f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
altruisme

Altruisme dalam Bermedia Sosial

Dewasa ini, hampir bisa dipastikan bahwa kebanyakan orang memiliki telepon genggam pintar atau smartphone, yang bisa mereka gunakan untuk berkomunikasi hingga bermain game. Tak heran bahwa setiap mereka yang memiliki smartphone pasti memiliki aku sosial media seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan sebagainya.

Kondisi ini seperti sebuah kelaziman yang mengubah cara berkomunikasi dengan tatap muka secara langsung, seperti menanyakan siapa namanya atau bertukar kartu nama; menjadi bertukar akun sosial media maka kita bisa dikatakan saling mengenal.

Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi dan menciptakan halaman pribadinya. Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0. Dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content”.

Dalam media sosial, kita juga bisa mengenal atau mengetahui aktivitas seseorang yang tidak kita pernah jumpai seperti melihat laman atau beranda dari akun orang tersebut. Menandakan bahwa Internet melalui media sosial membuat ruang komunikasi baru yang mana fenoma ini disebut sebagai era desrupsi. Yaitu terjadinya perubahan secara fundamental dan radikal.

Perbedaan secara siginifikan bisa dilihat pada media sosial dan media tradisional. Jika media tradisional dalam beraktivitas masih melalui media cetak dan media broadcast; yang mana hal ini juga menggunakan biaya yang tidak sedikit. Maka berbeda dengan media sosial yang lebih fleksibel dan murah karena bermodal jaringan internet.

Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpertisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka. Memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.

Baca Juga  Maiyah, Kefakiran Manusia, dan Kepemilikan Saham
Fenomena Masyarakat dalam bermedia sosial

Media sosial tentunya tidak hanya memiliki dampak positif tapi juga disusul oleh dampak negatifnya. Seperti kejadian baru baru ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Microsoft tentang tingkat kesopanan orang Indonesia dalam bersosial media.

Melalui Digital Civility Index (DCI) 2020, yang mengukur tingkat kesopanan digital dari pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya. Survey tersebut menempatkan netizen Indonesia pada peringkat terbawah se asia tenggara. Ketidaksopanan dalam survey tersebut langsung dibuktikan dengan bereaksi dengan menyerang akun instagram resmi Microsoft hingga pihak Microsoft menutup kolom komentarnya. Ini menandakan bahwa ketidak seriusan orang Indonesia untuk memperbaiki etika bersosial medianya.

Fenomena tentang dampak negatif bermedia sosial juga digunakan pada euforia politik, yang paling terlihat adalah saat pilpres 2014 dan 2019; yaitu pertarungan antara Prabowo dan Jokowi.

Dari situ terlihat bahwa adanya streotip yang dilakukan oleh masing masing pendukung. Seperti tuduhan pro komunis, pro syiah dan ketidak jelasan nasab (silsilah dalam keluarga). Itu disematkan untuk Jokowi dan Prabowo adalah tentang kasus HAM masa lalu atau mantan keluarga cenda, karena Prabowo memang pernah menjadi menantu Presiden Soeharto.

Stereotipe menjadi materi dasar kepercayaan dalam diri individu maupun kelompok (kolektif), dan dalam situasi tertentu. Kepercayaan tersebut menjadi prasangka yang selanjutnya dapat menyulut perilaku diskriminasi maupun tindakan nonkooperatif lainnya, seperti fitnah dan permusuhan antarkelompok.

Menurut beberapa pakar, perilaku kolektif diartikan sebagai aksi yang dilakukan secara bersama-sama atau serentak dengan cara yang mirip oleh sejumlah orang dalam kelompok; dan dalam suatu situasi atau kejadian tertentu; yang terkadang dapat berupa aksi yang tidak biasa (Krahe, 2005; Hewstone & Stroebe, dalam Krahe, 2005; Forsyth, 2010; McPhail, dalam Forsyth, 2010). Fenomena ini menambah daftar dampak negatif dari perbuatan ulah manusia dalam aktivitas sosial media. Di sinilah seharusnya manusia menggunakan akal budinya dengan mengedepankan sifat alturisme.

