan menjadi pilihan yang harus dijalani salah satunya. Karena Asma’u telah membuktikan bahwa ia mampu berperan pada ranah sosial, sekaligus sebagai reformis terhadap kondisi perempuan di Sokoto tidak menyurutkan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Tidak ada yang salah dan benar dalam menjadi seorang ibu rumah tangga ataupun perempuan bekerja. Karena sejatinya setiap perempuan meyakini bahwa pilihannya berdasarkan pada sebuah pertimbangan yang matang.
***
Jika perempuan yang mendedikasikan diri sebagai seorang ibu rumah tangga, maka bukan berarti ia menihilkan kesempatannya untuk produktif di luar rumah. Karena justru dengan menjadi seorang ibu rumah tangga merupakan kegiatan paling produktif yang ia jalani.
Begitupun juga perempuan yang harus mendedikasikan diri di luar rumah atau sebagai perempuan bekerja. Mereka harus menghabiskan sehari penuh di luar rumah dengan berbagai ragam tuntutan. Tidak jarang ada perempuan yang rela pulang tengah malam demi memenuhi segala kebutuhan rumah tangga. Bahkan bisa jadi mereka merupakan tulang punggung keluarga yang kepulangannya selalu dinantikan oleh keluarganya.
Kisah perjalanan Nana Asma’u membuktikan, bahwa menjalankan profesi keduanya, baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai perempuan bekerja, tak menjadi halangan untuk terus berkiprah dan berjuang sebagai bentuk sebuah jihad-nya terhadap kemajuan perempuan. Mengingat perempuan adalah makhluk kuat dan berdaya dengan skill multi peran yang dimilikinya.
Sedang menempuh studi magister di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