Baca Juga  Belajar Bucin dari Nam Do-san, Menjadi Partner Hidup dan Bisnis Sekaligus
Mengedepankan Sifat Altruisme

Altruisme adalah paham atau sikap yang mengedepankan kepentingan orang lain dari pada diri sendiri. Menurut Baron dan Byrne (1996) altruisme merupakan bentuk khusus dalam penyesuaian perilaku yang ditujukan demi kepentingan orang lain. Biasanya merugikan diri sendiri dan biasanya termotivasi terutama oleh hasrat untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain agar lebih baik tanpa mengaharapkan penghargaan.

Dalam ranah sosial media, perlunya netizen (sebutan untuk pengguna social media) mengedepankan sifat altruisme. Karena menurut Suler (2004) beberapa orang menjadi lebih sering dan intens untuk mengungkapkan diri ketika di ruang maya daripada di dunia nyata. Suler menyebutnya The Online Disinhibition Effect.

Kondisi internet memungkinkan seseorang lepas dari kekangan sosial dan ruang, sehingga dapat melakukan dan mengatakan sesuatu yang tidak dapat ia lakukan di dunia nyata. Maka The online disinhibition effect sebenarnya juga bisa digunakan untuk aktivitas alturisme menjadi lebih muda dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

Suler menyebutnya sebagai benign disinhhibtion effect yaitu sebuah pengaruh positif ketika seseorang di ruang maya dapat mengaktualisasi, mengembangkan diri, serta menunjukan perilaku baik yang tidak biasa. Hal ini menjadikan internet perpanjangan tangan dari alturisme yang mana disebut sebagai Digital Altruisme.

Digital Alturisme dan Pengaruhnya pada Masyarakat

Menurut Klisanin, ada tiga jenis digital alturisme yaitu everyday digital altruism, creative digital altruism dan co-creative digital altruisme.

Dalam everyday digital altruisme, seseorang terlibat di dalamya tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga dan terjangkau oleh siaapun, di manapun dan kapanpun. Contohnya seperti platform bantuan melalui system online atau bahkan aplikasi wawasan yang itu bisa diakses oleh siaiapun.

Yang kedua adalah creative digital altruism adalah wadah kreatif dengan prinsip memenuhi kewajiban moral tertinggi seseiorang, memperbaiki ketidak setaraan dan kerja sama. Creative digital altruism bisa kita lihat dengan dibuatnya karya karya yang bernilai positif dan kreatif; melalui pembuatan aplikasi atau bisa juga sekedar membuat tulisan maupun video dengan maksud untuk lebih bermanfaat bagi orang lain.

Baca Juga  Ibu, Pelukis Pelangi Toleransi Keluarga

Dan yang ketiga, co-creative digital altruisme. Adalah bentuk kerja sama global dalam menghadapi isu yang itu dapat menguntungkan umat manusia dan planet (Klisanin, 2011).  Hal ini adalah bentuk koordinasi dan kolaborasi bersama orang lain dengan maksud memberikan dampak positif.

Adanya co-creative digital altruisme ini karena kemudahan seseorang dalam mengakses informasi; dan dengan mudah dalam melakukan hubungan yang tidak dipengaruhi oleh ruang dan waktu.

Altruisme adalah prinsip manusia sebagai makhluk sosial dalam melakukan kegiatan sosial. Tidak hanya pada lingkup konvensional tetapi juga bisa ditransoformasikan pada kehidupan di dunia maya. Setiap apa yang kita perbuat pastinya memiliki pemgaruh kepada orang lain terutama jika sesuatu itu dilakukan di ranah sosial atau terbuka. Tak terkecuali di sosial media altruisme adalah prinsip yang perlu ditebarkan.

Bagikan
Post a Comment